Taman Pembelajaran Energi Terbarukan di Pantai Baru, Pandansimo, Bantul Dengan Pendekatan Arsitektur Bioklimatik
VIRGINIA, Ir. Jatmika Adi Suryabrata, M.Sc, Phd
2017 | Skripsi | S1 ARSITEKTURKrisis energi merupakan fenomena menipisnya persediaan energi di bumi akibat pemakaian energi secara berlebihan. Di Indonesia, fenomena tersebut dapat dilihat dari menurunnya cadangan dan produksi dari minyak bumi (energi tidak terbarukan) sebesar 10% setiap tahunnya namun konsumsi minyak bumi meningkat 6% setiap tahunnya serta tidak terpenuhinya kebutuhan listrik sebesar 1.000 MW setiap tahunnya karena sumber daya tidak mencukupi. Melihat adanya krisis energi di Indonesia, pemerintah kemudian mencanangkan program efisiensi dan baur energi di mana penggunaan energi tidak terbarukan mulai diganti dengan energi terbaru seperti biogas dan hibrid secara perlahan. Namun, program tersebut belum mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan mengenai program maupun mengenai energi terbarukan sendiri. Solusinya, pemerintah kemudian mulai mengadakan sosialisasi mulai dari terjun ke lapangan untuk mengedukasi warga dan membangun alat pengolah energi hingga mendirikan sarana pembelajaran permanen berbasis edukasi rekreasi. Taman Pembelajaran dapat menjadi media sosialisasi yang tepat untuk menjembatani permasalahan tersebut. Salah satu lokasi pendirian taman pembelajaran yang dilakukan pemerintah terdapat di Pantai Baru, Bantul yang menjadi lokasi pengembangan energi hibrid dan biogas. Namun, dikarenakan minim fasilitas dan manajemen taman pembelajaran yang tidak tertata wisatawan enggan mampir. Sampai tahun 2016, taman pembelajaran hanya dikunjungi oleh mahasiswa PKL maupun para peneliti. Untuk menarik minat wisatawan dan mengembangkan proses sosialisasi berbalut edukasi diperlukan sebuah desain taman pembelajaran yang compact dan terintegrasi dengan baik terhadap kawasan. Arsitektur bioklimatik sebagai langgam arsitektur yang mengedepankan keselarasan dengan alam dan pengembangan desain berbasis iklim setempat kemudian dikembangkan untuk diterapkan dalam desain bangunan. Tujuannya adalah menjadikan Taman Pembelajaran sebagai kesatuan elemen hidup di mana keseluruhan elemen di dalam kawasan dapat menjadi media pembelajaran secara langsung tentang bagaimana efisiensi energi dapat diterapkan serta penggunaan energi terbarukan dalam bangunan dan apa dampak yang dirasakan setelahnya.
Energy crisis is a phenomenon of depletion of energy supplies on earth due to excessive use of energy. In Indonesia the phenomenon can be seen from the decline of reserves and production of petroleum (non-renewable energy) by 10% annually yet the consumption of petroleum is increasing 6% annually and also the unmet demand for electricity is 1.000 MW per year due to insufficient resources. To cope with that the government has launched a program of energy efficiency and mixed energy where the use of non-renewable energy is slowly being replaced with the latest energy such as biogas and hybrid. However, the program has not received full support from the citizen. One of the reasons is the lack of knowledge of the government program and about renewable energy itself. Therefore, the government has started some socialization programs from field to field to educate citizen and also build energy processing equipment as educational-based learning facilities. Then the government come up with an idea to build an educational park which seen as an appropiate socialization medium to bridge the problem. One of the founding locations of the educational park is located in Pantai Baru, Bantul, where the center of hybrid energy and biogas were developed. However, due to inadequate facilities and lack of management of the educational park tourists are reluctant to stop by. Until 2016, the educational park are only visited by street vendors and researchers. Therefore, to attract tourist and develop a well-educational environment to success the socialization program a compact and integrated design of educational park with the region is required. Then, bioclimatic architecture as an architectural style that not only promotes the harmony between the building and its surrounding environment but also the development of local climate-based design seen as a perfect match to be applied on site. The goal is to make the educational park as a unified element of life in which all elements within the region can be a direct learning medium on how energy efficiency can be applied as well as the use of renewable energy in the building and what impacts are felt thereafter.
Kata Kunci : Taman Pembelajaran, Arsitektur Bioklimatik, Energi Terbarukan, Efisiensi Energi