Laporkan Masalah

ASPEK KERUANGAN DALAM SURGA SUNGSANG KARYA TRIYANTO TRIWIKROMO: TINJAUAN PASCAKOLONIAL

RISMA NUR RAHMAWATI, Prof. Dr. Faruk. S.U.

2017 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Penelitian ini menguraikan aspek-aspek keruangan di dalam novel Surga Sungsang karya Triyanto Triwikromo. Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana ruang digambarkan dalam Surga Sungsang dan kedua bagaimana hubungan ruang dengan wacana kolonial. Untuk menjawab masalah tersebut penelitian ini menggunakan teori Sara Upstone dengan bukunya berjudul Spatial Politics in the Postcolonial Novel. Menurut Upstone ruang direpresentasikan melalui tempat. Akan tetapi, tidak berhenti disitu saja sebab ruang memiliki makna yang lebih filosofi dari sekedar tempat. Penelitian ini berjenis kualitatif yaitu dengan menganalisis kalimat maupun dialog antara tokoh yang berhubungan dengan ruang dan pascakolonialisme. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ruang heterogen yang dibangun oleh Syekh Muso di kampung di ujung tanjung berusaha digoyahkan oleh Syekh Bintoro yang berasal dari kota agar menjadi homogen. Usaha menggoyahkan ruang tersebut dilakukan dengan tujuan agar kampung dapat dikuasai oleh Syekh Bintoro dan keturunanya. Namun, upaya tersebut tidak sepenuhnya berjalan lancar, sebab Syekh Muso dapat menembus dunia gaib dan dunia nyata sebagai bentuk perlawanan terhadap Syekh Bintoro dengan menolak batas yang akan menghomogenkan kampung. Kampung menjadi post-space bagi ruang Syekh Bintoro. Selain Abu Jenar sebagai keturunan Syekh Bintoro, muncul tokoh lain bernama Teratai Hijau yang akan merubah kampung menjadi resort. Kaitan ruang dengan kolonial terlihat dari upaya tokoh-tokoh dalam Surga Sungsang yang terus melakukan perlawanan terhadap Teratai Hijau sebagai representasi Barat. Misalnya saja terlihat dari tokoh Syekh Muso yang diceritakan tidak meninggal dan hanya moksa dari kampung di ujung tanjung. Kehancuran kampung juga tetap menyisakan dua laba-laba yang disinyalir adalah Kiai Siti dan Kuffah anaknya. Walaupun kampung berhasil dihancurkan oleh Teratai Hijau tetapi melalui tokoh-tokoh yang tetap berusaha mempertahankan kampung menjadi heterogen menyiratkan bahwa pengarang menolak wacana kolonial.

This research described the spatial aspects in Surga Sungsang novel By Triyanto Triwikromo. There were two problem statements in this research: how is the space represented in Surga Sungsang novel and how is the relationship between space and colonial discourse. To answer those problems, Sara Upstone�s theory was used with her book entitled Spatial Politics in the Postcolonial Novel. Space, according to Upstone, is represented through place. However, it does not stop there because the space choosen a more philosophical meaning than place. This study was a qualitative research analyzing sentences and dialog between the characters related to space and post-colonialism. The result of research showed that heterogeneous spaces built by Syekh Muso in village ujung tanjung tried to be shaken by Syekh Bintoro coming from the city in order to be the homogeneous ones. The attempt of shaking those spaces was taken to make the village ujung tanjung was mastered by Syekh Bintoro and his descendant. However, this attempt did not run smoothly, as Syekh Muso could penetrate into invisible and visible worlds as the resistance against Syekh Bintoro by declining the borders that will homogenize the village. Village became post-space for Syekh Bintoro. In addition to Abu Jenar as the descendant of Syekh Bintoro, a character named Teratai Hijau appeared to change the village into resort. The relationship between space and colonial discourse could be seen from the attempt of character in Surga Sungsang who kept resisting Teratai Hijau as Western representation. For example, it could also be seen from Syekh Muso said as not passing away but only moksa (getting out) from village. The destruction of village remained to leave two spiders assumed to be Kiai Siti and Kufah (his daughter). Although village was destructed successfully by Teratai Hijau, it kept maintaining the village heterogeneous through the characters, implying that the author declined the colonial discourse.

Kata Kunci : Sara Upstone space, Post-Space, Invisibility, and colonial

  1. S2-2017-389076-abstract.pdf  
  2. S2-2017-389076-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-389076-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-389076-title.pdf