Laporkan Masalah

MAKNA PERAN GENDER BAGI SUAMI PESERTA PROGRAM LAKI-LAKI PEDULI DI GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

INGGRIANI LEILA ROOSI, Wenty Marina Minza, Dr., M.A.

2017 | Skripsi | S1 PSIKOLOGI

Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal itu merupakan ekses dari budaya patriarkhi. Budaya patriarkhi itu muncul karena adanya pembagian peran gender yang menyebabkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki peran publik dan perempuan memiliki peran domestik. Budaya seperti itulah yang tumbuh dalam budaya tradisional Jawa. Gunungkidul termasuk dalam wilayah yang menganut budaya Jawa serta memiliki angka KDRT yang tinggi. Program Laki-Laki Peduli dari Rifka Annisa Women Crises Center hadir di Gunungkidul untuk mengedukasi para pasangan mengenai konsep laki-laki baru. Program tersebut ingin mendorong para suami di Gunungkidul untuk mengubah identitas karakteristik mereka sesuai dengan maskulinitas positif. Hal itu berarti ada benturan antara konsep yang dibawakan Program Laki-Laki Peduli dengan konsep yang sudah dimiliki oleh mereka sebelumnya (konsep gender tradisional). Fenomena itulah yang diangkat dalam penelitian ini. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini melibatkan dua subjek yang merupakan alumni Program Laki-Laki Peduli. Penelitian ini berusaha memahami makna psikologis peran gender bagi para subjek setelah mereka mengalami benturan konsep peran gender di dalam diri mereka. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dengan para subjek dan triangulasi data (subjek dan waktu) dengan istri para subjek. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peran gender sesuai konsep laki-laki baru dapat muncul pada diri subjek jika keadaannya terdesak atau tidak punya pilihan. Keadaan terdesak yang dimaksud adalah situasi-situasi tuntutan ekonomi-sosial dan dorongan diri pribadi untuk mengatasi situasi-situasi tersebut.

The most common form of violence against women in Indonesia is domestic violence as an excess of patriarchal culture. The culture of patriarchy that produced by gender based labor division leads to inequality between men and women. Men belong to public role and women belong to domestic role. Javanese traditional culture also has that kind of culture. Gunungkidul is a region that embraces the culture of Java and has a high number of domestic violence. Program Laki-Laki Peduli of Rifka Annisa Women Crises Center comes to Gunungkidul to educate couples about the concept of the new men. The program encourages husbands in Gunungkidul to change their characteristic identity to fit the positive masculinity. That means there is a conflict between the new men concepts with the concept that has been owned by them before (traditional concept of gender). This study will discuss about that phenomenon. Through qualitative method and phenomenological approach, this study involved two subjects who are alumni of Program Laki-Laki Peduli. This study aims to understand the psychological meaning of the subjects' gender role after experiencing the clash of two different gender role concepts. The data were collected through semi-structured interview with the subjects and data triangulation (subject and time) with the wives of the subjects. The results of this study showed that gender role of new men concept can emerge if subjects face the circumstances "forced". Circumstances forced in this context are situations of socio-economic demands and personal motivations to cope with such situations.

Kata Kunci : Psychological meaning, gender role, masculinity, Javanese culture, new men

  1. S1-2017-329397-abstract.pdf  
  2. S1-2017-329397-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-329397-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-329397-title.pdf