Laporkan Masalah

Permintaan Ekspor Kakao Indonesia di Pasar Internasional

AULIA PRILLIYANTI DWIPUTRI, Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, M.S. ; Prof. Dr. Ir. Masyhuri ; Dr. Jamhari, S.P., M.P.

2017 | Skripsi | S1 SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (AGROBISNIS)

Penelitian ini bertujuan untuk: (i) mengetahui trend permintaan ekspor kakao Indonesia di pasar internasional dan (ii) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kakao Indonesia. Fokus dari penelitian ini adalah menganalisis permintaan ekspor biji kakao Indonesia di pasar internasional periode 1985 hingga 2015 dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan data, saat ini Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai penghasil dan pengekspor biji kakao setelah Pantai Gading dan Ghana. Permintaan biji kakao dunia diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya namun persediaan dunia semakin menurun. Biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk mentah, baik yang telah difermentasi maupun yang belum difermentasi. Harga biji kakao yang telah melalui proses fermentasi memiliki harga yang lebih tinggi daripada yang belum difermentasi, namu pada umumnya petani kakao di Indonesia belum sepenuhnya melakukan proses fermentasi dikarenakan membutuhkan waktu yang lebih lama sedangkan petani membutuhkan uang lebih cepat, sehingga harga biji kakao Indonesia cenderung lebih rendah. Adapun pokok permasalahan dari penelitian ini adalah permintaan akan biji kakao Indonesia mengalami fluktuasi setiap tahunnya dan pada periode 2010 hingga 2015 mengalami penurunan. Penemuan dari penelitian ini sebagai berikut: trend permintaan ekspor biji kakao Indonesia ke Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura berfluktuasi dengan Malaysia sebagai negara pengimpor biji kakao Indonesia terbesar (ii) di negara Amerika Serikat, variabel yang berpengaruh adalah GDP per kapita, inflasi, dan pertumbuhan jumlah penduduk (iii) di negara Malaysia, variabel yang berpengaruh adalah GDP per kapita dan harga kakao Pantai Gading, dan (iv) di negara Singapura variabel yang berpengaruh adalah GDP per kapita, inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan harga kakao Pantai Gading.

This study aims to: (i) determine the trend of demand for Indonesian cocoa exports in the international market, and (ii) determine the factors that influence the Indonesian cocoa exports. The focus of this study is to analyze the demand for Indonesian cocoa exports in the international market the period 1985 to 2015 by using ordinary least squares (OLS). Based on the data, Indonesia ranks third in the world as a producer and exporter of cocoa after Ivory Coast and Ghana. The world cocoa demand is expected to increase every year but declining world supply. Indonesian cocoa is exported in raw form, either fermented or not fermented. The price of cocoa beans through a fermentation process have a higher price than that has not been fermented, namu generally cocoa farmers in Indonesia has not fully carry out the fermentation process due to take longer while the farmers need the money more quickly, so the price of Indonesian cocoa beans tend to be more low. The subject matter of this study is the demand for Indonesian cocoa fluctuated each year and in the period 2010 to 2015 has decreased. The findings from this study as follows: the trend of demand for Indonesian cocoa exports to the United States, Malaysia, and Singapore fluctuate with Malaysia as a net importer of Indonesian cocoa largest (ii) in the United States, influential variable is GDP per capita, inflation, and population growth (iii) in the Malaysian state, influential variable is GDP per capita and the price of cocoa Côte d'Ivoire, and (iv) in the state of Singapore influential variable is GDP per capita, inflation, population growth, and the price of cocoa Ivory Coast.

Kata Kunci : permintaan, volume ekspor, GDP, inflasi, pertumbuhan penduduk, harga, OLS

  1. S1-2017-345758-abstract.pdf  
  2. S1-2017-345758-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-345758-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-345758-title.pdf