Charisma and New Religious Movement and Cultural Revival in Konyak Naga: A Study of Female Charismatic Leadership and Religious Movement
CHUHWANGLIM, LEMWANG, Pdt. Dr. Yahya Wijaya and Prof. Mark Woodward
2017 | Disertasi | S3 INTER-RELIGIOUS STUDIESINTISARI Disertasi ini merupakan studi tentang Yahoi, seorang perempuan yang meyakini manifestasi roh karunia Ilahi, yang mengarah pada Gerakan Keagamaan Baru dalam kelompok suku asli di Mon, wilayah bagian timur India. Penelitian ini menguji bagaimana karisma membawa dampak signifikan terhadap munculnya kepemimpinan agama oleh perempuan dan hidupnya kembali kebudayaan, yang menarik banyak pengikut dan tumbuh cepat sebagai kelompok baru. Hal ini membawa pada pembentukan Gerakan Keagamaan Baru sebagai kelanjutan agama lama dengan sedikit praktik dan kegiatan keagamaan baru lainnya, yang tampak sebagai ajaran agama baru bagi kelompok dominan. Kepemimpinan perempuan ini merupakan fenomena istimewa yang menjadi sejarah di masyarakat Naga secara keseluruhan. Kepemimpinan karismatik perempuan ini memutus pemahaman kepemimpinan tradisional di gereja dan lembaga agama Konyak. Ini juga merupakan terobosan di dalam struktur sosial yang patriarkal bahwa munculnya kepemimpinan karismatik perempuan melibatkan partisipasi laki-laki dan perempuan yang mendukung kelangsungannya. Agaknya, hal ini memunculkan pengetahuan baru tentang fenomena sosial di masyarakat Konyak di mana para perempuan hampir tak punya tempat dibanding laki-laki dalam kepemimpinan keagamaan, tetapi Tuhan memperlakukan laki-laki dan perempuan setara dalam memimpin kelompok. Hal ini melahirkan disiplin baru yang mencabut penundukan peran perempuan dalam memimpin lembaga keagamaan. Kepemimpinan karismatik Yahoi adalah satu dari contoh terbaik dan terkuat yang mendorong para perempuan untuk berpartisipasi dalam kepemimpinan. Penelitian ini menerapkan metode etnografi dengan pengamatan partisipatif dan wawancara tatap muka yang mendalam sebagai sumber utama untuk mengenali temuan penelitian. Temuan-temuan umum penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki tidak berharap perempuan menjadi pemimpin lembaga keagamaan, dan perempuan dengan sendirinya menjadi tak berdaya di masyarakat Konyak. Studi ini mengadaptasi dua teori: 1). Teori kenabian yang secara normatif percaya untuk mewujudkan karisma roh suci Ilahiah yang memungkinkan pembentukan Gerakan Keagamaan Baru dan komunitas-komunitas baru (Al Makin 2016), 2). Teori feminis God Speaks to Us, Too, sangat substansial bagi kenabian laki-laki dan perempuan, bahwa tak ada bias gender dalam kepemimpinan keagamaan di masyarakat Konyak dan dalam konteks yang lebih luas. Kedua teori ini tidak bermaksud memicu laki-laki dan perempuan saling menantang tetapi untuk mengenali kapasitas perempuan dan laki-laki dalam memimpin agama. Penelitian ini berkontribusi pada studi akademis tentang agama-agaman dan khususnya dalam disiplin ilmu sosial di mana tradisi mendefinisikan karisma sebagai kekuasaan laki-laki perlu dipecah di otoritas bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk menerima. Terutama dalam konteks Kristen Baptis, istilah Baptisâ bermakna kebebasan, menurut Susan Shaw.
Abstract The dissertation is the study of Yahoi, a woman, who believes to manifest charisma the divine Gift of the Spiritâ, leads the New Religious Movement in the Konyak indigenous community in Mon, the eastern part of India. The research examines how charisma made a significant impact towards the emergence of women religious leadership and cultural revival that invites many adherents and makes the rapid growth as new community. It results to the formation of New Religious Movement as a continuation of the Old religion with few other new religious practices and activities which appear as new religious teaching for the predominant community. It is a remarkable phenomenon which becomes the historic female leadership among the Naga society in large. This female charismatic leadership breaks the traditional understanding of leadership in the church and religious institution of the Konyak. It is the breakthrough in a strong patriarchal social structure that the emergence of female charismatic leadership receives participation of men and women to support its sustenance. Comparatively, it emanates a new knowledge of social phenomenon among the Konyak that women have almost no places than men in religious leadership but God uses men and women equally to lead the community. It explores the new discipline to abrogate subjugating women from the role of leadership in religious institution. Yahoi charismatic leadership is one of the finest and strongest examples to encourage women to participate in leadership. Hence, charisma has no gender bias or charisma is genderless. This research applies ethnographic method with participant observation and in-depth face to face interview as the main source to identify the findings. The general findings of the research show that men do not expect women to become a leader in religious institution and women by themselves become powerless among the Konyaks. The study adapts two theories: 1). the theory of prophet which normatively believes to manifest charisma the divine Gift of the Holy Spirit to make the possibility of formation of New Religious Movement and new communities (Al Makin 2016), 2). A Feminist theory of God Speaks to Us, Too (Shaw. 2008), strongly substantiates the prophethood of men and women that there is no gender bias in becoming religious leader in the Konyak society and to a larger context. Both theories do not intrigues men and women to challenge one another but to identify the capabilities of women and men in religious leadership. This research contributes to the academic study of religion and particularly in the social sciences discipline that the tradition of defining charisma as male power needs to be fragmented to the authority that every human being has freedom to receive. Especially in the context of Baptist Christianity, the term Baptist means freedom, according to Susan Shaw.
Kata Kunci : charisma, prophet, women leadership, New Religious Movement, religion, culture