Laporkan Masalah

PROYEKSI KEBUTUHAN LAHAN PERMUKIMAN DI KOTA SORONG DARI TAHUN 2015 SAMPAI DENGAN 2025

RESDA WIDHI ARSTUTI, Ir. Untung Rahardjo, M.T.

2017 | Skripsi | S1 TEKNIK GEODESI

Jumlah penduduk Kota Sorong dari tahun ke tahun semakin meningkat. Faktor penyebab bertambahnya jumlah penduduk diakibatkan adanya kelahiran dan perpindahan penduduk. Kota Sorong sering dijadikan daerah dengan tujuan untuk mencari penghasilan bagi warga Kota Sorong maupun pendatang yang berasal dari kota lain baik dari Wilayah Papua maupun kota-kota di luar Wilayah Papua. Banyaknya pendatang yang tinggal di Kota Sorong mengakibatkan kebutuhan lahan permukiman meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kebutuhan lahan permukiman Kota Sorong tahun 2015 s.d 2025. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data kependudukan terdiri dari data jumlah penduduk, data jumlah bangunan serta data RTRW berupa penggunaan lahan, kondisi topografi dan pola ruang Kota Sorong. Adapun tahapan dalam menghitung proyeksi kebutuhan lahan permukiman yaitu pertama, menghitung proyeksi jumlah penduduk. Proyeksi jumlah penduduk dapat diketahui dengan menghitung kepadatan penduduk permukiman, kemudian dilanjutkan dengan menghitung laju pertumbuhan penduduk. Tahapan selanjutnya yaitu menghitung proyeksi kebutuhan lahan permukiman, dilakukan dengan analisis regresi linier sederhana dan dilanjutkan dengan menghitung rata-rata luas permukiman per jiwa. Estimasi kebutuhan lahan permukiman Kota Sorong tahun 2015 seluas 69,522 Km² sedangkan pada tahun 2025 seluas 106,600 Km². Terdapat peningkatan seluas 37,078 Km² atau sebesar 53,3 %. Kawasan yang paling sesuai untuk pengembangan lahan permukiman pada rentang tahun 2015 s.d 2020 berada di Kelurahan Klademak, Klakublik, Klagete, Malanu dan sebagian Kelurahan Rufei, Remu Utara dan Kelurahan Klabala sedangkan untuk rentang tahun 2021 s.d 2025 berada di Kelurahan Tanjung Kasuari, Saoka, Matamalagi dan sebagian kecil Kelurahan Klawasi, Rufei dan Klablim.

The population in Sorong city has been increased from year to year, it is caused by the birth rate and migration. Sorong city is an area which often used to earning money for citizens and migrants from the other city either inside or outside Papua. Number of migrants who live in Sorong city causing requirement of residential land increase. This research aims to predict the residential land requirement in Sorong City from 2015 to 2025. This research was conducted using population data, comprising data of population, number of buildings data and spatial data such as land use, topography and Sorong spatial pattern. There are some stages to calculate projection of residential land requirement. First, calculate the population projection. Projection of population can be determined by calculating the population density of residances, followed by calculate the rate of population growth. After that, calculate the projection residential land requirement. Projected residential land requirement with simple linear regression analysis and continued with calculate the average area of residence per person. The residential land requirement in Sorong city has been estimated in 2015 with 69,522 Km² of total area while in 2025 it grows into 106,600 Km². So, the residential land requirement increase to 37,078 Km² or 53,3 % of total amount. The region which most suitable for residential land development in 2015 to 2020 refer to some aspects such as slope, free from protected area, disaster-prone area, accessibility and infrastructure aspect are Klademak, Klakublik, Klagete, Malanu and partly in Rufei, Remu Utara and Klabala whereas in 2021 to 2025 are Tanjung Kasuari, Saoka, Matamalagi and partly in Klawasi, Rufei and Klablim.

Kata Kunci : proyeksi, permukiman, kesesuian lahan

  1. S1-2017-330237-abstract.pdf  
  2. S1-2017-330237-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-330237-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-330237-title.pdf