Laporkan Masalah

Konstruksi Tes Deteksi Dini Disleksia untuk Siswa Taman Kanak-Kanak Usia 5-7 Tahun

NORA SHOFIA R., Prof. Dr. Saifuddin Azwar, M.A.

2017 | Tesis | S2 Psikologi Profesi

Penelitian ini bertujuan mengembangkan tes deteksi dini disleksia untuk siswa taman kanak-kanak. Stimulus dan aitem mengacu pada tiga teori penyebab disleksia, yaitu defisit dalam pemrosesan fonologi, pemrosesan visual dan koordinasi motorik. Tes Deteksi Dini Disleksia terdiri dari sepuluh subtes: persamaan bunyi kata, menyebut warna, mengulang huruf, mengulang angka, mengulang suku kata, melacak titik, urutan simbol dan gambar, mencari bentuk, menyalin gambar, dan menguntai manik. Hasil analisis faktor konfirmatori menunjukkan bahwa model perdimensi dan model seluruh skala memiliki model yang sesuai dengan dasar teori yang digunakan. Tes Deteksi Dini Disleksia memiliki reliabilitas komposit yang memuaskan baik untuk masing-masing dimensi maupun reliabilitas komposit skala secara keseluruhan. Reliabilitas komposit dimensi pemrosesan fonologi sebesar 0,97; pemrosesan visual sebesar 0,916; koordinasi motorik halus sebesar 0,838; dan skala penuh sebesar 0,875. Validitas konstruk melalui metode by-known-group mengindikasikan adanya perbedaan antara anak normal dan anak disleksia dalam ketiga dimensi yang diukur. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tes Deteksi Dini Disleksia dapat digunakan untuk menyaring anak-anak berusia 5-7 tahun yang tergolong dalam risiko disleksia.

This study was aimed to develop dyslexia early detection test for kindergarten students. Stimulus and aitems are conceptualized based on the theory of the cause of dyslexia: the phonological processing deficit, visual processing deficit and motor coordination deficit theory. Test of Dyslexia Early Detection consists of ten subtests: words rhyme, color naming, digit span of letter, number and syllable, trace the dots, symbol and picture sequence, shape matching, shape copying and bead threading. The Dyslexia Early Detection Test exhibited satisfactory psychometric properties. Confirmatory factor analysis revealed that the model provided comparable fit to the data, on dimensional level and full-scale level. Each dimension had composite reliability of 0.97 for the phonological processing composites; 0,916 for visual processing composites; 0,838 for fine motor coordination composites; and full-scale reliability of 0,875. Evidence of construct validity was also obtained through by-known-group validation method which indicated that there were significant differences between normal and dyslexic children in all three dimensions measured. Thus, it can be concluded that the Dyslexia Early Detection Test can be used to screen 5-7 years old children at risk of dyslexia.

Kata Kunci : deteksi dini, disleksia, kesukaran belajar spesifik, konstruksi tes,