Laporkan Masalah

Remitan Buruh Migran Indonesia dalam Sudut Pandang Keluarga (Studi Tentang Pandangan Keluarga Buruh Migran Terhadap Remitan di Desa Tracap, Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo)

ELIZABETH KAMARATRI, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si.

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri merupakan bagian dari sejarah panjang ketenagakerjaan di Indonesia. Ketidakseimbangan jumlah tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan kerja menjadi alasan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan tersebut sebagai jalan keluar dari permasalahan ketenagakerjaan. Strategi ini mendatangkan pemasukan yang terbilang besar bagi negara, sangat besar bahkan sehingga para buruh migran ini dijuluki sebagai pahlawan devisa. Namun kemudian muncul pertanyaan, bagaimanakah keluarga memandang remitan yang jumlahnya menembus hitungan triliyun dalam setiap tahunnya ini? Tulisan ini mencoba untuk menjawabnya dengan menggali lebih dalam penggunaan remitan oleh keluarga buruh migran di Desa Tracap, Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo. Riset ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan purposive sampling untuk menentukan informan. Keluarga yang dipilih adalah keluarga yang memiliki status hubungan dengan buruh migran. Hasil riset menunjukkan bahwa penggunaan remitan oleh keluarga dipengaruhi oleh frekuensi dan besaran remitan yang dikirim oleh buruh migran kepada keluarga di Desa Tracap. Dari hasil wawancara dengan ke-empat narasumber diketahui bahwa penggunaan remitan di Desa Tracap adalah untuk membayar hutang, menyokong keluarga, pendidikan anak, dan modal usaha. Selain itu ditemukan pula penggunaan lain dari remitan yaitu untuk berjudi serta membeli minuman keras. Dari temuan di atas, terdapat tiga pandangan keluarga di Desa Tracap terhadap remitan, yaitu: Pertama, remitan sebagai sumber penghidupan utama maupun tambahan keluarga. Remitan yang meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun tetap menjadi pilihan untuk menggantungkan nasib perekonomian keluarga dan dianggap sebagai alat untuk menjaga hubungan antara buruh migran dengan keluarga. Kedua, pandangan terhadap remitan sebagai sarana untuk meningkatkan status sosial keluarga yang dilihat melalui pakaian, aksesoris/perhiasan tubuh, hingga bentuk rumah yang menyebabkan keluarga mendapat penghargaan lebih dari masyarakat. Ketiga, remitan dipandang sebagai penunjang aktifitas yang bersifat meresahkan seperti judi, mabuk-mabukan, bahkan perselingkuhan.

The migration of labour overseas is a part of long history of employment in Indonesia. Imbalance number of workers towards availability of employment becomes a reason for government to stipulate policy as a solution for employment issues. This strategy brings out a huge amount of income for the state, very huge as the migrant workers are labelled as devisa hero. Nevertheless, a question raised, how their family views remittance which reaches billions Indonesia Rupiah annually? This research will answer the question by exploring further the spending of remittance by a migrant workers family in Tracap village, Kaliwiro, Wonosobo. This research applies qualitative method with purposive sampling in order to identify informants. The chosen families are families which have familial relationship with migrant workers. The finding shows that the spending of remittance by family is determined by frequency and remittance nominal value transferred by the migrant workers to their families in Tracap. Based on the intervies with four informants, it was found that the remittance in Tracap village was spent to pay debts, support family life, child education and business capital. Besides, it was also found that the remittance was also spent for gambling and alcohol consumption. Based on the finding above, there are three family perspectives in Tracap towards remittance: First, the remittances as the main source of living and family support. Although the nominal value was not big, yet still becomes an option for family economy life and it was regarded as a tool to maintain relationship between families and migrant workers. Second, the remittance was a mean to enhance family’s social status as seen from clothes, accesories/jewellry, even house design that will bring higher recognition from the society. Third, the remittance was viewed to support troubling activities such as gambling, drinking, even affair.

Kata Kunci : pandangan keluarga, remitan, buruh migran

  1. S1-2017-282991-abstract.pdf  
  2. S1-2017-282991-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-282991-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-282991-title.pdf