Laporkan Masalah

DERMATOSIS AKIBAT KERJA PADA PEKERJA BATIK TRADISIONAL (Kajian Faktor Risiko pada Pekerja Batik Tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta)

ERDINA, Dr. dr. Niken Indrastuti, Sp.KK(K).; dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes., Sp.KK., Ph.D

2017 | Tesis-Spesialis | SP ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

Latar Belakang: Proses pembuatan batik melibatkan kontak dengan berbagai bahan, proses dan lingkungan yang memungkinkan terjadinya dermatosis akibat kerja (DAK). Dermatosis Akibat Kerja dapat mempengaruhi produktivitas kerja dan kualitas hidup pekerja batik. Tujuan: Mengetahui tahapan kerja yang paling banyak menyebabkan DAK, serta faktor risiko DAK, dan mengetahui jenis pemeka yang menyebabkan DKO pada pekerja batik di DIY. Metode: Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan rancangan studi potong lintang. Diagnosis DAK ditegakkan berdasarkan anamnesis dan wawancara dengan kuesioner Nordic Occupational Skin Questionaire-LONG 2002, serta pemeriksaan fisik. Faktor risiko dianalisis dengan uji chi-square serta analisis multivariat regresi logistik. Pada subjek yang menderita DKO dilakukan uji tempel menggunakan alergen seri standar, tekstil dan alergen yang berasal dari lingkungan kerja. Hasil: Jumlah subjek penelitian sebanyak 222 subjek, yang bekerja pada 16 UKM batik di DIY. Prevalensi DAK sebesar 27,5%, dengan peringkat lima besar DAK antara lain DKO, kalus, miliaria, kelainan kuku dan Pityriasis versicolor. Pekerja yang mengerjakan tahap pekerjaan basah dan mengerjakan keseluruhan tahap pembuatan batik lebih berisiko menderita DAK. Jenis kelamin laki-laki, riwayat atopi dan tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) ketika bekerja merupakan faktor risiko yang bermakna. Alergen yang paling banyak memberikan hasil positif pada uji tempel antara lain nikel sulfat, reactive red 238 masing-masing sebanyak 3 subjek; kalium dikromat, kobalt klorida, naftol 0,1% (2 subjek); dan indantren 1% (1 subjek). Kesimpulan: Pekerjaan tahap basah merupakan faktor risiko yang bermakna dalam kejadian DAK pada pekerja batik tradisionalz. Jenis kelamin laki-laki, riwayat atopi serta tidak menggunakan APD merupakan faktor risiko lain yang bermakna pada dalam kejadian DAK pada pekerja batik tradisional. Alergen pada proses pembatikan berupa nikel sulfat, kalium dikromat dan kobalt klorida serta alergen pada proses pewarnaan berupa reactive red 238, naftol dan indantren merupakan alergen yang memberikan hasil positif pada uji tempel pada pekerja batik.

Background: Batik making process involves contact with diverse materials, processes, and environments that allow the occurence of occupational dermatoses (OD). Occupational dermatoses caused inabilty to work and impair workers quality of life. Objective: To investigate the batik making stage that cause OD in batik workers, to understand risk factors of OD, and to understand the types of sensitizers that cause OCD in batik worker in Special Region of Yogyakarta. Methods: This study is an observational analysis with cross sectional design. OD was diagnosed based on anamnesis and interview with Nordic Occupational Skin Questionnaire-LONG 2002, and physical examination. Risk factors were analyzed with chi square test and multivariate logistic regression analysis. OCD subjects were examined with patch test with standard and textile series allergen, as well as allergen from their working environment. Results: 222 subjects from 16 batik small and medium enterprises (SMEs) in Special Region of Yogyakarta were studied. Prevalence of OD was 27.5%, mostly presented as OCD, callus, milliaria, nail disorders, and pityriasis versicolor. The workers who work in wet work and work in all stages of batik making process having higher risk to OD. Significant risk factors of OD in significance order were male gender, atopy, and not using personal protective equipment (PPE) while working. Allergen that showed most positive patch test results were nickel sulphate and reactive red 238 (3 subjects each), potassium dichromate, cobalt chloride, naphtol 0.1% (2 subjects), and indantren 1% (1 subject). Conclusion: Traditional batik workers who work at wet work station were at higher risk of OD. Other risk factors of OD included male gender, history of atopy and not using PPE while working. Nickel sulphate, potassium dichromate and cobalt chloride that are used in batik making process and reactive red 238, naphtol and indanthren that are used in dyeing process were allergen that showed most positive patch test results in batik workers.

Kata Kunci : DAK, DKO, faktor risiko, pekerja batik tradisional, uji tempel, OD, OCD, risk factors, traditional batik workers, patch test


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.