Laporkan Masalah

Profil dan Strategi Bertahan Hidup Buruh Bangunan Ngetem di Dusun Kringinan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman

KRISTIAN WIDY ATMOJO, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph. D

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Di dunia ketenagakerjaan, sektor informal masih menyimpan banyak permasalahan. Salah satu permasalahan dari sektor informal adalah inkonsistensi pada keteraturan kerja dan pendapatan. Buruh bangunan merupakan salah satu bidang usaha di sektor informal dengan karakter inkonsisten pada keteraturan kerja dan pendapatan. Jumlah penawaran kerja yang lebih sedikit dari permintaan kerja adalah salah satu faktor yang melahirkan inkonsistensi pada keteraturan kerja dan pendapatan buruh bangunan. Dengan proporsi yang tidak seimbang tersebut tumbuh kompetisi dan tuntutan kreatif kepada buruh bangunan. Di Dusun Kringinan, terlahir sebuah kreatifitas buruh bangunan dalam proses pencarian kerja. Proses pencarian kerja kreatif tersebut berupa mekanisme ngetem. Walaupun lebih efektif dan efisien, mekanisme ngetem masih mendapatkan kekurangan. Kekurangan yang terjadi dalam mekanisme ngetem yaitu jumlah penawaran kerja yang ada pada setiap hari selalu lebih rendah dari jumlah buruh bangunan yang melakukan ngetem. Konsep yang menjadi dasar pemahaman awal dalam penelitian ini antara lain, konsep kemiskinan, sektor informal, strategi bertahan hidup, dan modal sosial. Untuk menghadapi kondisi sosial-ekonominya, buruh bangunan ngetem perlu melakukan strategi agar tetap menjaga kelangsungan hidupnya. Strategi yang dapat ditempuh yaitu strategi bertahan hidup. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu ingin mengetahui profil buruh bangunan ngetem secara komprehensif dan mendeskripsikan secara mendalam tentang strategi buruh bangunan ngetem dalam bertahan hidup, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Informan yang diperoleh dalam penelitian ini berjumlah 13 orang, yang terdiri dari 8 informan utama dan 5 informan pendukung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukan bahwa keberadaan mekanisme ngetem sudah ada sejak akhir dekade 1970-an. Faktor yang mendorong buruh bangunan menggunakan mekanisme ngetem antara lain, pendidikan yang rendah, mengisi waktu luang akibat pengangguran musiman, mekanisme ngetem adalah mekanisme yang efektif dan efisien, serta rasa kekeluargaan. Buruh bangunan tersebut datang dari wilayah Kalasan, Prambanan, Manisrenggo, Cangringan, dan Berbah. Namun dalam beberapa momen, terdapat buruh bangunan yang datang dari wilayah Klaten, Wonosari, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Dalam bertahan hidup, buruh bangunan ngetem menggunakan delapan strategi, yaitu membanguna relasi di Sor Talok, pengoptimalan sumber daya manusia dalam rumah tangga, pemanfaatan aset rumah tangga, ekstensi dan diversifikasi pekerjaan, pengelolaan pengeluaran, melakukan pinjaman kepada relasi, akses terhadap program pemerintah, dan menggunakan gotong-royong sebagai strategi bertahan hidup.

In manpower area, there are still a lot of problems related to informal sector. One of the problems is the regularity of work and income. Construction worker (buruh bangunan) is an example of work in informal sector which is inconsistent in the regularity of work and income. Unbalanced proportion between work demand and work supply is one of the factor which generates those inconsistencies. With the unbalanced proportion, work competition and the pressure to be more creative has grown in the mind of construction workers has emerged in job-seeking process. The creative job-seeking process has done throught ngetem mechanism. Even though it is believed to be more effective and efficient, ngetem mechanism still has its downside. One of the downside is the work demand is one day is always less than the work supply delivered through ngetem mechanism. There are 4 concepts to give initial understanding about this research, which are poverty concept, informal sector, surviving strategy, and social capital. To overcome their socio-economic circumstances, buruh bangunan ngetem should carry out some strategies to fulfil their needs. Surviving strategy is one of those strategies. The goal of this research to understand the profile of buruh bangunan ngetem comprehensively and to deeply describe their surviving strategy. Qualitative method is used in this research to achieve that goal. In this research, there are 13 informants, which consist of 8 main informans and 5 supporting informans. Interview, observation, and documentation was used in this research as data-collecting technique. This research has shown that the existence of ngetem mechanism has grown since late 1970s. Some factors which drives construction workers to use ngetem mechanism are the education background of the workers, seasonal unemployments, looking for productive activities in their spare times, the effectiveness and the efficiency of ngetem mechanism, and kinship sense. Those workers come from Kalasan, Prambanan, Manisrenggo, Cangkringan, and Berbah. At some point, there are workers which come from Klaten, Wonosari, Bantul, and Yogyakarta City. In order to survive, buruh bangunan ngetem uses 8 strategies, which are building relationship at Sor Talok, optimization of human resources in family, utilization of family’s assets, extension and diversification of jobs, expanses management, taking loans from acquaintances, access towards goverment’s program, and teamwork (gotong royong) as surviving strategies.

Kata Kunci : buruh bangunan ngetem, strategi bertahan hidup, sektor informal, kemiskinan

  1. S1-2017-349870-abstract.pdf  
  2. S1-2017-349870-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-349870-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-349870-title.pdf