Prestasi Atlet dan Relasi Kuasa dalam Olahraga Softball: Studi Kasus PON XIX Jawa Barat 2016
AMALINA FARAHIYA, Dana Hasibuan, M.A
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIABSTRAK Persaingan antar daerah dalam Pekan Olahraga Nasional ke-19 merupakan sebuah hal yang lazim. Hal itu terjadi karena masing-masing daerah ingin menunjukkan kekuatan yang dimiliki sehingga memunculkan unggulan masing-masing cabang olahraga. Persaingan dipicu oleh keterbatasan pendanaan dan prestasi yang dihasilkan oleh cabang olahraga yang bersangkutan. Oleh karena itu setiap cabang olahraga, tak terkecuali olahraga softball yang mengirimkan tim putra dan putri memiliki unggulan dan prioritas yang menyebabkan diturunkannya kekuasaan kepada sebelah pihak. Pemberian unggulan dan prioritas tersebut didasarkan atas kekuasaan yang dipahami sebagai alat untuk mengendalikan orang atau masyarakat lain agar mereka dapat tunduk atas kekuasaan yang digenggam. Bagi Bourdieu, olahraga softball tergolong sebagai olahraga elit sehingga dinilai dapat menentukan posisi olahraga tersebut dalam PON. Modal ekonomi, kultural, sosial, dan simbolik dinilai memiliki peranan penting dalam melihat softball sebagai olahraga elit dalam arena PON. Dengan diklasifikasikannya softball sebagai olahraga elit, hal ini menyebabkan timbulnya wacana target yang dibentuk oleh pengurus daerah. Wacana yang diberikan oleh pengurus daerah berupa beban "target" yang berafiliasi terhadap keempat modal Bourdieu dalam bentuk tryout, peralatan, fasilitas karantina, dan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus sebagai alat untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam PON. Akibatnya, para atlet yang berada di bawah relasi kuasa secara sadar maupun tidak akan menjalankan wacana yang dilanggengkan oleh pemilik kekuasaan. Sebagai implikasinya, prestasi para atlet menjadi sebuah hal yang dikorbankan hingga menimbulkan adanya "dual kerugianâ" dari sisi optimalisasi prestasi.
ABSTRACT A competition of each region in the 19th National Sports Week (Pekan Olahraga Nasional) was something which always happens. The phenomenon occurs since each region aimed to show the power in each subdivision of sports that they have. The competition was driven by the financial constraints and the lack of the achievement of one's subdivision of the sports. Hence, each subdivision of the sports which participated in the National Sports Week (Pekan Olahraga Nasional) had superiority and priority which led to revelation of the power to the party, one of them was softball. The revelation of superiority and priority was based on the power that was understood by one's as a tool to control a person or member of a society to be able to comply with the power that was believed. According to Bourdieu softball was categorized as an elite sport which determined the sport position in the National Sports Week (Pekan Olahraga Nasional). The economics, cultural, social, and symbolic assets were considered having a major role which determined softball as an elite sport in the National Sports Week (Pekan Olahraga Nasional). The classification of softball as an elite sport caused the emergence of target discourse which was formed by the region management. The discourse given by the region management was 'target' that affiliated towards Bourdieu's principal which were in the form of try-out, instruments, quarantine facilities, etc. Thus, this research used qualitative approach by applying case study to identify the problems that are found in the National Sports Week (Pekan Olahraga Nasional). As the result, athletes that were under power relations whether they were conscious or not would give a performance based on the discourse preserved by the power holder. As the implication, their achievements would be put aside and caused a 'dual loss' in terms of optimization of the achievement. Key word: Softball, Habitus, Power Relations, Hegemony, Discourse, National Sports Week.
Kata Kunci : Kata Kunci: Softball, Habitus, Relasi Kuasa, Hegemoni, Pekan Olahraga Nasional