Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM SENTRA KREATIF RAKYAT (Studi Mengenai Program Sentra Kreatif Rakyat di Paguyuban Batik Kawasan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah)

SUJATMIKO PUTRO, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos, M.Si.

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Sentra Kreatif Rakyat (SKR) merupakan program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2010. Program SKR pada awalnya bernama Sentra Kreatif Batik (SKB) namun pada perkembangannya berubah menjadi SKR agar program mampu mencakup industri kreatif yang lebih luas tidak hanya terpaku pada batik. Program ini mengupayakan pemberdayaan melalui industri kreatif yang bercirikan lokalitas rakyat. Para pelaku dalam industri kreatif berperan sebagai Subjek sekaligus Objek dari program SKR. Hal tersebut dilakukan untuk membentuk kemandirian penerima program. Periode pertama program SKR dilaksanakan pada tahun 2012, menunjuk beberapa daerah sebagai pilot project yaitu, Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), Batang dan Magelang (Jawa Tengah), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), serta Manggarai Barat (Nusa Tenggara Timur). Di antara beberapa daerah yang menjadi pilot project tersebut, daerah Magelang, tepanya di Kecamatan Borobudur, di sebuah Paguyuban bernama Paguyuban Batik Kawasan yang menaungi para pengrajin batik di Kecamatan Borobudur, terjadi perkembangan produksi batik yang tergolong signifikan terutama dalam design, corak, dan variasi produk yang dihasilkan, menjadikan program SKR di Paguyuban Batik Kawasan menarik untuk diteliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Peneliti menggunakan teknik snowball sampling untuk mendapatkan informan yang berhubungan dengan program SKR dan Paguyuban Batik Kawasan. Data yang didapatkan dari satu informan kemudian direduksi lalu ditriangulasi dengan informan yang lain serta dikuatkan dengan observasi di lapangan untuk mendapatkan data yang memiliki validitas tinggi. Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa program SKR mampu memberdayakan masyarakat melalui industri kreatif yang bercirikan lokalitas rakyat, terbukti dengan meningkatnya kemampuan dari para penerima program dalam teknik produksi, aplikasi warna, serta kemampuan membuat berbagai produk turunan batik setelah diadakannya program SKR. Selain itu program SKR juga mampu memberikan edukasi bagi para penerima program mengenai bahan pewarna alam yang bisa mereka peroleh dari sekitar mereka dan diolah menjadi pewarna alami kain batik sehingga tidak perlu lagi bergantung pada bahan pewarna dari luar kota. Dan yang paling penting adalah adanya dampak peningkatan ekonomi yang dirasakan penerima program SKR, dimana penerima program merasakan adanya peningkatan pendapatan dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga mereka. Namun, dari berbagai dampak positif dari program tersebut penerima program merasa belum puas dengan tahap pelatihan pemasaran yang dinilai belum banyak berkembang dari sebelum dan sesudah program SKR dijalankan, salah satunya adalah belum adanya kontrak kerjasama baru yang berhasil dibangun.

Sentra Kreatif Rakyat (SKR) is a community empowerment program initiated by the Ministry of Tourism and Creative Economy in 2010. The program was originally named Sentra Kreatif Batik (SKB) but in changing its development into SKR so that program capable to includes broader creative industries not only fixated on batik. These program empowering the community through creative industries are have the characteristic of local wisdom. The actors in the creative industries play a role as a subject and object from SKR program. This is done to establish the independence of program beneficiaries. The first period of program held in 2012, pointed to some areas as a pilot project that is, Pacitan (East Java), Batang and Magelang (Central Java), Tana Toraja (South Sulawesi), as well as the West Manggarai (Nusa Tenggara Timur). Among some areas a pilot project that, Magelang, precisely in District Borobudur, at a community named Paguyuban Batik Kawasan that houses batik craftsmen in the District of Borobudur, significantly developed the production of batik, especially in design, style, and variety of products generated, making SKR in Paguyuban Batik Kawasan interesting for studied. The method used in this research is qualitative method. Researcher using snowball sampling technique to get the informant associated with the program SKR and Paguyuban Batik Kawasan. Data obtained from an informant then reduced and triangulated with other informants and confirmed by observations in the field to get the data that have high validity. Conclusion from the study shows that the program SKR able to empower communities through the creative industries are have the characteristic of local wisdom, as evidenced by the increasing ability of beneficiaries in production techniques, the application of color, as well as the ability to create a variety of products derived of batik after received the SKR program. In addition, the program SKR also able to provide education for the beneficiaries about the natural dyes that them could get from around them and processed into natural dye batik cloth so it does not need to rely on dyes from out of town. And the most important is their perceived economic impact of increased receiver SKR program, where program recipients felt there are an increase in revenue in fulfilling the needs of their household. However, from a wide range of positive impacts of the program, the program receiver was not satisfied with the training stage of marketing that considered not much developed from before and after the program SKR, one of which is the absence of a new cooperation contract that successfully constructed.

Kata Kunci : Pemberdayaan, Batik, Sentra Kreatif Rakyat

  1. S1-2017-282269-abstract.pdf  
  2. S1-2017-282269-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-282269-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-282269-title.pdf