Pengelolaan Hutan Rakyat sebagai Aset Kolektif Penghidupan Berkelanjutan di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul
RETNO RAMADHANI, Doddy Aditya Iskandar, ST., MCP., Ph.D.
2017 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKondisi fisik yang kurang mendukung dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi membuat masyarakat melakukan pembaruan untuk meningkatkan kualitas hidup. Pembaruan tersebut berupa aktivitas yang pada awalnya dilakukan secara individu kemudian perlahan mengubah individu lainnya melalui adanya gerakan masyarakat. Gerakan masyarakat tersebut akan mempengaruhi proses pengelolaan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya pengelolaan hutan oleh masyarakat di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode penelitian induktif kualitatif yang bersifat grounded research dengan memproduksi teori dan abstraksi dari proses pengelolaan hutan rakyat di Desa Semoyo yang berasal dari pandangan narasumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi pengelolaan hutan rakyat sebagai aset kolektif penghidupan berkelanjutan yang dipengaruhi oleh 3 konsep, yaitu: 1) Transformasi kondisi lahan hutan rakyat, yang dipengaruhi oleh kondisi lahan tidak produktif, berkembangnya hutan rakyat, perubahan guna lahan, dan gerakan masyarakat; 2) Transformasi perilaku masyarakat dalam pengelolaan kolektif hutan rakyat, yang disebabkan oleh adanya manfaat yang diperoleh, motivasi untuk melakukan perubahan, kendala yang dihadapi, faktor pendukung, dan pengelolaan hutan rakyat; serta 3) Transformasi kelembagaan dalam pengelolaan hutan rakyat, yang dipengaruhi oleh proses pembentukan perilaku, bentuk peningkatan kapasitas, dan peran kelembagaan. Dibalik keberhasilan pengelolaan hutan rakyat sebagai aset kolektif penghidupan berkelanjutan di Desa Semoyo, masih terdapat kendala untuk mewujudkan peningkatan ekonomi dengan maksimal, diantaranya fenomena tebang butuh, politik bakul, anak muda yang kurang menyukai bercocok tanam dan lebih suka merantau, minimnya kemampuan dan keterampilan untuk berinovasi dalam meningkatkan nilai tambah produk hasil hutan, serta kendala pemasaran hasil hutan. Adanya konflik antar masyarakat dan petugas juga akan mempengaruhi kegiatan yang sebelumnya dibangun secara bersama-sama.
Physical conditions that don't support economic needs, encourages community to reform in order to improve their quality of life. The reform itself is an activity that were previously done by individual activity and then gradually will change the other individu through a community movement. Community movement will affect a community forest management process. The aim of this research is to discover how is community management forest in Semoyo village, Patuk sub-district, Gunungkidul regency formed. This research uses inductive-qualitative research method that particularly using grounded research by producing theory and abstraction of community forest management process in Semoyo village based on participants outlook. This research indicates that community forest in Semoyo village's community forest management is regarded as a collective sustainable livelihood asset which was affected by: 1) Transformation of community forests land condition that caused by the unproductive land, forest growth, land use changes, and community movement through local institutional; 2) Transformation of people's behavior in a collective community forest management that caused by advantages gained, motivation to make changes, obstacles encountered, supporting factors, and management in community forest; 3) Institutional transformation in a collective community forest management that caused by behavior forming, community capacity forming, and institutional role. Behind the successful of community forest management as collective sustainable livelihoods asset in Semoyo village, there were limited factors to achieve a maximum economic improvement, such as "tebang butuh" phenomenon, wood middleman tactics, the youth group preference to work outside the village instead of planting plants and timber, lack of innovation skill to increase the value-added of community forest products, and forest products marketing constraints. The existence of conflicts between community and officer will also affect activities that were previously perfomed together by community.
Kata Kunci : perhutanan sosial, pengelolaan hutan rakyat, pengembangan masyarakat / social forestry, community forest management, community development