Gender Balancing vs. Gendering Differently: Strategi Penanganan Gender-Based Violence dalam United Nations Peacekeeping Operation
ANGGANARARAS INDRIYOSANTI, Dr. Diah Kusumaningrum
2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALPeacekeeping Operation (PKO) merupakan salah satu institusi keamanan yang berada di bawah PBB yang dibentuk dengan tujuan menjaga dan menciptakan keamanan serta perdamaian di wilayah-wilayah yang berkonflik. Dalam pelaksanaannya PKO telah menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah permasalahan Sexual Exploitation and Abuse (SEA). Permasalahan SEA sudah terjadi sejak 1990 dan terus terjadi setiap tahunnya hampir di seluruh misi yang dikirimkan oleh PKO. PBB sebagai lembaga yang membentuk PKO telah melakukan usaha-usaha penanganan adanya SEA yang dilakukan oleh personil PKO. Salah satu usaha yang menjadi kebijakan utama PBB dalam menangani SEA adalah dengan melakukan gender balancing. Usaha gender balancing dilakukan dengan menambahkan jumlah personil perempuan yang dikirimkan ke setiap misi. Namun, meski telah dilakukan sejak 2006, usaha ini tidak membuahkan hasil yang signifikan dalam menangani permasalahan SEA hingga saat ini. Sebagai salah satu alternatif dalam menangani permasalahan gender di sektor keamanan, gendering differently muncul sebagai salah satu konsep penanganan permasalahan gender yang berfokus dalam transformasi nilai-nilai gender. Melalui penelitian ini, akan dilakukan analisis mengenai kebijakan mana yang membawa dampak yang lebih signifikan dalam mengatasi permasalahan SEA dalam PKO. Penulis berargumen bahwa gendering differently memiliki lebih banyak kelebihan jika dibandingkan dengan gender balancing karena mampu menangani langsung akar masalah SEA, memenuhi kebutuhan keamanan korban SEA, serta menawarkan kebijakan yang tepat sasaran dalam menangani SEA.
Peacekeeping Operation (PKO) was created under the UN as a tool to maintain security and peace in conflicted areas around the world. Since it was established, PKO has experienced a lot of challenges in maintaining peace, those challenges come from the outside as well as from the institution itself. One of the main concerns is the cases of Sexual Exploitation and Abuse (SEA) that has happened since 1990 until date. SEA allegations against peacekeepers have recorded around the world in nearly all the missions sent by PKO. UN has taken some actions in combating SEA, the most important policy made by the UN regarding SEA is the gender balancing policy. UN tries to increase the participation of women in PKO by increasing the number of deployed female peacekeepers in every mission. However, since it is taken into action in 2006, this policy still doesn't show a significant result in combating SEA. As one of the alternatives in dealing with gender-related problems in the security sector, gendering differently emerged as a concept to combat gender-related problems by transforming gender value in security sector. This research will try to analyze which policy brings more impact in dealing with SEA in PKO. I argue that gendering differently offers better results in combating SEA compared to gender balancing. Gendering differently tries to tackle the root of the issue, provide the security needs of the victims, and also offer targeted policies against SEA.
Kata Kunci : PKO, PBB, gender balancing, SEA, personil perempuan, gendering differently