PERLAWANAN MASYARAKAT LOKAL TERHADAP PEMBANGUNAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH (Studi di Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten)
MUFIDATUL KHASANAH, Dr. Suharko, S.Sos., M.Si.
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPerlawanan masyarakat lokal terhadap pembangunan Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) maupun Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) merupakan fenomena yang banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Penambahan volume sampah yang semakin meningkat setiap harinya membuat Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Kabupaten Klaten memiliki tugas yang berat dalam penanganan sampah. Tersedianya lahan yang telah ada tidak lagi cukup untuk menampung sampah karena salah satu lahan, yaitu TPA Jomboran, telah ditutup oleh masyarakt sekitar. Untuk itu dibutuhkan lokasi baru yang dapat menampung sampah-sampah yang telah lama tidak tertangani. Namun persoalan pencarian tersebut juga mendapat perhatian khusus dari masyarakat di sekitar lokasi yang djadikan sebagai calon TPAS di Desa Troketon, Kecamatan Pedan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dan alasan dari perlawanan masyarakat sekitar TPA Sampah Troketon. Serta upaya dari perlawanan mayarakat lokal terhadap kebijakan pembangunan dari Pemerintah Kabupaten. Penelitian ini dilakukan di Desa Troketon, Desa Kaligawe, dan Desa Kalangan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan melibatkan 11 informan. Penyebab dari perlawanan masyarakat sekitar TPA Sampah Troketon berupa pengalaman akibat pencemaran lingkungan yang pernah terjadi sebelumnya. Selain itu juga disebabkan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak yang akan mereka terima di kemudian hari. Permasalahan kelestarian lingkungan juga menjadi prinsip mereka untuk melawan sebab mayoritas masyarakat memiliki profesi di bidang pertanian. Untuk itu masyarakat sekitar TPA Sampah melakukan tindakan kolektif sebagai upaya mendesak perubahan pada kebijakan pemerintah. Upaya perlawanan yang dilakukan masyarakat berupa tindakan non violence (non kekerasan) berupa pemasangan spanduk di sekitar daerah aliran sungai dan juga demonstrasi yang dilakukan di kantor-kantor Pemerintah Daerah. Adapun upaya perlawanan ini tidak terlepas dari hadirnya bebeapa aktor maupun jejaring aktor yang mampu mengkoordinasikan jalannya perlawanan masyarakat sekitar TPA Sampah Troketon.
The local community's resistance to the development of the Final Disposal Site (TPA) and the Final Waste Processing Site (TPAS) is a phenomenon that occurs in many regions in Indonesia. The increasing volume of garbage each language makes the regional government especially the Government of Klaten District has a so-called in garbage work. The availability of existing land is enough to accommodate the waste because one of the land, namely TPAJomboran, has been closed by the surrounding community. For that it takes a new location that can accommodate waste that has not been handled. However, the situation also received special attention from the community around the location that made TPAS candidate in the village of Troketon,Pedan District. This study aims to determine the causes and reasons of the community around the landfill Rubbish Troketon. In addition efforts from local community resistance to government development policies. The research was conducted in Troketon Village, Kaligawe Village, and Kalangan Village, Pedan District, Klaten District. The approach used is qualitative descriptive involving 11 informants. The cause of community resistance around the TPAS Troketon is the experience of environmental pollution that has happened before. It is also caused by public concern about the impact they will receive in the future. The problem of environmental sustainability is also their principle to fight because the majority of people have professions in agriculture. For that the people around TPAS has performed collective action as an urgent effort of change on government policy. Resistance efforts by the community in the form of non violence in the form of installation of banners around the watershed and also demonstrations conducted in local government offices. The efforts of this resistance cannot be separated from the presence of some actors and network of actors who are able to coordinate the course of community resistance around the TPAS Troketon.
Kata Kunci : kebijakan pembangunan, TPA Sampah, pencemaran lingkungan perlawanan masayarakat, tindakan kolektif, non kekerasan