Modal Sosial dalam Gerakan Penolakan terhadap Penambangan Pasir dan Batu Merapi di Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
NOVIYATUL MAGFIROH, Dr. Suripto, A.Md., S.I.P., MPA.
2017 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Permasalahan penambangan pasir dan batu Merapi merupakan permasalahan yang kompleks dan sangat membutuhkan keterlibatan dari pemerintah. Salah satu desa yang dijadikan ajang eksploitasi penambangan pasir dan batu Merapi yang ilegal dan tidak bertanggung jawab adalah Desa Keningar. Namun masyarakat Desa Keningar tidak merasakan kehadiran pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu mereka melakukan gerakan penolakan terhadap penambangan pasir dan batu Merapi yang ada di desa mereka. Gerakan tersebut kemudian mencapai keberhasilannya karena mereka mampu mengubah kondisi sebelumnya yang cukup parah, menjadi kondisi saat ini yang jauh lebih baik. Muncul hipotesis bahwa keberhasilan dari gerakan tersebut dipengaruhi oleh modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Desa Keningar. Penelitian ini mencoba untuk melihat bagaimana bentuk modal sosial masyarakat Desa Keningar dalam gerakan penolakan terhadap penambangan pasir dan batu Merapi, dan bagaimana modal sosial mempengaruhi efektivitas gerakan penolakan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dilakukan di Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial sangat mempengaruhi gerakan. Bentuk modal sosial tersebut yaitu kepercayaan, nilai, norma, dan jaringan yang menjadi sumber daya dan kekuatan bagi gerakan masyarakat dalam menghadapi permasalahan pertambangan. Kepercayaan menjadi modal sosial yang mendasar karena gerakan penolakan ini dapat terwujud dengan adanya rasa saling percaya antar masyarakat satu dengan yang lainnya yang kemudian memunculkan proses interaksi yang baik. Nilai dan norma yang bernuansa lingkungan dengan didukung oleh kearifan lokal masyarakat menjadi suatu pedoman bagi masyarakat dalam melakukan gerakan. Jaringan yang terbentuk baik secara internal maupun eksternal memberikan kekuatan bagi gerakan. Selain itu temuan dilapangan juga menjelaskan bahwa modal sosial tersebut mempengaruhi efektivitas gerakan penolakan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya hubungan yang sinkron antara variabel yang mempengaruhi gerakan sosial dengan modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Desa Keningar dalam gerakan ini. Sehingga penjagaan dan penguatan terhadap modal sosial sangat penting untuk membantu penyelesaian suatu permasalahan sosial.
The problem of sand and rock mining of Merapi is a complex problem and needs the urgency of government involvement. One of the villages used as a site for exploitation of illegal and irresponsible sand and rock mining of Merapi is Keningar Village. But the Keningar Village community does not feel the government's presence in overcoming the problem. Therefore they made a rejection movement against sand and rock mining of Merapi in their village. The movement then achieved its success because they were able to change the previous conditions which are quite severe become a condition that is much better now. There is a hypothesis that the success of the movement is influenced by the social capital owned by the Keningar Village community. This research tries to see how the social capital of Keningar Village community in the movement of rejection at sand and rock mining of Merapi, and how social capital influences the effectiveness of the denial movement. The method that used in this research is qualitative with case study approach and conducted in Keningar Village, Dukun Subdistrict, Magelang Regency, Central Java Province. The results show that social capital greatly influences the movement. The form of social capital is the trust, value, norms, and networks that become resources and power for the community movement to face mining problems. Trust becomes a fundamental social capital because the movement of rejection can be realized by the mutual trust between people with each other which then led to a good interaction process. Environmental values and norms supported by local wisdom of society become a guideline for society in doing the movement. Networks formed both internally and externally provide power for movement. In addition, the findings also explain that social capital affects the effectiveness of the rejection movement. This is indicated by the synchronous relationship between the variables affecting social movements with social capital owned by the Keningar Village community in this movement. So that the guarding and strengthening of social capital is very important to help solve a social problem. Keywords: social capital, social movement, mining, environmental damage
Kata Kunci : modal sosial, gerakan sosial, pertambangan, kerusakan lingkungan / social capital, social movement, mining, environmental damage