Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Kesejahteraan Keluarga Pelaku Pernikahan Usia Remaja di Kecamatan Cisayong
TINA RAHIM, Dr. Andri Kurniawan, M.Si.
2017 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPernikahan usia remaja merupakan permasalahan di masa lampau, adanya paradigma perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena takdir perempuan adalah mengurus dapur. Pemikiran itu rupanya masih terjadi, pada era perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama, era emansipasi wanita. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tingkat pendidikan terhadap kesejahteraan keluarga bagi para pelaku pernikahan usia remaja. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, provinsi yang cukup dikenal karena maraknya pernikahan usia remaja terjadi. Metode yang digunkan metode kualitatif dengan teknik survei dan wawancara serta dianalisis menggunakan cross tab dengan teknik analisis deskriptif.. Wawancara dilakukan pada 30 responden yang menikah padarentang usia 15-19 tahun pada tahun 1998 di Kecamatan Cisayong. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesejahteraan keluarga di Kecamatan Cisayong dipengaruhi oleh usia nikah pertama, perceraian dan pernikahan kedua. Tingkat kesejahteraan di dominasi oleh tahapan Keluarga Sejahtera I (KSI) dengan rentang usia nikah pertama 17-18 tahun. Namun demikian, tingkat kesejahteraan keluarga tidak memiliki hubungan dengan tingkat pendidikan tetapi lebih dipengaruhi warisan. Hasil wawancara menyebutkan bahwa pernikahan usia remaja merupakan hal yang dianggap wajar sebab pendidikan pada saat itu belum dianggap penting, terutama untuk wanita.
Early marriage was a problem that woman can not have a good education just because they will ended up become a housewife and do the housewife work. This paradigm still happening in this modern equality gender era. Therefore this research is aimed to seek a correlation between education background to family welfare on early marriages family. The location of this study was in District Cisayong, Regency Tasikmalaya, Province West Java which well known as an early marriage places. This research used qualitative method, survey and cross tab with descriptive analysis technique. Survey used to asses the level of early marriage's family welfare by using BKKBN's rule about the level of welfare. interview performed on 30 respondent who married on 1988 by age 15-19 years old. The result of this research decribed that first marriage age, divorce and second marriage had correlation with family welfare and dominated by age 17-18 years old. Meanwhile, family welfare had no correlation with education background. Back in the day early marriage was a common sense especially for a woman. Keywords: Education, early marriage, family welfare, District Cisayong
Kata Kunci : pendidikan, pernikahan usia remaja, kesejahteraan keluarga, Kecamatan Cisayong / Education, early marriage, family welfare, District Cisayong