Demokrasi Butuh Preman
RAMADHAN RIZKI SAPUTRA, Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D.
2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Tulisan ini ingin mengkaji mengenai dinamika proses demokrasi lokal di era reformasi, yang salah satu agendanya adalah demokratisasi, dan demokratisasi itu diwujudkan dalam proses elektoral yang lebih baik. Kajian ini berfokus pada kenyataan bahwa dalam menjalani reformasi ini, proses elektoral di Indonesia justru terjebak dalam premanisme. Bagaimana demokratisasi melalu jalur elektoral akhirnya tidak bisa mengelak dari jebakan tersebut. Jelasnya, skripsi ini ingin menelaah lebih lanjut peranan preman politik, khusunya dalam mengorganisir dirinya secara politik. studi ini menelaah keterlibatannya dalam kandidasi di Pilkada DKI Jakarta 2012. Peranan mereka, oleh literatur ditandai adanya kepemimpinan informal yang dilakukan oleh lokal strong man (sering dikenal sebagai jago, kelompok preman dan sebagainya) di jalan-jalan dan kampung sebagai bentuk penting dari modal politik dalam memobilisasi dan mengarahkan pola suara masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Untuk mendapatkan data, peneliti mewawancarai langsung dan tatap muka dengan narasumber yakni para anggota kelompok Hercules. Sehingga penelitian ini merupakan perkataan dari narasumber yang dipadukan dengan dokumen-dokumen sebagai literatur pendukung. Didalam penelitian ini, digunakan beberapa kerangka berpikir, yaitu kontestasi demokrasi yang elitis dan mobilisasi preman dan kekerasan. Kontestasi yang elitis dipakai untuk melihat bahwa kontestasi Pilkada Langsung hanyalah dikendalikan oleh elit. Sehingga elit yang memiliki modal/kekuasaan ini mampu memobilisasi preman dan bekerjanya kekerasan didalamnya untuk memobilisasi pemilih. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kehadiran kelompok preman dalam pemilu tidak lepas dari hubungannya dengan elit yang memeliharanya. Elit yakni Prabowo mengaktifkan kembali relasi jaringan yang sudah dijalin sejak lama terhadap kelompok Hercules untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2012. Sehingga, dititik inilah pentingnya preman memainkan peranannya. Ketika persaingan elektoral dijalankan, preman dipahami sebagai sumberdaya sekaligus menjadi penentu kemenangan kandidat. Mobilisasi yang dijalankan menggunakan nalar kekerasan ditampilkan untuk unjuk kekuatan dalam persaingan elektoral. Bentuk kekerasan secara personal (langsung) pun hadir dalam rangka mempengaruhi pemilih. Bentuknya seperti menjaga kemanan kampanye dan kandidat, selain itu mereka juga bertugas mengamankan kantong-kantong wilayah dan sebagai pengamanan basis kantong suara. Intimidasi juga dilakukan untuk mempengaruhi masyarakat maupun tim sukses lawan.
his thesis examines the dynamics of the process of local democracy in the era of reform, that one of the agenda is democratization, and it was manifested in better electoral process. This study focuses on the fact that in carrying out these reforms, the electoral process in Indonesia actually trapped in gangsterism. How democratization through the electoral path ultimately can not escape from this trap. Obviously, this thesis wants to examine the role of political gangsterism, especially when they organizing in DKI Jakarta election in 2012. Their role, by literature marked the informal leadership conducted by local strong man (often known as a Jawara or Jago, a group of thugs, and so on) on the streets and the village as an important form of political capital in mobilizing and directing the pattern of voters. This thesis uses a qualitative method with study research case. To get the data, researcher interviewed directly and face to face with the group members of Hercules gang. With the result that research is the explanation of resources, combined with the documents as literature supporting. In this study, used some frameworks, it namely elitist democratic contestation and mobilization of thugs and violence. Contestation elitist used to see that the contestation of direct elections is only controlled by the elite. So elite that has capital or power is able to mobilize gangster and violent to mobilize voters. In this study it was found that the presence of a group of gangster in the election can not be separated from its relationship with the elite who maintain it. Prabowo Subianto reactivate the elite network of relationships that has woven a long time against the Hercules to win the elections of Jakarta, 2012. Thus, this is the significance of thugs which put into play. When the electoral competition is running, thugs as a resource as well as a winner candidate. Mobilization using violence appears to show strength in the electoral competition. Personal forms of violence (direct) is present in order to influence voters. It is like securing the campaigns and the candidates, besides of that they are also in charge to securing the basis region and votes. Intimidation was also made to influence the society and campaign teams opponents.
Kata Kunci : Kata Kunci: Pilkada, Elit, Mobilisasi Preman