Analisis Struktur Biaya Logistik Industri Gula Semut
HESTI NOVITA SARI, Adi Djoko Guritno; Arita Dewi Nugrahini
2017 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANINTISARI Gula semut adalah salah satu produk hasil olahan dari nira kelapa dan gula dengan konsumen gula semut yang berasal dari Amerika, Eropa, dan Asia. Di Kabupaten Kulonprogo terdapat tiga sentra produksi gula semut ialah KSU. Jatirogo, KUB. Tiwi Manunggal, dan CV. Menoreh Politan. Ketiga sentra tersebut terletak di Kecamatan Kokap yang merupakan kecamatan dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Kabupaten Kulonprogo. Hampir sebagian besar mereka memproduksi gula dari nira kelapa. Pendapatan masyarakat dapat ditingkatkan melalui peningkatan profit margin industri gula semut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola rantai pasokan gula semut, mengidentifikasi biaya logistik di masing-masing tier supply, mengetahui besarnya profit margin dan memberikan usulan untuk meningkatkan profit margin. Penelitian dilakukan di ketiga sentra industri gula semut menggunakan metode snowball dan convenience sampling melalui indepth interview kepada pelaku industri gula semut. Berdasarkan hasil wawancara, dapat diketahui alur rantai pasokan industri gula semut. Data yang diperoleh diolah untuk menentukan besarnya struktur biaya logistik dan profit margin. Selanjutnya, dilakukan analisis biaya logistik dan profit margin di masing-masing tier. Khusus untuk biaya logistik, dilakukan pembandingan biaya logistik untuk melihat besarnya dan penyebab adanya perbedaan biaya di tiap tier dari ketiga sentra. Melalui analisis dan pembandingan tersebut, dapat dievaluasi dan diberikan usulan untuk meningkatkan profit margin di masing-masing tier. Secara keseluruhan, terdapat 14 alur rantai pasok yang ada di industri gula semut yang di dalamnya terdapat 6 tier rantai pasokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan biaya logistik di industri gula semut adalah senilai Rp. 8554,37 dengan biaya terbesar terdapat pada aktivitas logistik penanganan bahan sebesar 71,25%. Nilai profit margin tertinggi diperoleh pada tier pertama ialah pada petani gula bathok dengan profit margin antara 75,13% - 78,44% dan pada petani gula semut antara 70,83% - 81,41%. Solusi diusulkan melalui penerapan hal yang telah diterapkan pada masing-masing tier di setiap biaya logistik yang memiliki biaya paling rendah.
ABSTRACT Coconut sugar is one of the processed product derived from coconut sap. Its consumers are mainly from America, Europe, and Asia countries. There are three production centers in Kulonprogo regency, they are KSU Jatirogo, KUB Tiwi Manunggal, and CV Manoreh Politan. They are located in Kokap district which has highest rate of poverty in Kulomprogo regency. Most of their residents occupation is making coconut sugar from coconut sap. Their income can be increased by increasing the profit margin of coconut sugar industry. The aims of this research are to identify the supply chain of coconut sugar, to identify the logistics cost on each tier supply, to know the amount of profit margin, and also to give advices about how to increasing their profit margin. The research is conducted at three coconut sugars center production using snowball method and convenience sampling method with indepth interview to its subject. Based on the interview result, we can find out about the supply chain of coconut sugar. The data can be used to analyzing the logistics costs and profit margin. After that, we can analize the logistics cost and profit margin on each tier. The comparison of logistics costs is done particularly to logistisc costs only to know the amount and the cause of cost differences between each tier. From the analyzes itself can be used to evaluate and after that given some advices to increase the profit margin in each tier. Overall, there are 14 supply chain routes in the coconut sugars industry and there are 6 tier supply chain inside. The result showed that total logistic cost in cococnut sugar industry are Rp 8554,37 with thebigest cost is in materials handling logisticss activities which has 71.25% . The highest profit margin is in first tier which is the bathok sugar farmers with margin profit between 75,13% - 78,44% and also in coconut sugar farmer bertween 70,83% - 81,41%. The advice that suggested by researcher is using application in each tier that has minimum logistics cost.
Kata Kunci : biaya logistik, gula semut, profit margin, rantai pasok