Laporkan Masalah

Kualitas Aksesibilitas dan Rasionalitas Pilihan Mobilitas Masyarakat di Kabupaten Sleman

NASTITY NARISWARI, Retno Widodo Dwi Pramono, ST., M.Sc., Ph.D

2017 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Masyarakat memenuhi kebutuhannya dalam rangka mencapai kesejahteraan. Kebutuhan masyarakat berupa layanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta lokasi kerja tergambarkan dalam struktur ruang. Kemudahan masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan diukur dengan kualitas aksesibilitas. Efisiensi pergerakan akan mewujudkan kualitas aksesibilitas yang baik. Di Kabupaten Sleman distribusi kualitas fasilitas khususnya pendidikan kurang merata. Sekolah yang berkualitas bagus teraglomerasi di perkotaan Yogyakarta dan kurang dapat dijangkau oleh masyarakat Kabupaten Sleman. Adanya titik kemacetan yang semakin parah merupakan indikasi kualitas aksesibilitas yang rendah. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan menggunakan dua kuesioner dimana kuesioner pertama berisi pertanyaan terkait dengan pola pergerakan dan kuesioner kedua yang terkait dengan perspektif masyarakat dalam pemenuhan 40 aset. Kualitas aksesibilitas diukur dengan metode skoring terhadap jawaban responden pada kuesioner kedua. Metode yang sama juga dilakukan untuk mengukur kesejahteraan atau kualitas hidup masyarakat. Data yang didapat dari kuesioner pertama digunakan dalam mendeskripsikan pola dan pilihan pergerakan serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas aksesibilitas berdasarkan aspek keruangan. Penentuan faktor pengaruh kualitas aksesibilitas dilakukan dengan metode ststistik SPSS Analisis Faktor. Penentuan jumlah sampel kuesioner secara purposive sampling dengan 3 kecamatan yang diambil yaitu Kecamatan Mlati, Depok, dan Ngaglik. Ketiga kecamatan ini yang memiliki kepadatan penduduk serta keberagaman aktivitas yang tinggi sehingga dapat merepresentasikan karakteristik masyarakat Kabupaten Sleman. Temuan dalam penelitian ini bahwa kualitas aksesibilitas menuju fasilitas pelayanan di Kabupaten Sleman masih tergolong rendah yang diukur dengan Indeks Kapablitas sebesar 0,215. Kontribusi terbesar dari rendahnya kualitas aksesibilitas yaitu buruknya kualitas dan kuantitas sarana transportasi publik sebagai sarana pergerakan. Kualitas aksesibilitas yang masih rendah berdampak pada kualitas kesejahteraan yang masih rendah pula dengan Indeks Kapabilitas 0,129. Faktor-faktor terkait struktur ruang yang berpengaruh terhadap kualitas aksesibilitas menuju fasilitas pendidikan, kesehatan, komersil, serta lokasi kerja secara umum yaitu jarak fasilitas, intensitas kemacetan, serta waktu tempuh. Dalam mewujudkan pergerakan yang efisien, masyarakat dihadapkan pada pilihan-pilhan terkait pergerakan yaitu pilihan dalam memili lokasi fasilitas yang dibutuhkan, moda yang digunakan, serta pemilihan rute yang dilewati. Pemilihan tersebut didasarkan pada subyektifitas masyarakat dengan pertimbangan keuntungan maksimal yang diperoleh. Kondisi struktur ruang tidak mendukung terwujudnya kualitas aksesibilitas yang baik khusunya dalam mengakses layanan pendidikan.

People meet their needs to achieve welfare. The needs of people are education, health, and economic services, as well as work location, which are described in spatial structure. The opportunity of people in getting their needs was measured by quality of accessibility. Efficiency of mobility will create good quality of accessibility. In Sleman Regency, distribution of quality facilities, especially education, is not even. Good quality schools are agglomerated in urban Yogyakarta and not very accessible for people of Sleman regency. Worsening traffic is an indication of poor quality of accessibility. In this study, data collection used two questionnaires. The first questionnaire contains questions on pattern of mobility and the second questionnaire is related to perspective of people in meeting 40 assets. Quality of accessibility was measured by scoring method on the answers of respondents answers also used to measure welfare of people or quality of life. Data from the first questionnaire was used in describing pattern and choice of mobility and factors influencing quality of accessibility based on spatial aspect. Factors influencing quality of accessibility were determined by SPSS Analysis statistical method. Questionnaire samples were determined by purposive sampling in 3 sub-districts, i.e. Mlati, Depok, and Ngaglik Sub-Districts. These sub-districts have high population density and variety of activity, so they could represent the characteristics of people of Sleman Regency. The study found that quality of accessibility to service facilities in Sleman Regency was low in terms of Capability Index (0.215). The biggest contributor of low quality of accessibility was poor quality and quantity of public transports as means of mobility. Poor quality of accessibility led to poor quality of welfare with Capability Index of 0.129. Factors related to spatial structure which influenced the quality of accessibility to education, health, and commercial facilities, as well as work location in general were distance of facility, intensity of traffic, and travelling time. To create efficient mobility, people faced choices in terms of mobility, i.e. choices of location of required facility, mode to use, and route. The selections were based on the subjectivity of people by considering maximum benefit to gain. The condition of spatial structure did not support good quality of accessibility, especially in accessing education services.

Kata Kunci : Pola pergerakan (mobilitas), aksesibilitas, rasionalitas pilihan, kesejahteraan/Mobility pattern, accessibility, choice rationality, welfare

  1. S1-2017-347580-abstract.pdf  
  2. S1-2017-347580-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-347580-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-347580-title.pdf