Laporkan Masalah

KUASA TUAN GURU ATAS KEPEMIMPINAN KEAGAMAAN DI DESA KEDIRI SELATAN LOMBOK BARAT

Zaenudin Amrulloh, Drs. Suprajan, M.si.

2017 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Tuan guru merupakan simbol bagi kekuasaan agama yang ada di Lombok. Sepanjang sejarah hadirnya tuan guru di tengah masyarakat merupakan bentuk dari perjuangan-perjuangan politik, seperti upaya untuk membebaskan masyarakat dari penjajahan Hindu dan Belanda di Lombok dan upaya untuk mengislamisasikan masyarakat Lombok, khususnya lagi di desa Kediri Selatan. Suatu realitas sosial keagamaan yang terdapat di Kediri Selatan merupakan bentuk dari hegemoni kekuasaan tuan guru terhadap alam sadar masyarakat lokal, seperti cara berpakaian, berperilaku, dan kepercayaan-kepercayaan tertentu. Melalui habitusnya, tuan guru menjadi capital yang sangat penting bagi masyarakat lokal, terutama peran-peran tuan guru di dalam masjid dan pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis untuk mengungkapkan mengenai peran kuasa tuan guru atas pembangunan sosial masyarakat lokal yang termasuk sebagai kelompok-kelompok pengajian. Penelitian ini dilakukan di Desa Kediri Selatan Kecamatan Lombok Barat Nusa Tenggara Barat. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive. Pengumpulan data dilakukan melaui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara melakukan reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji validitas dari data yang diperoleh, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data. Berdasarkan hasil temuan di lapangan, peneliti menemukan bahwa tuan guru sebagai simbol kekuasaan agama di Kediri Selatan saat ini berada di dalam dua arena: pesantren dan masjid. Namun dalam perubahan arus zaman, tuan guru telah gagal menjaga nilai primordialnya dengan masyarakat. Perbedaan peran ini bisa digambarkan melalui peta sejarah lahirnya tuan guru yang sejatinya sebagai penyelamat masyarakat namun hal tersebut kini bergeser pada kepentingan pembangunan komunitas pesantren yang dikuasai oleh tuan guru. Keberhasilan tuan guru dalam meraih kepercayaan umat dimulai dari masjid, namun kini kepentingan politik tuan guru merambat ke pembangunan komunitas pesantren yang menjadikannya tidak lagi utuh sebagai pemimpin terdekat masyarakat. Meski beberapa program pengembangan masyarakat ada yang diterpakan, namun entitas kedekatan tuan guru dan masyarakat perlahan semakin hilang tajuknya karena tuan guru lebih mengedepankan pembangunan pesantren daripada pembangunan masyarakat lokal di sekitar.

Tuan Guru is a symbol of religion authorities in Lombok. The emergence of Tuan Guru in the middle of society historically is a result of political attempts, such as redeeming people from Hindu and Dutch colonialism and Islamizing Lombok people especially in South Kediri. Commonly, the reality of socio-religion of Tuan Guru is hegemony towards local society in term of dressing, behaving, and believes. Tuan Guru has great roles in mosque and Islamic boarding school. Essentially, both mosque and Islamic boarding school are platforms for Islamic culture exchanges in order to build socio-religion system in South Kediri. Despite of this time, the roles of Tuan Guru are more exclusive in social establishment in which influence his authority on societal focus for students in Islamic boarding school. Nowadays, the primordial values of Tuan Guru towards local society are slowly weakened. This study applied qualitative method with critical ethnographic approach and aimed to examine the roles of Tuan Guru on social development of local society included Islamic learning groups. The study was conducted in South Kediri West Lombok, West Nusa Tenggara. The data obtained were primary and secondary. The selection of informant was conducted by purposive technique. The data were obtained by observation, in-depth interview, and document analysis. Moreover, the data were analyzed by reduction, presentation, and conclusion stages. In order to examine the validity of data, the researcher applied triangulation technique. Based on findings, the researcher found that Tuan Guru has a symbol of religion authorities in South Kediri, there are mosque and Islamic boarding school. However, the current change of era made the roles of Tuan Guru failed to maintain primordial values with local society. The role differences could be described through the origin of Tuan Guru as a role model for society. Yet, it now changes to the development of Islamic boarding school under Tuan Guru leadership. Tuan guru success in gaining the trust of the people starts from the mosque, but now tuan guru political interests are propagating to the development of pesantren community which makes it no longer intact as the closest community leader. Although some community development programs have been implemented, the entity's proximity of tuan guru and the community is slowly getting tiluknya because tuan guru is more emphasizing the development of pesantren than the development of local communities around.

Kata Kunci : Kekuasaan, Tuan Guru, Habitus.

  1. S2-2017-375771-abstract.pdf  
  2. S2-2017-375771-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-375771-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-375771-title.pdf