Partisipasi Masyarakat dalam Perbaikan Kampung Kota: Studi pada Penataan Lorong di Kelurahan Buloa Kota Makassar
MUH.ASHABUL KAHFI, Dr. Amelia Maika, M.A., M.Sc.
2017 | Tesis | S2 SosiologiPertumbuhan kota yang cepat dan telah melampaui kemampuan dalam menyediakan infrastruktur bagi penduduknya, menyebabkan munculnya permukiman kumuh di perkotaan. Permukiman kumuh di perkotaan juga dikenal sebagai kampung kota. Program penataan lingkungan di kampung kota dapat berhasil jika ada masyarakat yang terlibat di dalam program tersebut. Salah satu program penataan kampung kota di Makassar adalah Program Lorong Garden yang telah dilaksanakan sejak tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji partisipasi masyarakat di lorong dalam Program Lorong Garden; 2) melihat pengorganisasian masyarakat dalam Program Lorong Garden; dan 3) melihat struktur kekuasaan dan budaya politik yang terdapat pada masyarakat di lorong. Penelitian dilakukan di Lorong 3 dan Lorong 6 Kelurahan Buloa Kota Makassar. Informan dalam penelitian ini terdiri dari kalangan pemerintah setempat dan dinas terkait, dan masyarakat yang tinggal di kedua lorong itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakuka dengan cara wawancara mendalam, dokumen publik, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Program Lorong Garden ini sudah berada pada tataran aktif. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi fisik lorong yang sudah jauh lebih tertata dan bersih. Hal ini menunjukkan kondisi masyarakat yang sudah mulai peduli dengan kondisi lingkungannya. Meskipun dengan segala keterbatasannya, masyarakat di kedua lorong tetap berkontribusi dalam Program Lorong Garden. Adapun bentuk partisipasi masyarakat di kedua lorong yaitu dalam bentuk pikiran, tenaga, uang, dan materi. Pengorganisasian masyarakat yang dilakukan melalui motivator lorong dan perlombaan antar lorong se-Kota Makassar terbukti dapat membuat masyarakat aktif untuk terlibat dalam program ini. Struktur kekuasaan pada masyarakat lorong memperlihatkan bahwa masyarakat di lorong masih memperhitungkan ketokohan seseorang, yaitu Ketua ORT dan tokoh masyarakat. Masyarakat merasa segan dan takut jika menolak ajakan Ketua ORT dan tokoh masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program Lorong Garden. Budaya politik pada masyarakat di kedua lorong ini termasuk budaya politik partisipan, yang ditandai dengan adanya protes dari masyarakat terhadap program ini. Masyarakat di lorong mulai mempertanyakan mengenai pengelolaan anggaran program dan suara mereka dalam Program Lorong Garden.
The growth of the city which is fast and has exceeded the ability of providing the infrastructure for the inhabitants, led to the emergence of slums in urban areas. Slums in urban areas, also known as kampong. Environmental arrangement programs in urban areas can be successful if there are community involved in the program. One of those program in Makassar is called Lorong Garden which has been implemented since 2015. The objectives of this research are 1) to assess the community participation in the Lorong Garden Program; 2) to look at the community organizing in the Lorong Garden Program; and 3) to look at the power structure and the political culture in the community in the alley. This research was conducted in the Alley 3 and the Alley 6 Buloa Village Makassar City. The informants in this study consisted of local government and related departments, and the people living in both of the two alleys. This research uses qualitative method with ethnography approach. Data collection is done by in-depth interviews, public documents, and observations. The results showed that community participation in the implementation of the Lorong Garden Program has already been active in. It can be seen from the physical condition of the alleys that is already more organized and clean. This shows the condition of the community who have started to care about the condition of their environment. Although with all of their limitations, they still contribute in the Lorong Garden Program. The form of community participation in both of the alleys is in the form of the ideas, energy, money, and materials. Community organizing through alley motivator and a hygiene competition between alleys in Makassar City proved to be able to make community to get involved in this program. The power structure of the community in the alleys showed that they are still consider someone's figure by local leader. The community felt reluctant and afraid if refuse the local leaders to participate in the Lorong Garden Program. The political culture on community in both alleys includes participant political culture, which is characterized by the presence of protest form community for this program. They began to question about the management of the budget of the program and their voice in this program.
Kata Kunci : Lorong Garden, Partisipasi, Lorong