Laporkan Masalah

KAJIAN DAERAH GENANGAN TSUNAMI DENGAN PARAMETER TINGGI GELOMBANG, KEMIRINGAN PANTAI, DAN KOEFISIEN KEKASARAN PERMUKAAN (Studi Area : Pesisir Selatan Kulon Progo)

FARIKHOTUL CHUSNAYAH, Abdul Basith,S.T.,M.Si.,Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 TEKNIK GEODESI

INTISARI Potensi gempa besar di selatan Jawa memungkinkan terjadinya gelombang tsunami yang berbahaya, khususnya di wilayah Pesisir Selatan Kulon Progo dan sekitarnya. Pesisir Selatan Kulon Progo terbentang dari Pantai Baru sampai Pantai Congot dengan morfologi pantai yang relatif landai dan garis pantai yang lurus. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tsunami adalah dengan penyediaan informasi perkiraan daerah genangan (inundasi) dan run-up tsunami menggunakan parameter yakni ketinggian gelombang awal tsunami, kemiringan pantai dan koefisien kekasaran permukaan. Metode yang digunakan adalah formula kehilangan ketinggian tsunami Berryman (2006) dan taksiran cepat oleh Ananda (2013). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi dua metode tersebut terhadap run-up tsunami di darat. Penelitian ini diawali dengan melakukan pemodelan daerah genangan menggunakan formula Berryman (2006) yang melibatkan dua jenis data topografi yang berbeda yaitu Model Elevasi Digital (MED) dari data resolusi tinggi yakni citra TerraSAR-X dan resolusi rendah dari Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM). Data koefisien kekasaran permukaan diperoleh dari interpretasi visual pada Citra Pleiades. Selain itu, penelitian ini melakukan taksiran cepat menggunakan persamaan dari Ananda (2013) untuk menentukan run-up tsunami di daratan. Hasil dari perhitungan run-up Ananda (2013) dibandingkan dengan hasil Berryman untuk menentukan konsistensi model. Skenario tinggi gelombang awal di pantai adalah 4,2 meter dan 10,4 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan data MED dengan resolusi rendah menghasilkan luas genangan yang besar karena resolusi data raster tutupan lahan SRTM lebih besar 3,333 kali dibanding resolusi MED TerrSAR-X. Run-up hasil taksiran cepat menunjukkan bahwa besar kecilnya parameter yaitu ketinggian gelombang awal tsunami, kemiringan pantai, dan koefisien kekasaran permukaan mempengaruhi nilai run-up tsunami. Semakin besar ketinggian gelombang awal maka nilai run-up semakin jauh sedangkan semakin besar kemiringan pantai dan koefisien kekasaran permukaan maka nilai run-up semakin dekat. Penaksiran cepat menggunakan persamaan regresi linier hasil penelitian Ananda (2013) tidak dapat diaplikasikan di Pesisir Kulon Progo karena selisih rata-rata run-up taksiran cepat dengan model Berryman senilai 88,83%. Kata kunci : pemodelan genangan tsunami, citra satelit resolusi tinggi, TerraSAR-X, SRTM

ABSTRACT The large earthquake potential in southern Java allows particularly dangerous tsunami waves in the Southern Coastal area of Kulon Progo. Southern Coastal area of Kulon Progo extends from Baru beach to Congot beach with relatively sloping coastal morphology and a straight coastline. One possible effort to reduce the impact of the tsunami is to provide inundation and tsunami run-up information using tsunami parameters, coastal slope and coefficient of surface roughness. The method used is the Berryman (2006) tsunami height loss formula and the rapid estimate by Ananda (2013). This study aimed to determine the consistency of the two methods of the land affected by the tsunami. This research begins with modeling the inundation area using the Berryman (2006) formula related two different topographic data, the Digital Elevation Model (DEM) from high-resolution data ie TerraSAR-X image and low resolution of the Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM). Surface roughness coefficient data is obtained from visual interpretations on the Pleiades Image. In addition, this study makes a rapid assessment of the equations of Ananda (2013) to determine the run-up of tsunamis on land. The results of Ananda's run-up calculations (2013) compare with Berryman's results to determine model consistency. The initial high wave scenarios on the coast are 4,2 meters and 10,4 meters. The results of this study indicate the use of MED data with low resolution results in large puddle area because the resolution of raster land cover data SRTM larger 3,333 times than resolution MED TerrSAR-X. Run-up results of rapid assessment indicate that the magnitude of the parameters of the initial tsunami wave height, coastal slope, and coefficient of surface roughness affect the value. The greater the height of the wave, the more it goes the further and more severe. Rapid assessment using the linear regression equation of Ananda (2013) research results can not be applied in Coastal Kulon Progo because of the rapid estimation of run-up difference with Berryman model is solved 88,83%. Keywords: tsunami inundation modeling, high resolution satellite imagery, TerraSAR-X, SRTM

Kata Kunci : pemodelan genangan tsunami, citra satelit resolusi tinggi, TerraSAR-X, SRTM/sunami inundation modeling, high resolution satellite imagery, TerraSAR-X, SRTM