Laporkan Masalah

PENGEMBANGAN PUPUK CAIR URIN KAMBING BUNTING DENGAN PENAMBAHAN BAWANG PUTIH (Allium sativum) SEBAGAI BIOPESTISIDA TANAMAN JAGUNG

FARRAS YULIA KIRANA, Pembimbing 1: Yuny Erwanto, S. Pt., MP., Ph. D/ Pembimbing 2: Nafiatul Umami S. Pt., MP., Ph. D

2017 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas urin kambing bunting dengan penambahan bawang putih sebagai pengendali hama dan aplikasinya pada tanaman jagung (Zea mays). Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan yang berbeda. Perlakuan T0 (urin kambing tidak bunting tanpa bawang putih), T1 (urin kambing bunting tanpa bawang putih), T2 (2,5 gram ekstrak bawang putih dan urin kambing bunting), T3 (5 gram ekstrak bawang putih dan urine kambing bunting), dan T4 (7,5 gram ekstrak bawang putih dan urine kambing bunting). Plot yang disemprot dengan urine tidak bunting digunakan sebagai kontrol. Variabel yang diteliti adalah uji karbon organik, uji nitrogen, uji sulfur, uji total fenol, intensitas serangan hama, dan persentase kerusakan daun.. Analisa statistik yang dilakukan adalah ANOVA. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola searah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil kadar karbon organik, nitrogen, sulfur, dan total fenol tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hasil pengujian lapangan kerusakan daun dan intensitas serangan hama pada hari kelima berbeda nyata (signifikan) antara perlakuan T0 dengan T1 dan perlakuan T1 dan T4. Persentase kerusakan daun dan intensitas serangan hama pada hari kesepuluh dan kelima belas adalah non signifikan. Persentase kerusakan daun tertinggi pada hari kelima adalah perlakuan T4 sebesar 70,56%. Intensitas serangan hama pada hari kelima tertinggi pada perlakuan T4 sebesar 69,18%. Bedasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa urine kambing bunting dengan penambahan bawang putih dapat digunakan sebagai pengendali hama. Perlakuan terbaik adalah T2.

This study aimed to determine the quality of pregnant goats urine with addition of garlic as a pest controller and its application in sweet corn (Zea mays). This study used five different treatments. T0 was urine of not pregnant goats and 0% garlic extract, T1 was 0 gram extracts of garlic and urine of pregnant goats, T2 was a 2,5 gram extracts of garlic and urine of pregnant goats, T3 was a 5 gram extracts of garlic and urine of pregnant goats, and T4 was 7,5 gram extracts of garlic and urine of pregnant goats. Plots were sprayed with urine of not pregnant goats were used as controls. The variables studied were organic carbon test, nitrogen test, sulfur test, total phenol test, pest attack intensity, and leaf damage percentage. Statistical analysis used ANOVA. This research used one-way anova design with three replications. Based on the research, the results of organic carbon, nitrogen, sulfur, and total phenol content was not significant between different treatments. However, the results of leaf damage percentage and pest attack intensity in the fifth day was significant different treatment between T0 with T1 and T1 with T4. The percentage of leaf damage and intensity of pest attack on the tenth and fifteenth days was non significant. The highest percentage of leaf damage of the fifth day in the T4 treatment was 70.56%. The highest intensity of pest attack on the fifth day in T4 treatment was 69.18%. Based on the results of the research that pregnant goats urine and the addition of garlic can be used as a pest control. The best treatment is T2.

Kata Kunci : Bawang putih (Allium sativum), Belalang, Biopestisida, Tanaman jagung (Zea mays), Urin kambing bunting/Garlic (Allium sativum), Grasshopper, Biopesticide, Sweet Corn (Zea mays), Urine of Pregnant Goats.

  1. S1-2017-335283-bibliography.pdf  
  2. S1-2017-335283-title.pdf