KARAKTERISTIK KLINIS, DERAJAT PENYAKIT DAN SENSITISASI ALERGEN PADA ANAK DENGAN DERMATITIS ATOPIK
TULUS SIHOTANG, dr. Sumadiono, Sp. A(K);dr. Cahya Dewi Satria, M.Kes, Sp. A
2017 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang: Adanya peningkatan prevalensi dermatitis atopik beberapa tahun terakhir ini serta besarnya dampak negatif dan beban yang ditimbulkan pada anak yang menderita dermatitis atopik sehingga diperlukan penelitian yang menyediakan informasi mengenai karakteristik klinis, derajat penyakit dan sensitisasi alergen pada anak dengan dermatitis atopik. Tujuan: Mengetahui karakteristik klinis, derajat penyakit dan sensitisasi alergen pada anak dengan dermatitis atopik. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis potong lintang. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner, wawancara dan hasil uji tusuk kulit terhadap anak PAUD, TK, dan SD di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS secara univariat untuk melihat frekuensi masing-masing variabel yang diuji. Hasil: Dari 450 subyek penelitian, terdapat 88 subyek yang memenuhi kriteria seleksi. Dermatitis atopik pada anak paling banyak diderita pada kelompok umur 9-12 tahun dengan persentase jenis kelamin perempuan lebih besar (65%). Sebagian besar subyek mengalami onset penyakit saat berusia >4 tahun (52%), memiliki riwayat atopi keluarga (64%), riwayat penyakit rinitis alergi (21%), lesi berupa kemerahan (100%), bekas garukan (30.7%) dan kekeringan (25.0%) yang terdistribusi di pergelangan tangan/kaki (42%) dan tidak pernah mengalami gangguan tidur akibat eksema (53%). Pada jenis alergen hirupan, sensitisasi alergen yang paling banyak terjadi adalah alergen tungau debu rumah, sedangkan pada jenis alergen makanan adalah udang dan kepiting. Sebagian besar dermatitis atopik yang diderita bukan gejala eksema berat (76%). Kesimpulan: Sebagian besar anak dengan dermatitis atopik memiliki riwayat atopi keluarga, riwayat penyakit rinitis alergi, gejala kemerahan dan lesi kulit yang terdistribusi di pergelangan tangan/kaki. Dermatitis atopik yang diderita paling banyak bukan merupakan dermatitis atopik berat. Tungau debu rumah merupakan alergen utama pada anak dengan dermatitis atopik.
Background: Recently, the prevalence of atopic dermatitis continues to increase. It had a big impact of disease for children who affected. Therefore, research about clinical characteristic, severity and allergen sensitization in children with atopic dermatitis was needed to give general description of the disease. Objective: To know the clinical characteristic, severity and allergen sensitization in children with atopic dermatitis. Method: This research was a cross sectional study. Data was taken by questionnaire, interview and skin prick test of children aged playgroup to elementary school in Yogyakarta and Sleman. Univariate analysis was used to determine the frequency of tested variables. Results: 450 research subjects were obtained and 88 subjects were qualified the selection criteria. Atopic dermatitis was most common in 9-12 years old children with bigger proportion in female (65%). Most of them had the onset of disease by >4 years old of age, family history of atopy (64%) and history of allergic rhinitis (21%). Most of the skin lesion were erythema (100%), excoriation (30.7%) and dryness (25.0%) and distributed in wrist/ankle (42%). Most of the subjects did not have sleep disturbance (53%). The biggest percentage of inhalled allergen types was house dust mite allergen and shrimp and crab of food alergen types. Severe eczema did not affect most of the subject (76%). Conclusion: Most of children with atopic dermatitis had familial atopic history, allergic rhinitis history, erythema and skin lesion in wrist/ankle. Most of children with atopic dermatitis were not having severe eczema. House dust mites were the main allergens in children with atopic dermatitis.
Kata Kunci : karakteristik, sensitisasi, alergen, dermatitis atopik, anak