Identifikasi Gejala Klinis dan Isolasi Kausatif Dermatomikosis pada Kuda di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
REYNALDO KASENDA, Dr. drh. Yuriadi, M.P.
2017 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWANLaporan kasus dermatomikosis dari PORDASI Pengurus Jawa Tengah selama tahun 2016 sebanyak 35 kasus (9.85% dari total 355 kasus penyakit pada kuda). Dermatomikosis menyebabkan stress, penurunan berat badan dan ketidakseimbangan hormon akibatnya produktivitas menurun sehingga menjadi kendala dalam upaya peningkatan populasi kuda di Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu diagnosa dan identifikasi fungi penyebab dermatomikosis melalui analisa gejala klinis, tipe lesi spesifik, lokasi lesi pada tubuh dan isolasi fungi. Lima ekor kuda diambil dari kuda yang dilaporkan mengalami dermatomikosis di Kabupaten Magelang dari bulan April sampai Juli 2016 digunakan sebagai sampel. Diagnosa dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan khusus kulit secara inspeksi dan menggunakan Wood's Lamp. Sampel kerokan kulit diambil secara aseptis kemudian sampel dimasukkan ke dalam media transport untuk dikirim ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam FKH UHM. Sampel dikultur dan diisolasi pada media Saboraud Dextrose Agar dengan inkubasi suhu 270C selama 21 hari. Identifikasi makroskopik dengan cara melihat bentuk koloni dan dengan pembuatan slide culture serta pengecatan Lactophenol Cotton Blue untuk identifikasi mikroskopik. Dua ekor kuda (2/5) atau 40% dari total lima sampel menderita dermatomikosis diakibatkan oleh Aspergillus sp dengan lesi menyebar pada bagian ekstremitas, terlihat berwarna putih karaktersitik alopesia dan krusta. Dua ekor kuda (2/5) atau 40% dari total sampel menderita dermatomikosis diakibatkan oleh Penicillium sp menunjukkan lesi alopesia, krusta dan variasi lokasi jenis lesi tipe lisenifikasi ditemukan pada regio servikalis, torakalis, aksilaris dan haircast lokasi lesi menyebar dari regio sacrocoxygeal sampai rambut ekor. Satu ekor kuda (1/5) atau 20% dari total sampel diketahui terkena dermatomikosis akibat Cryptococcus sp gejala klinis berupa pembengkakan nodul limfatikus perifer dan lesi terpusat pada bagian scapula ke arah thorax dengan lesi berupa vesikel dan perubahan pigmentasi kulit.
Dermatomycosis report from PORDASI branch of Central Java in the 2016 averaging around 35 cases or 9.85% out of total 355 diseases cases. Dermatomycosis causing stress, weight loss, and general hormone imbalance implicating productivity loss which in turn negatively impact the goal of increasing horse population in Central Java. This research aims to help diagnose the cause of dermatomycosis in Magelang through clinical signs, the specific lesions on horse, and isolation on media culture. Samples were collected from five horses reported to have dermatomycosis during April until July 2016. Diagnosis based on anamnesis, physical examination, and skin inspection via inspection and by using Wood's Lamp. Skin scrapping samples collected aseptically to be placed in transport media and sent to the Internal Medicine Laboratory FKH UGM. The samples inoculated and isolated on Saboraud Dextrose Agar media to be incubated at 270C for 21 days. Macroscopic identification based on colony structure observation and using slide culture method combined by Lactophenol Cotton Blue stain for microscopic identification. Result indicated around 2 out of 5 cases (40%) caused by Aspergillus sp exhibit characteristic of alopecia and crust with white colouring lesion spread on extremity. Another 2 out of 5 cases (40%) caused by Penicillium sp exhibit characteristic of alopecia, crust lesion with location differed, lichenification type lesion found on cervicalis, thoracalis, and axilaris alternatively hair cast lesion spread from sacrocoxygeal to tail. One case out of 5 cases (20%) caused by Cryptococcus sp exhibit inflammatory lymphatic nodes, lesion characterized by vesicle and abnormal pigmentation spread from scapula regio to thorax.
Kata Kunci : kuda, dermatomikosis, lesi, fungi