Perpustakaan Umum DIY sebagai Art and Cultural Learning Center dengan Pendekatan Interactive Architecture
QANITA QAMARANI, Diananta Pramitasari, ST., M.Eng, Ph.D
2016 | Skripsi | S1 ARSITEKTURSebagai fasilitas publik, konsep perpustakaan berkembang menyesuaikan kebutuhan publik di eranya. Tak jarang perpustakaan kini menjadi urban plaza di mana masyarakat berkumpul dan berinteraksi. Fasilitas yang disediakan perpustakaan modern pun sangat beragam seperti ruang rapat, tempat seminar, dan terkadang juga tempat pertunjukan seni atau galeri. Tren konsep ini sebenarnya mulai muncul di beberapa perpustakaan modern di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Kasus yang diangkat di makalah ini adalah Perpustakaan Daerah Provinsi baru milik Pemerintah Provinsi DIY yang kemudian diberi nama Grhatama Pustaka Yogyakarta. Pada bangunan ini konsep fungsinya sudah mencirikan perpustakaan modern. Sayangnya, beberapa eksekusi desainnya kurang layak/memadai. Menanggapi permasalahan eksisting ini, penulis mengangkat judul �Perpustakaan Umum DIY sebagai Art and Cultural Learning Center dengan Pendekatan Interactive Architecture�. Perpaduan fungsi perpustakaan dengan art and cultural learning center dipilih karena sesuai dengan konsep perpustakaan modern dan sesuai dengan karakter Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya, sehingga character-based design yang dibangun tidak hanya sebatas desain visualnya saja tetapi juga desain fungsional ruangnya. Sementara itu, arsitektur interaktif merupakan bidang ilmu arsitektur yang mempelajari bagaimana membuat ruang dinamis yang dapat merespon pengguna. Sebuah objek bangunan yang interaktif ini tentunya merupakan hasil dari pemikiran kreatif dari arsitek yang memiliki pemikiran keruangan dengan ahli teknologi yang mampu mewujudkan gagasan tersebut. Pendekatan interactive architecture (arsitektur interaktif) ini dipilih juga berdasarkan perkembangan teknologi era kini dan karakter seni dan kreatif yang mendarah daging di masyakarat Yogyakarta. Tujuan dari gagasan perancangan ini adalah menciptakan sebuah perpustakaan yang mampu menjadi pusat masyarakat urban berinteraksi. Harapannya, dengan disesuaikannya konsep yang sustainable dan sesuai dengan karakter masyarakat kota, perpustakaan dapat tumbuh menjadi peningkat kualitas sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya di Yogyakarta pada umumnya dan di lingkungan sekitar bangunan pada khususnya. Berdasarkan preseden-preseden yang ada, tak jarang perpustakaan kota/daerah memadukan fungsinya dengan cultural center. Hal yang ingin dicapai biasanya adalah untuk menciptakan pusat pembelajaran dengan konsep one-stop learning center. Mereka yang berkunjung ke perpustakaan tersebut, baik masyarakat lokal maupun pendatang, dapat mempelajari suatu kota/daerah secara kognitif melaui literatur buku dan afektif melalui workshop dan praktek, sehingga perpustakaan tersebut benar-benar menjadi ikon dari suatu kota/daerah dalam perspektif konten/media pembelajaran yang disajikan. Konsep yang diangkat dalam menanggapi isu permasalahan perpustakaan yang ada terdiri atas tiga poin penting yaitu, character-based design, avant-garde design, dan intelligent space. Poin desain berbasis karakter ini tidak hanya dimunculkan pada desain ornamen fisik, tetapi juga pada fungsi bangunan. Desain inovatif dan baru juga dibutuhkan untuk menyesuaikan desain perpustakaan era kini. Sebagai pusat aktivitas masyarakat dalam bidang edukasi, adanya elemen desain interaktif diharapkan mampu meningkatkan atmosfer edukatif dalam bangunan dan juga memicu interaksi sosial di tengah masyarakat.
As a public facility, library�s design concept has developed in order to meet public needs. These days, modern public expands its function into urban plaza, where people gather and socialize. The facilities provided in public modern such as meeting room, seminar room, and performing art center or gallery. The trend of this concept actually has begun to appear in some modern libraries in Indonesia, especially in Yogyakarta. The discussed case in this paper is the Provincial Library of D I Yogyakarta which is then named Grhatama Pustaka Yogyakarta. In this building, the concept of function has characterized the modern library. Unfortunately, some of the design execution is less feasible / adequate. In response to this existing problem, the writer comes up with the title "Yogyakarta Public Library as Art and Cultural Learning Center: Interactive Architecture as Design Approach". The combination of library and art & cultural learning center is chosen because it is in accordance with the concept of modern library and the character of Yogyakarta as a city of students and cultural city, so the character-based design is built not only limited to visual design but also its functional design. Meanwhile, interactive architecture is an architectural field that studies how to create dynamic spaces that respond to the users. An interactive object of a building is certainly the result of creative thinking from architects who have spatial thinking and technology experts who are able to realize the idea. The approach of interactive architecture is also chosen based on technological development in present era and the ingrained art and creative character in Yogyakarta society. The purpose of this design idea is to create a library that is able to become the center of urban interaction. It is hoped that with the concept of sustainable and in accordance with the character of urban society, libraries can increase the social, economic, environmental and cultural quality in Yogyakarta in general and in the environment around the building in particular. Based on the chosen precedents, a city or regional library usualy integrates its function with the cultural center. The purpose is usually to create a learning center with the concept of one-stop learning center. Those who visit the library, both locals and foreigners, can study a city cognitively through books and affectively through workshops and practices. This could make the library as a truly icon of the city in the perspective of learning content and media presented. The concept to answer existing library�s issues consists of three important points, character-based design, avant-garde design, and intelligent space. These character-based design points are not only given in physical ornament designs, but also in building functions. New and innovative designs are also needed to customize the design of today's library. As a center of community activity in the field of education, the existence of interactive design elements is expected to improve the educational atmosphere in the building and also trigger social interaction in the community.
Kata Kunci : perpustakaan modern, art and cultural learning center, interactive architecture, urban plaza, karakter kota / modern library, art and cultural learning center, interactive architecture, urban plaza, city character