RESOLUSI KONFLIK BERBASIS KEARIFAN LOKAL; STUDI TERHADAP KONFLIK PEREBUTAN LAHAN NAKTUKA ANTARA INDONESIA DAN TIMOR LESTE
ABDUL RAJAB ULUMANDO, Prof. Sigit Riyanto, SH.,LL.M
2017 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalLahan Naktuka merupakan salah satu wilayah perbatasan yang hingga saat ini mengalami konflik perebutan yang melibatkan Indonesia dan Timor Leste. Lahan Naktuka yang awalnya dikelola secara bersama-sama harus disengketakan karena masuk dalam wilayah demarkasi. Upaya penyelesaian sejak kemerdekaan Timor Leste hingga saat ini belum memberikan hasil yang maksimal. Salah satu faktornya adalah kurangnya keterlibatan masyarakat lokal dalam proses negosiasi. Padahal, masyarakat perbatasan yang mengetahui secara pasti mengenai tapal batas yang ada. Hubungan kekerabatan dan persamaan budaya bisa menjadi jalan tengah penyelesaian masalah. Lembaga penyelesaian adat yang terdiri dari mamata. malase. mafeta dan amaf yang telah dipraktekan oleh masyarakat sejak dulu bisa menjadi contoh model penyelesaian yang bisa dilakukan oleh kedua negara. Oleh karena itu pemerintah pusat selain terus berupaya melakukan diplomasi tingkat tinggi juga perlu mengupayakan keterlibatan masyarakat lokal dalam setiap perundingan sehingga bisa menghasilkan suatu rumusan penyelesaian konflik yang bisaditerima oleh kedua belah pihak.
Naktuka land is one of the border areas that until now suffered a seizure conflict involving Indonesia and Timor Leste. Naktuka land initially managed jointly must be disputed for entering the demarcation area. Efforts to resolve since the independence of Timor Leste to date have not provided maximum results. One factor is the lack of involvement of local communities in the negotiation process. Even though. Border communities who know exactly about the boundaries. Kinship relationships and cultural equations can be a middle ground problem solving. Customary settlement institution consisting of Mamata, Malase, Mafeta and Amaf that has been practiced by the community since the past could be an example of a model of settlement that can be done by both countries. Therefore, the central government in addition to continuing to make high-level diplomacy also need to seek the involvement of local communities in any negotiations so that it can produce a formulation of conflict resolution that can be accepted by both parties.
Kata Kunci : Resolusi Konflik, Kearifan Lokal / Conflict Resolution. Local wisdom