Laporkan Masalah

Kekerasan Terhadap Golongan Tionghoa pada Masa Revolusi di Malang, 1942 - 1945

GEZA SURYA PRATIWI, Dr. Abdul Wahid, M. Phil

2017 | Skripsi | S1 ILMU SEJARAH

Penelitian ini membahas tentang kekerasan pada masa revolusi yang menyasar pada golongan yang dianggap menerima keuntungan secara ekonomi dan politis pada masa kolonial yaitu golongan Tionghoa. Penelitian ini didasari atas sebuah pemahaman untuk melihat masa revolusi dari sudut pandang yang lain selain peperangan dan heroisme. Penelitian ini bertujuan untuk melihat akar kekerasan yang terjadi terhadap golongan Tionghoa sejak masa kolonialisme Belanda. Penelitian ini mengambil tempat kota malang. Kota Malang dipilih sebagai obyek penelitian karena kota ini merupakan kota kolonial pada masa Belanda dan mempunyai penduduk Tionghoa yang cukup tinggi. Pada masa pendudukan Jepang, golongan Tionghoa mengalami fase pencinaan kembali sehingga hubungan mereka semakin jauh dengan penduduk pribumi. Ketika pecah pertempuran Surabaya pada November 1945, tersiar kabar bahwa terdapat mata �¢ï¿½ï¿½ mata dari golongan Tionghoa yang dijuluki �¢ï¿½ï¿½Andjing Nica�¢ï¿½ï¿½. Hal inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan terhadap golongan Tionghoa karena mereka dianggap tidak mendukung jalannya revolusi. Gelombang kekerasan di kota Malang mulai meningkat semenjak Belanda mulai melancarkan Agresi Militer pertamanya pada 21 Juli 1947. Puncaknya, penculikan dan pembunuhan terhadap golongan Tionghoa terjadi ketika Belanda mulai memasuki kota Malang. Golongan yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini berasal dari kelompok �¢ï¿½ï¿½ kelompok laskar rakyat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan menggunakan sumber primer dan sekunder. Sumber �¢ï¿½ï¿½ sumber primer didapatkan dari arsip dan dokumen pada masa revolusi. Selain itu, koran �¢ï¿½ï¿½ koran dan arsip foto sezaman juga digunakan. Untuk sumber sekunder, penelitian ini menggunakan wawancara kepada pihak �¢ï¿½ï¿½ pihak terkait.

This research is discussing about the violence at the time of revolution which targeted the one who had privileges economically and politically namely Chinese. This research based on a realization to understand the revolution era in another sight besides the war. This research goal is to know the roots of violence which occurred to the Chinese since the colonial era. The field of this research took place in Malang. Malang was chosen as the object of research because of this city was popularly known as the colonial city in the time of the Dutch occupation and the huge amount of Chinese population. The Chinese in Malang under the Japanese occupation, experienced the phase of resinification that caused them in distant with indigenous people. When the battle of Surabaya occurred at November 1945, the news that mention about spy came from the Chinese has spread. They were mentioned as �¢ï¿½ï¿½Andjing Nica�¢ï¿½ï¿½. This what made the reason to do violence to Chinese because they were considered not supporting the revolutionary spirit. The sequence of violence in Malang began to rise since the Dutch executed the Police Action or mostly known as Agresi Militer Belanda I at 21st July 1945. The climax of the series of violence such as kidnapping and murdering happened when the Dutch entered Malang to occupy. The one who considered as responsible for such kind of violence came from the group of revolutionary soldiers. The method that is used in this research is historical research method which divided into primary and secondary source. The sources are obtained from the archive and document during the revolution era. Then, the newspaper and magazine according to that time are also used. For the secondary source, this research is used the interview with the related parties.

Kata Kunci : Kekerasan, Revolusi, Tionghoa, Malang

  1. S1-2017-350077-abstract.pdf  
  2. S1-2017-350077-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-350077-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-350077-title.pdf