Laporkan Masalah

KEPEMIMPINAN PUCUK ADAT DALAM RESOLUSI KONFLIK ANTAR DESA DI KABUPATEN KERINCI

AGUNG IRANDA, Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si

2017 | Tesis | S2 Psikologi

Kepemimpinan pucuk adat (Depati) dimaknai sebagai kepemimpinan yang berperilaku dan bertindak menurut undang-undang adat dalam memahami berbagai persoalan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan indigenous psychology, dengan metode survei terbuka kepada 200 warga desa yang berkonflik di Kerinci, serta wawancara terhadap 12 orang dari Depati maupun significant other jajaran adat di Kerinci. Hasil menunjukkan bahwa Kepemimpinan Depati memiliki otoritas dwifungsi, sebagai kepala pemerintahan adat dan sebagai hakim untuk memutuskan hukum konflik. Selain itu Depati juga mampu mengayomi dan menyadarkan warga akan bahaya konflik, istilah ini dikenal dengan "Anak dipangku, kemenakan dibimbing". Hal lain dari kepemimpinan Depati yaitu Depati berfikir visioner, membaca situasi dan perilaku masyarakat dalam resolusi konflik. Istilah ini dikenal dengan "Tahu diireng dengan gendeng, tahu dibayang kato sampai". Sedangkan strategi kepemimpinan Depati dalam resolusi konflik secara menyeluruh dilakukan dengan problem solving, namun strategi yang lainnya bersifat kondisional, ketika eskalasi konflik Depati menggunakan strategi mengontrol mental warga, sedangkan pasca eskalasi konflik Depati menggunakan strategi berkumpul rumah Gedang, barulah setelah ada kesepakatan, kepemimpinan Depati menciptakan simbol perdamaian.

The leadership of supreme custom (Depati) is interpreted as a leadership that behaves and acts according to customary law in understanding the various problems of society. This research was conducted by using indigenous psychology approach, with open survey method for 200 person of in conflict villages in Kerinci, and interview 12 persons from Depati and significant other in Kerinci. The results show that Depati Leadership has the dual fucntion authority, as head of customary government and a judge to decide the law of conflict. Other than, Depati is also able to guide and make citizen aware of the impacts of conflict, this term is known as " Anak dipangku, kemenakan dibimbing". Another thing of Depati leadership is that Depati thinks like visioner, read situation and behavior of society in the conflict resolution. The term is known as "Tahu diireng dengan gendeng, tahu dibayang kato sampai". While the strategy of leadership of Depati in the resolution of the conflict is thoroughly done with problem solving, but other strategies are conditional, when the escalation of Depati using the strategy of mental control of citizens, while post escalation using rumah gedang for getting together strategy, then after there is any agreement, the leadership of Depati create a symbol of peace.

Kata Kunci : Kepemimpinan pucuk adat, resolusi konflik, Kerinci

  1. S2-2017-371171-abstract.pdf  
  2. S2-2017-371171-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-371171-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-371171-title.pdf