Laporkan Masalah

KEBIASAAN MAKAN DAN INDEKS MASSA TUBUH REMAJA PERDESAAN DAN PERKOTAAN (ANALISIS DATA IFLS5)

MERY MERLISIA, Prof. Dr. Madarina Julia, MPH., Ph.D., SP.A(K); Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Remaja merupakan masa yang rentan akan masalah gizi. Status gizi sangat menentukan keadaan kesehatan seseorang, baik kesehatan pada saat ini maupun masa yang akan datang. Prevalensi kurus (kurus dan sangat kurus) serta gemuk (berat badan berlebih dan obesitas) di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Kebisaan makan merupakan faktor penting penentuan status gizi. Gaya hidup pada anak remaja di perkotaan dan perdesaan berbeda, ini akan mempengaruhi perilaku makan mereka. Tujuan : Mengetahui perbedaan kebiasaan (frekuensi makan harian dan frekuensi konsumsi kelompok makanan) dan indeks massa tubuh (IMT) di desa dan kota serta mengetahui hubungan kebiasaan makan dan lokasi tempat tinggal terhadap IMT Materi dan Metode : Penelitian cross-sectional dengan menggunakan kuesioner frekuensi makanan dan data antropometri di daerah perkotaan dan pedesaan dari data sekunder yang dikumpulkan oleh Indonesia Family Life Survey 2014 (IFLS5). Sampel penelitian terdiri dari remaja kelompok usia 15-17 tahun (remaja periode tengah) sampel terpilih dalam IFLS5. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan Chi-Square dan regresi logistik Hasil : IMT gemuk/obesitas berbeda signifikan antara di desa dan kota, dimana remaja gemuk/obesitas cenderung lebih kecil tinggal di desa (OR: 0,49). Frekuensi makan harian, konsumsi buah dan sayur berbeda signifikan antara remaja di Desa dan Kota (p<0,05), dimana kecenderungan makan <3 kali/hari pada remaja perdesaan lebih kecil (OR: 0,82) dan mereka cenderung lebih sering mengkonsumsi buah dan sayur (OR: 1,39 dan OR: 1,22). Konsumsi sumber protein, fast food, soft drink dan camilan tidak berbeda signifikan antara remaja di desa dan kota. Meskipun demikian, konsumsi fast food dan mie instan cenderung lebih sering dikonsumsi oleh remaja di desa (OR: 1,74 dan OR:1,2). Hanya frekuensi makan sayur yang berhubungan signifikan dengan IMT sangat kurus/kurus, sedangkan variabel berhubungan signifikan terhadap IMT gemuk/obesitas adalah lokasi tempat. Kesimpulan : Meskipun terdapat perbedaan IMT dan konsumsi beberapa jenis makanan antara remaja di desa dan kota, akan tetapi hanya konsumsi sayur yang berhubungan signifikan terhadap IMT sangat kurus/kurus, sedangkan IMT gemuk/obesitas tidak memiliki hubungan dengan semua kelompok makanan baik pada remaja desa maupun kota. Hal ini diindikasikan karena kelemahan instrumen untuk frekuensi makanan.

Background : Adolescence is a periode of nutritional vulnerability. Nutritional status is a major determinant of the future health. The prevalence of underweight (thin and very thin) and fat (overweight and obesity) is increasing every year in Indonesia. Dietary habits is an important factor determining the nutritional status. Adolescents lifestyle between rural and urban areas is different, this will affect their eating behavior. Objective : To determine the difference of food habits (food frequency and frequency of food groups) with body mass index (BMI) among rural and urban adolescents and determine the relationship of food habits (food frequency and frequency of food groups) with BMI Material and Methods : A cross-sectional study using food frequency questionaire and anthropometric data in urban and rural areas of secondary data collected by Indonesia Family Life Survey 2014 (IFLS5). The study sample consisted of adolescents in the age group 15-17 years (middle adolescence) were selected in IFLS5. The data collected were analyzed using Chi-Square and logistic regression Result : There was statistical significant difference of overweight/obese between rural and urban adolescents, overweight/obese adolescents were fewer in the rural (OR: 0.49). Frequencies of meals eaten daily under 3 meals a day, consumption of fruit and vegetable differed significantly between rural and urban adolescent (p<0.05), frequency of meals eaten daily under 3 meals a day was the most frequent answer of urban subject. However, Frequently consumption of fruit and vegetable were significantly higher in rural than in urban adolescent (OR: 1.39 and OR: 1.22). Frequency of protein sources, fast food and instant noodles there was no statistical significant different between rural and urban, but frequency of fast food and instand noodles was higher in rural than rural adolescent (OR: 1,74 dan OR:1,2). The frequency of eating vegetables is significantly related with underweight (thin and very thin), while the significant association variable with overweight/obesity is variable of residence location. Conclusions : Although there is a difference in BMI and consumption of some foods between rural and urban adolescents, only vegetable consumption is significantly related with underweight (thin/very thin). While, overweight/obese BMI is not associated with all food groups either in adolescents in the rural or in the urban areas . This is indicated by the weakness of the instrument for the frequency of food.

Kata Kunci : Remaja; Indeks Massa Tubuh; kebiasaan makan; frekuensi makan; Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia gelombang 5 (SAKERTI5), Indonesia Family Life Survey wave 5 (IFLS5)

  1. S2-2017-371545-abstract.pdf  
  2. S2-2017-371545-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-371545-tableofcontent.pdf