Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA RESILIENCE DENGAN STRES PADA PENYALAH GUNA NAPZA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DIANA NURLAILA SARI, Sri Warsini, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D; Dr. dr. Carla R. Marchira, Sp. KJ (K)

2017 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATAN

Latar belakang : Penyalahgunaan NAPZA merupakan permasalahan seluruh bangsa yang dapat membawa dampak buruk terhadap fisik, mental, dan sosial ekonomi. Stres dan ketidakmampuan mengendalikan diri terhadap tekanan kehidupan dapat menjadi penyebab seseorang menyalahgunakan NAPZA. Penyalah guna NAPZA dapat dijatuhi hukuman pidana dengan di masukkan ke lembaga pemasyarakatan untuk mendapatkan pembinaan. Terbatasnya interaksi dengan lingkungan luar serta rasa bosan terhadap rutinitas pembinaan menjadi stresor bagi penyalah guna NAPZA yang tinggal di lapas. Mereka membutuhkan kemampuan untuk mengatasi stres agar tetap bertahan dalam menghadapi kesulitan dan tekanan hidup serta bertahan untuk tidak kambuh kembali menggunakan NAPZA yang disebut dengan resilience. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan resilience dengan stres pada penyalah guna NAPZA di Lapas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimen dengan jenis analitik korelasional, dan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari 2017 kepada 80 orang penyalah guna NAPZA di Lapas Narkotika Klas II A Yogyakarta dan Lapas Klas II A Wirogunan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan kuesioner resilience menurut Gortberg yang dimodifikasi dan kuesioner skala stres. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil Penelitian : Tingkat resilience responden berada pada kategori rendah (58,75%, mean±SD=164±18,3) dan tingkat stres pada kategori sedang (62,5%, mean±SD=70,68±15,6). Uji statistik terbukti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara resilience dengan stres (korelasi Pearson = -0,540, p value = 0,000). Kesimpulan : Terdapat hubungan negatif antara resilience dengan stres pada penyalah guna NAPZA di Lapas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Background: Drug abuse is crucial issues of all nations and making negative impact for physical, mental, and socio-economic. Stress and inability to develop self control against pressures of life can be the cause of someone abusing drugs. Drug abuse is a criminal offense and drug users after found guilty are rehabilitated and nurtured in correctional facility. Limited interaction with the outside environment and the boredom of the coaching routine become stressors for drug abusers living in correctional facility. They need an ability to cope with stress in order to survive during facing difficulties and stress of life and not uses drug else called resilience. Objective: Understanding association among resilience and stress for drug users in correctional facility of Yogyakarta Province Method:This study is non-experimental quantitative study, with type of study was correlational analytic correlation, and study design cross-sectional. Study has been conducted on February 2017 and followed by 80 respondent in The 2nd A Class of Narcotics Correctional Facility in Yogyakarta and The 2nd A Class of Drug Correctional Facility in WirogunanYogyakarta. Collecting data used resilence questionaire (modification of Gortberg) and stress scale questionaire. Data analysis used Pearson correlation test. Result: Level of resilience for respondent were low (58,75%, mean±SD=164±18,3) and middle stress level(62,5%, mean±SD=70,68±15,6). Based statistical test showed significant association between resilience and stress (Pearson correlation = -0,540, p value = 0,000). Conclusion: Stress and drug abuse making negative association in correctional facility of Yogyakarta Province

Kata Kunci : Penyalah guna NAPZA, resilience, stres, lapas/Drug Abuse, Resilience, Stress, Correctional Facility

  1. S1-2017-346545-abstract.pdf  
  2. S1-2017-346545-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-346545-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-346545-title.pdf