KEMITRAAN ORGANISASI NGUDI MAKMUR DENGAN BPP KECAMATAN PIYUNGAN DAN BLH KABUPATEN BANTUL DALAM MEWUJUDKAN PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI DI DESA SITIMULYO, PIYUNGAN, BANTUL
SEPTIKA WARDANI, Dr. Ratminto, M.Pol.. Admin.
2017 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tiga tempat pembuangan akhir, yakni TPA Piyungan, TPA Banyuroto dan TPA Baleharjo. Diantara ketiga TPA tersebut, TPA Piyungan menampung jumlah sampah terbesar karena merupakan tempat pembuangan sampah akhir bagi Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Kondisi TPA Piyungan kini sangat memprihatinkan karena kapasitasnya sebagai lokasi penampungan akhir sudah hampir tidak mampu lagi menampung sampah. Pengelolaan yang telah dilakukan oleh pemerintah masih belum dapat sepenuhnya mengatasi masalah sampah, sehingga dibutuhkan kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat untuk menangani hal tersebut. Salah satu yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan melaksanakan pengelolaan sampah mandiri seperti yang digiatkan oleh organisasi Ngudi Makmur, di Desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Akan tetapi, dalam praktiknya kegiatan pengelolaan sampah mandiri ini masih terkendala beberapa permasalahan, sehingga dilaksanakan kemitraan bersama BPP Piyungan dan BLH Kabupaten Bantul untuk membantu mewujudkan kegiatan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan guna mengetahui proses kemitraan antara organisasi Ngudi Makmur dengan BPP Kecamatan Piyungan dan BLH Kabupaten Bantul dalam rangka mewujudkan pengelolaan sampah mandiri di Desa Sitimulyo. Penelitian ini berfokus pada bagaimana proses kemitraan dilaksanakan sehingga mempengaruhi keberdayaan masyarakat Desa Sitimulyo dalam pengelolaan sampah mandiri, khususnya dalam kegiatan pengelolaan sampah menjadi pupuk organik dan kriya. Metode kualitatif deskriptif dipilih supaya informasi yang diperoleh lebih mendalam dan komprehensif. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dukungan data sekunder maupun literatur. Pihak-pihak yang bermitra memiliki status dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu terdapat tiga hal yang diidentifikasi dalam hubungan kemitraan ini yaitu aspek, model dan prinsip kemitraan. Tiga hal tersebut penting sebagai landasan untuk melaksanakan kemitraan supaya dapat membantu terwujudnya keberdayaan dalam pengelolaan sampah di Desa Sitimulyo. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa kemitraan ini berjalan dengan cukup baik. Aspek kemitraan dilaksanakan dengan pembinaan dan pelatihan, pemberian bantuan sarana dan prasarana serta pendayagunaan dan pemasaran produk. Model kemitraan yang dilaksanakan yaitu model Linear Collaborative of Partnership. Prinsip kemitraan yang diterapkan yaitu prinsip kesetaraan, keterbukaan dan asas saling menguntungkan. Selanjutnya apabila dilihat dari proses yang telah dilaksanakan, kemitraan ini mampu meningkatkan keberdayaan khususnya bagi anggota organisasi Ngudi Makmur, dan telah memberikan perubahan positif bagi masyarakat di luar organisasi. Namun, tanpa mengesampingkan manfaat dan dampak positif yang telah dicapai, dalam kemitraan masih terdapat kelemahan yaitu belum optimalnya program pemasaran yang dilaksanakan. Selain itu, hasil dari kemitraan ini belum mampu menjangkau seluruh masyarakat Desa Sitimulyo sehingga belum dapat sepenuhnya memberdayakan masyarakat Desa Sitimulyo. Berdasarkan hasil penelitian ini maka direkomendasikan dua hal. Pertama, optimalisasi program pemasaran melalui pembinaan dan pelatihan penggunaan internet sebagai media pemasaran. Kedua, melibatkan pihak swasta dalam kemitraan guna membantu membuka akses pasar yang lebih luas sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah mandiri.
The landfill of Piyungan in Yogyakarta could no longer able to accommodate the waste, so this is important to be taken into account. This issue not only becomes the responsibility of government, but also the citizens. Citizens can reduce the amount of waste by implementing community-based waste management as practiced by Ngudi Makmur Group. However, this community-based waste management practiced by Ngudi Makmur Group still has some problems. Thus, it is important to have a partnership with BPP Piyungan and BLH Kabupaten Bantul. This kind of partnership focuses on recycling the waste into organic fertilizer and crafts. There are certain aspect, model, and principles that need to be noted in order to help the actors reach the goal of this partnership. This research used qualitative method. The data were collected directly through interviews and observations. In addition, to support the primary data, the study literature is also used as a secondary data. The result of this research is the partnership is going well and able to increase the community empowerment of Ngudi Makmur Group. Furthermore, there is a positive impact to the society around the community. However, there are some shortcoming due to this partnership, for example the marketing aspect is not well-established, resulting in unable to empower all levels of society in Sitimulyo Village. Thus, the recommendation from this research is, firstly, optimizing the marketing program, and secondly, involving private sectors in the partnership scheme.
Kata Kunci : Partnership, empowerment, community-based waste management