Mekanisme Hubungan Resiprokal Diantara Jepang, Malaysia, dan Thailand Dalam Kebijakan Exemption of Visa Tahun 2013
IGNATIUS STANLEY, Drs. Usmar Salam, M.I.S.
2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALJepang merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki perkembangan industri dan ekonomi yang mengesankan. Seiring berjalannya waktu, Jepang semakin mendapatkan persaingan yang ketat dari sektor industri dan perdagangan dari China dan Korea Selatan di kawasan Asia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi Jepang dalam mempertahankan dominasinya di Asia. Untuk itu, Jepang mulai memanfaatkan sektor lainnya agar dapat terus berkembang dan mendominasi. Salah satu sektor yang dimanfaatkan Jepang adalah pariwisata. Jepang mulai fokus mengembangkan sektor pariwisatanya semenjak Perdana Menteri Koizumi menerapkan inbound tourism. Inbound tourism di Jepang terus berlanjut hingga pada masa kepemimpinan Shinzo Abe. Salah satu kebijakan yang dicetuskan Abe dalam sektor pariwisata adalah kebijakan Exemption of Visa yang mulai diterapkan pada tahun 2013. Thailand dan Malaysia merupakan dua negara pertama yang mendapatkan jatah bebas visa tersebut dari Jepang. Hubungan yang baik diantara Jepang, Malaysia, dan Thailand menjadi sebuah pemicu dalam diterapkannya kebijakan EOV Jepang pada tahun 2013 ini. Penelitian ini akan membahas mengenai mekanisme Jepang dalam menerapkan kebijakan EOV pada tahun 2013 terhadap Malaysia dan Thailand. Secara lebih jauh, penelitian juga turut menjelaskan hubungan resiprokal yang terjadi diantara Jepang, Malaysia, dan Thailand, yang dikolaborasikan dengan teori resiprositas dan tit for tat. Penjelasan ini juga akan membahas berbagai macam bentuk kepentingan, riwayat hubungan, dan pertimbangan diantara ketiga aktor tersebut. Pada akhirnya, penelitian ini akan dapat digunakan untuk menambah kajian pada bidang pariwisata hubungan internasional dan juga ketersediaan informasi perihal kebijakan-kebijakan visa.
Japan is one of the most developed country in the world, that has impressive industrial and economic development. However, Japan faces high competitiveness from China and South Korea related to its industrial and trade sectors. In order to keep dominate and profitable, Japan began to engage tourism sector. Since the era of the Prime Minister Koizumi, Japan initially switched its tourism policy from outbond to inbound. Inbound tourism keep developing and continuing until the era of the Prime Minister Shinzo Abe in 2012. One of the policies Abe initiated on tourism sector is the Exemption of Visa (EOV) policy, which was implemented back in 2013. Thailand and Malaysia are the two first country to obtain the visa-free quota from Japan. The reciprocal and sustainable relations between those actors, boost the EOV Japan policy implementation in 2013. This research will examine the mechanism of EOV Japan policy implementation in 2013. Furthermore, this research will elaborate the reciprocal relationships between Japan, Malaysia, and Thailand, and analyze it by using the theory of reciprocity and tit for tat. Moreover, this examination will provide the explanation of various interests, relationship histories, and deliberations among those three actors. Eventually, this research is aim to provide further knowledge on tourism in international relations studies, and the availability of information related to visa policies.
Kata Kunci : inbound tourism, kebijakan pariwisata, Exemption of Visa, Jepang, Thailand, Malaysia, resiprositas, tit for tat. / inbound tourism, tourism policy, Exemption of Visa, Japan, Thailand, Malaysia, reciprocity, tit for tat.