Laporkan Masalah

RETREAT CENTER DENGAN PENDEKATAN PERMAKULTUR DI YOGYAKARTA

DEVI ANGGARWATI, Dr. Ir. Budi Prayitno, M. Eng

2017 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia pada tahun 2013, menyebutkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 1,7 per mil. Provinsi DI Yogyakarta menempati peringkat pertama dengan prelevansi sebesar 2,7 per mil. Data juga menyebutkan bahwa prelevansi ganguan mental emosial yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan pada penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas sebesar 6% atau sekitar empat belas juta orang. Provinsi DI Yogyakarta menduduki peringkat ke-4 dengan prevalensi gangguan mental emosial sebesar 8,1%. Data lain menyebutkan bahwa gangguan jiwa termasuk dalam satu dari sepuluh penyakit terbanyak yang didiagnosis pada pasien rawat jalan di rumah sakit di DI Yogyakarta. Dalam psikologi terdapat istilah coping, yang merupakan suatu proses dimana individu mencoba untuk mengatur kesenjangan persepsi antara tuntutan situasi yang menekan dengan kemampuan tiap-tiap individu sendiri dalam memenuhi tuntutan tersebut. Menurut penelitian strategi coping berperan penting dalam jenis dari respon daripada stres itu sendiri sehingga gejala dan komplikasi stres dapat diatasi dengan strategi yang tepat. Untuk itu, perancangan Retreat Center di DI Yogyakarta diajukan supaya menjadi wadah dan sarana bagi penderita gangguan jiwa ringan sehingga tingginya prevalensi gangguan jiwa pada daerah sekitar DI Yogyakarta dapat teratasi. Retreat center adalah suatu tempat dimana orang-orang dapat tinggal sementara dalam beberapa waktu singkat untuk berdoa, belajar, dan beristirahat. Dengan menggunakan permakultur sebagai pendekatan, dimana permakultur adalah sebuah filosofi dan gaya hidup mengenai keberlanjutan (sustainability) yang mengintegrasikan komponen-komponen yang berbeda seperti; pengetahuan ekologis (menginterkoneksikan proses alam yang terjadi di alam); kemampuan individu untuk merancang sistem produktivitas seperti agrikultur, peternakan, perkebunan; penggunaan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan; dan kesadaran untuk bekerja sama dengan budaya dan lingkungan lokal (sekitar).

According to a data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2013, says that the prevalence of severe mental disorders in Indonesia's population is 1.7 per mile. DI Yogyakarta Province ranked first with a prelevance of 2.7 per mile. The data also mentions that the prelevance of emotional mental disorders are shown by symptoms of depression and anxiety in the Indonesia����¯�¿�½������¢������¯������¿������½������¯������¿������½s population of aged 15 to above by 6% or about fourteen million people. DI Yogyakarta Province ranked 4th with prevalence of emotional mental disorder of 8.1%. Other data mention that mental disorder is included in one of the top ten diseases that are diagnosed in outpatients in hospitals in DI Yogyakarta. In scope of psychology, there is a term called coping, which is a process whereby one individual tries to regulate the perception gap between the demands of a stressful situation with the ability of each individual to fulfill the demands. According to research coping strategies play an important role in the type of response rather than stress itself so that the symptoms and complications of stress can be overcome with the right strategy. Therefore, designing Retreat Center located far from the heart of Yogyakarta is proposed as a space and a means for people with mild mental disorders so that the prevalence of mental disorders in DI Yogyakarta can be resolved and reduced. Retreat center is a place where people can stay temporarily in a short time to pray, study, and rest. Using permaculture as an approach, where permaculture is a philosophy and lifestyle of sustainability that integrate different components such as; ecological knowledge (interconnecting natural processes occurring in nature); the ability of individuals to design productivity systems such as agriculture, livestock, plantation; usage of appropriate technology and environmentally friendly; and awareness to work with local culture and environment. The retreat center also provides restaurant where owners could generate products from permaculture garden and lodges to accomodate activities of guests.

Kata Kunci : Gangguan Jiwa, Coping Stress, Yoga, Retreat Center, Permakultur.