Laporkan Masalah

PENGARUH KETEBALAN OKLUSAL DAN LAMA AGEING MAHKOTA ZIRKONIA MONOLITIK TERHADAP KETAHANAN FRAKTUR

MEGA CICILIA, drg. Heriyanti Amalia K., S.U., Sp.Pros(K); drg. Murti Indrastuti, M.Kes., Sp.Pros(K)

2017 | Tesis-Spesialis | SP PROSTODONSIA

Mahkota zirkonia monolitik merupakan mahkota dengan keseluruhan material menggunakan zirkonia tanpa adanya pelapisan. Rekomendasi pabrik menyatakan bahwa mahkota zirkonia monolitik memerlukan minimal ketebalan sebesar 0,5 mm. Evaluasi keberhasilan restorasi dapat dilihat dari keawetan restorasi tersebut. Keawetan material kedokteran gigi dapat diuji dengan cara mengevaluasi sifat mekanik setelah mengalami ageing. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ketebalan oklusal dan ageing pada mahkota zirkonia monolitik terhadap ketahanan fraktur. Dua puluh empat mahkota zirkonia monolitik dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok ketebalan oklusal 0,5 mm, 1 mm, 1,5 mm yang mengalami ageing buatan dengan autoclave 134 derajat C tekanan 2 bar selama 3 jam dan 5 jam. Setelah perlakuan ageing buatan, dilakukan uji ketahanan fraktur mahkota zirkonia monolitik menggunakan Universal Testing Machine. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan Anava dua jalur dan dilanjutkan uji HSD Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata ketahanan fraktur tertinggi diperoleh kelompok ketebalan oklusal 1,5 mm dengan ageing buatan autoclave selama 3 jam (47,33 kurang lebih 0,93 N/mm2) dan rerata ketahanan fraktur terendah diperoleh kelompok ketebalan oklusal 0,5 mm dengan ageing buatan autoclave selama 5 jam (21,52 kurang lebih 1,33 N/mm2). Terdapat perbedaan bermakna pada kelompok ketebalan oklusal 0,5 mm, 1mm, dan 1,5 mm serta pada interaksi ketebalan oklusal dengan ageing. Perbedaan tidak bermakna didapati pada kelompok ageing selama 3 jam dan 5 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh ketebalan oklusal pada mahkota zirkonia monolitik terhadap ketahanan fraktur dan tidak terdapat pengaruh lama ageing pada mahkota zirkonia monolitik terhadap ketahanan fraktur.

Monolithic zirconia crown is crown which is made from zirconia without veneering. Manufactur recommendation states monolithic zirconia crowns require minimum thickness of 0.5 mm. Evaluation of restoration success can be seen from its longevity. Longevity of dental material can be tested by evaluating mechanical properties after ageing. This research aims to evaluate the effects of occlusal thickness and ageing on the fracture resistance of monolithic zirconia crowns. Twenty four monolithic zirconia crowns were divided into six groups; of four each occlusal thickness of 0.5 mm, 1 mm, and 1.5 mm underwent artificial ageing with autoclave 134 derajat C 2 bar for 3 hours and 5 hours. After artificial ageing, test of fracture resistance of monolithic zirconia crowns were done using Universal Testing Machine. The data were analyzed with two-way Anova and HSD Tukey post-hoc. The results showed highest mean of fracture resistance were on group occlusal thickness of 1.5 mm with artificial ageing autoclave for 3 hours (47.33 kurang lebih 0.93 N/mm2) and lowest mean of fracture resistance were on group occlusal thickness of 0.5 mm with artificial ageing autoclave for 5 hours (21.52 kurang lebih 1.33 N/mm2). There were significant differences on group occlusal thickness of 0.5 mm, 1 mm, and 1.5 mm also on interaction between occlusal thickness and ageing. There was no significant difference on group ageing for 3 hours and 5 hours. The conclusions are occlusal thickness affects fracture resistance of monolithic zirconia crowns and duration of ageing does not affect fracture resistance of monolithic zirconia crowns.

Kata Kunci : zirkonia, monolitik, ketebalan oklusal, penuaan, ketahanan fraktur


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.