Laporkan Masalah

Prevalensi Cacing Strongyle pada Sapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya

ENDAH PURWATI, Dr. med vet. drh. Penny Humaidah Hamid, M. Biotech.

2017 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWAN

Strongyle merupakan jenis cacing nematoda yang sering menginfeksi ruminansia. Infeksi cacing Strongyle berdampak pada gangguan fungsi mukosa usus sehingga menyebabkan Body Condition Score (BCS) rendah dan Average Daily Gain (ADG) berkurang pada sapi potong. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat infeksi cacing nematoda saluran digesti pada sapi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Sebanyak 533 sampel feses diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH) Giwangan dan 100 sampel feses dari beberapa peternakan kelompok di Kabupaten Boyolali. Sampel di Rumah Potong Hewan mewakili wilayah sapi yang berasal dari DIY meliputi Sleman, Bantul, Gamping, Gunung Kidul, Kulonprogo, Prambanan dan wilayah Jawa Tengah yang mencakup Magelang, Muntilan, dan Surakarta. Sampel diperiksa dengan metode sentrifus untuk mengetahui morfologi telur cacing Strongyle dan Mc Master untuk menghitung jumlah telur cacing Strongyle. Pemetaan data persebaran telur cacing Strongyle di wilayah DIY dan sekitarnya menggunakan metode Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil pemeriksaan menunjukkan 221 sampel (35,1%) positif telur Strongyle dengan berbagai tingkat infeksi. Tingkat kejadian infeksi Strongyle terbanyak adalah wilayah Prambanan dengan prevalensi 50%. Jenis sapi terinfeksi tertinggi adalah sapi Limousin Peranakan Ongole (LimPO) sebesar 43,3%. Data tersebut menunjukkan tingginya tingkat infeksi nematoda intestinal yaitu 35, 1% pada wilayah DIY dan sekitarnya.

Strongyle is nematode that frequently infecting cattle. Infection of Strongyle give impact in the intestinal mucous functions, so that the body condition score and average daily gain of beef cattle will be decreased. This study was performed to determine the level of nematode digestion tract infection in cattle in the region of Yogyakarta (DIY) and surrounding areas. A total of 533 samples were obtained from Slaughter House (RPH) Giwangan and 100 samples from farmer group in Boyolali. Samples at the abattoir represents a region of cattle come from DIY include Sleman, Bantul, Gamping, Gunung Kidul, Kulon Progo, and the region of Central Java that includes Magelang, Muntilan, Prambanan, and Surakarta. Samples were examined by a centrifuge method and Mc Master. Data mapping for the distribution of Strongyle eggs in the DIY and surrounding areas was using Geographic Information System (GIS). The test results showed 221 samples (35.1%) positive Strongyle eggs with various degree of infection. The highest prevalence rate is 50% in Prambanan. The most prevalent of infected cattle is Limousin-Ongole Crossbreed about 43.3%. The data shows a high degree about 35.1% of intestinal nematode infections in DIY and surrounding areas.

Kata Kunci : Strongyle, nematoda, sapi, pemetaan

  1. S1-2017-373670-abstract.pdf  
  2. S1-2017-373670-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-373670-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-373670-title.pdf