EVALUASI PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA SOEPRAPTO BENGKULU
NYIMAS FETI ASMARA, Dr. Dra. Erna Kristin, M.Si.
2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Kekosongan obat merupakan masalah dalam pelayanan farmasi yang penting untuk ditindaklanjuti dengan segera karena obat merupakan bagian utama dalam proses penyembuhan penyakit. Kekosongan obat yang dialami oleh Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu dapat mengganggu jalannya pelayanan. Jumlah kunjungan pasien BPJS terus meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2015 jumlah kunjungan pasien 17.500 jiwa dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 18.672 jiwa, maka kebutuhan obat juga terus meningkat. Menurut program JKN, seluruh rakyat Indonesia mendapatkan kepastian layanan dan kepastian memperoleh pengobatan sesuai dengan penyakitnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi proses perencanaan dan pengadaan obat di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu beserta hambatan-hambatan yang mempengaruhi ketersediaan obat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan data retrospektif . Hasil: Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengadaan obat belum sesuai dengan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) serta kekosongan obat terjadi karena ada beberapa obat jiwa tidak tersedia di e-katalog serta terbatasnya stok obat pada distributor sehingga RSKJ Soeprapto mengalami kesulitan untuk pengadaan obat. Kesimpulan: Hitungan perencanaan obat dengan metode konsumsi belum tepat, tidak semua obat yang ada di fornas masuk dalam e-katalog, untuk pengadaan obat di RSKJ Soeprapto lebih banyak menggunakan penunjukan langsung (manual) dikarenakan ketersediaan obat sangat terbatas di pabrik dan kebutuhan obat yang perlu segera tersedia. Hambatan pengadaan obat di RSKJ Soeprapto Bengkulu salah satunya adalah kekosongan obat di pabrik. Solusi untuk mengatasi kekosongan obat dilakukan pembelian obat lain yang memiliki isi dan kandungan yang sama memberi informasi kepada instansi pemerintah terkait tentang kekosongan obat ini.
Background: Drugs is a major part in healing process, so lack of drugs is an important issue on pharmacy services and need to be resolved immediately. Drugs emptiness has occured in Soeprapto Mental Hospital Bengkulu and it has disrupted pharmacy services. Number of national health insurance's patients visits has showed improvement each year. Number of patient visit on 2015 are 17.500 patient and increasing on 2016 becomes 18.672 patients. Patient improvement should followed by drugs improvement to provides health assurance and medication for the diseases according to the expectation of National Health Insurance. . Objective: Evaluating drugs planning and procurement in Soeprapto Mental Health Bengkulu also obstacles on drugs availability. Method: Methods use are qualitatives with cased study approaches and using retrospective data. Result: Result showed drugs procurement was not fully guided by Planning of Drugs Need. Drug emptiness in mental hospital due to unavailability of E-catalog and limited of drugs supply from the distributors. All problems causing drugs procurement difficulty in Soeprapto Mental Hospital Bengkulu. Conclusion: Measurement on drugs planning according to consumption method is not appropriate. Planning of drugs is already according to the National Formulation Document, while the drugs procurement often based on direct appointment due to drug emptiness in the factory to supply drugs. Obstacle of drugs procurement in Soeprapto Mental Hospital Bengkulu is drugs emptiness in factory. The solution to eliminates drugs emptiness are by purchasing other drugs with same content and giving information to related government institution about drug emptiness.
Kata Kunci : perencanaan, pengadaan obat, hambatan, Planning, Drugs Procurement, Obstacles