Laporkan Masalah

Pengaruh Jarak Tanam Bibit Asal Mata Tunas Tunggal terhadap Pertumbuhan dan Hasil Lima Klon Tebu (Saccharum Officinarum L.) pada Vertisol Lahan Kering

IMAM NUR HUDA, Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.;Dr. Ir. Taryono, M.Sc.

2017 | Skripsi | S1 AGRONOMI

Budidaya tebu pada vertisol lahan kering merupakan upaya untuk meningkatkan produksi tebu sebagai bahan baku gula pasir. Budidaya tebu lahan kering memerlukan cara khusus dengan sistem pindah tanam menggunakan bibit asal mata tunas tunggal serta pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mempengaruhi persaingan antar tanaman pada penggunaan unsur hara, air, penyerapan cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Faktor lain yang perlu diperhatikan pada budidaya tebu lahan kering yaitu pemilihan klon yang ditanam. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui jarak tanam terbaik suatu klon pada sistem pindah tanam bibit tebu asal mata tunas tunggal pada vertisol lahan kering. Percobaan dilakukan di Desa Dengok Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan November 2014 sampai September 2015. Perlakuan tersusun oleh 2 faktor yaitu jarak tanam dan klon. Faktor jarak tanam terdiri dari empat aras: (1) 30 cm x 100 cm; (2) 45 cm x 100 cm; (3) 60 cm x 100 cm; dan (4) 75 cm x 100 cm . Faktor klon tebu terdiri dari lima aras: (1) Bululawang, (2) Kidang Kencana, (3) PS 864, (4) PS 881, dan (5) VMC. Perlakuan disusun dengan rancangan acak kelompok lengkap. Data pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam, apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut Scott-Knott dengan α 5%.Tidak terjadi interaksi antara klon dengan jarak tanam yang digunakan pada budidaya tebu dengan bibit asal mata tunas tunggal pada vertisol lahan kering. Budidaya tebu pada vertisol lahan kering dengan bibit asal mata tunas tunggal paling baik menggunakan klon PS 881 dan jarak tanam 30 cm x 100 cm.

The cultivation of sugarcane in vertisol dry land is one of effort to increase the yield of sugarcane as sugar raw material. The cultivation of sugarcane in vertisol dryland requires special method with transplanting system using single bud seedling and plant spacing., Plant spacing affects the competition between plants using nutrient, water, sunlight, and growing space. Another important factor is the selection of clones. This research was conducted to determine the best plant spacing of a clone in the transplanting system of sugarcane from single bud chips in vertisol dryland. The experiment was conducted in Dengok Village, Playen District, Gunung Kidul Regency of Yogyakarta Special Region from November 2014 to September 2015. The treatments consists of 2 factors : plant spacing and clones. The plant spacing factor consists of four levels: (1) 30 cm x 100 cm; (2) 45 cm x 100 cm; (3) 60 cm x 100 cm; And (4) 75 cm x 100 cm. The sugarcane clone factor consists of five levels: (1) Bululawang, (2) Kidang Kencana (3) PS 864, (4) PS 881, and (5) VMC. The treatments are arranged in a randomized complete block design. The observed data were analyzed using variance analysis, and if there was real difference, a further test of Scott-Knott was done with α 5%. There is no interaction between clones with plant. The best cultivation of sugarcane on vertisol dryland with seedling from single bud chips using PS 881 and 30 cm x 100 cm plant spacing.

Kata Kunci : vertisol lahan kering, jarak tanam, klon,pertumbuhan, hasil

  1. S1-2017-296312-abstract.pdf  
  2. S1-2017-296312-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-296312-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-296312-title.pdf