Transformasi Arsitektur Atap Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Tahun 1905-2017)
GIFFARI ERWA GEMINTANG, Dr. Mimi Savitri, M.A.
2017 | Skripsi | S1 ARKEOLOGIObjek yang diteliti pada penelitian ini ialah atap Masjid Sultan Suriansyah yang ada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Permasalahan yang dijawab pada penelitian ini adalah bagaimana transformasi atap Masjid Sultan Suriansyah dari awal diketahui bentuknya (1905) hingga sekarang (2017) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi transformasi atap masjid tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah menyusun kronologi transformasi atap Masjid Sultan Suriansyah dari tahun 1905 hingga tahun 2017 dan mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi transformasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara. Studi pustaka dilakukan terhadap dokumen-dokumen pemugaran, laporan penelitian, dan foto-foto lama untuk mencari berbagai data dan informasi seputar pemugaran Masjid Sultan Suriansyah, khususnya pada bagian atap. Hasil dari penelitian ini adalah arstitektur atap Masjid Sultan Suriansyah pernah mengalami transformasi sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1950-an dan 1999. Tranformasi tahun 1950 terjadi karena masyarakat Banjarmasin terpengaruh dengan bentuk arsitektur masjid di Timur Tengah yang memiliki atap kubah sehingga kemudian diterapkan di masjid-masjid yang ada di Banjarmasin. Transformasi kedua tahun 1999 terjadi karena adanya proyek pemugaran besar-besaran dengan konsep rehabilitasi, yaitu mengembalikan warna dan bentuk ke bangunan semula dengan tujuan untuk menunjukkan identitas dari kebudayaan masyarakat Banjarmasin pada masa lalu.
The object of this research is the Sultan Suriansyah Mosque located in Banjarmasin, South Borneo. The concern of this research is about the transformation of mosque roof from the very first time it was recognized (1905) until today (2017), and the reason of the transformation. This research aims to draw up the transformation of the Sultan Suriansyah Mosque chronologically from 1905 until to 2017 and to conceive the background causes. The data are collected through a library research, a direct observation, and an interview. The library research is done upon the history of the restorations� documents, research reports, and old photographs to look for various data and related to the roof transformation at Sultan Suriansyah Mosque. The research finds out that Sultan Suriansyah Mosque had been transformed twice in the 1950s and in 1999. The transformation in the year 1950 was done because Banjarmasin people were influenced by the architecture from The Middle-East which has a form of its roof shaped as a dome, which later was applied to the mosques of Banjarmasin. The second transformation, in 1999, occurred because of a massive restoration project with the notion of rehabilitation which restored the features to its original form with purpose to explain the identity of Banjarmasin people culture in the past.
Kata Kunci : Kata Kunci: masjid, arsitektur, atap, transformasi, Masjid Sultan Suriansyah, identitas