RESPON PRODUKTIVITAS DAN KESEHATAN KAYU PUTIH TERHADAP TEKNIK PEMANGKASAN DAN PEMUPUKAN ORGANIK DI RPH MENGGORAN, BDH PLAYEN, KPH YOGYAKARTA
ANGGRAENI KUSUMA DEWI, Dr. Priyono Suryanto,S.Hut., M.P.
2017 | Skripsi | S1 KEHUTANANHutan pertanaman kayu putih di KPH Yogyakarta merupakan hutan tanaman monokultur dengan variasi umur (campur umur). Sistem silvikultur yang diterapkan yaitu dengan pemangkasan (coppice system). Sistem pertanaman kayu putih dikembangkan dengan tumpangsari yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Secara umum hutan pertanaman kayu putih mengalami kerusakan yang tinggi sehingga tegakannya tidak normal, oleh karena itu diperlukan usaha peningkatan produktivitas kayu putih dengan teknik pemangkasan dan pemberian pupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas dan kesehatan kayu putih di RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta. Penelitian dilakukan di area hutan pertanaman kayu putih Petak 83 RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta. Rancangan penelitian menggunakan oversite design dengan jumlah pohon kayu putih yang diamati sebanyak 55 pohon dengan perlakuan pemangkasan yang terbagi atas pemangkasan cabang (kontrol), pemangkasan batang, dan pemangkasan klacir (meninggalkan satu cabang). Pemberian pupuk organik dengan menggunakan pupuk SROP (Slow Release Organic Paramagnetic), perlakuan diberikan pupuk dan tanpa diberikan pupuk. Parameter yang diamati untuk pertumbuhan meliputi tinggi tajuk, jumlah ranting, dan jumlah cabang. Produktivitas meliputi berat basah daun dan berat basah ranting. Kesehatan meliputi bercak daun dan embun jelaga. Pengolahan dan analisis data menggunakan uji ANOVA dan hierachical cluster. Produktivitas kayu putih tertinggi pada perlakuan teknik pemangkasan klacir tanpa diberikan pupuk dengan berat basah daun 3,43 kg dan berat basah ranting 2,72 kg adapun pertumbuhan kayu putih dengan tinggi tajuk 3,28 m, jumlah cabang 23 cabang dan jumlah ranting 551 ranting. Tipe kerusakan yang mendominasi pada pemangkasan klacir tanpa diberikan pupuk yaitu bercak daun dan embun jelaga.
Kayu putih plantation in Forest Management Unit (FMU) of Yogyakarta is a mixed age and monoculture forest. Silviculture system applied is by coppice system. Kayu putih plantation developed with taungya system (tumpangsari) which involved people around it. Generally, kayu putih stand suffered high damage so it went abnormal. Therefore, coppice system improvement and fertilize the tree to increase productivity are needed. This research aims to monitor health and productivity of kayu putih in RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta Research done in plot 83 of RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta. Research draft using oversite design observing 55 of kayu putih trees with a pruning treatment consists of branch cut (as control), stem cut, and klacir cut (remained one branch). Fertilizer used is SROP (Slow Release Organic Paramagnetic), treatment that given are fertilized and unfertilized. The parameters observed for growth include crown height, the number of twigs, and number of branches. Productivity include twig and leaves gross weight, tree health covers spotted leaves and black mildew. Processing and analysis of data using ANOVA test and hierachical cluster. Highest kayu putih production showed in klacir cut, and unfertilized trees. Leaves gross weight showed 3.43 kg and twig gross weight 2.72 kg eventhough growth with crown height of 3.28 m, the number of Branch 23 branches and the number of twigs 551 twigs. The type of damage that dominates on klacir cut without fertilizers are spotted leaves and black mildew.
Kata Kunci : kayu putih, produktivitas, pemangkasan;Kayu putih (Melaleuca cajuputi), productivity, coppice system