Laporkan Masalah

Partisipasi Masyarakat dalam Penataan Lingkungan Permukiman di Kelurahan Karangwaru

ALBARTINA MUTA`ALIMAH, I Made Krisnajaya, S.I.P., M.Pol.Admin

2017 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam program penataan lingkungan permukiman di Kelurahan Karangwaru. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah secara keseluruhan, bentuk partisipasi masyarakat dalam program penataan lingkungan permukiman di Kelurahan Karangwaru (pada pembangunan Sungai Buntung) ini berupa ide/gagasan, tenaga dan materi. Partisipasi masyarakat pada pembangunan tersebut dikategorikan pada tingkatan ketiga dalam teori Arnstein, yaitu Citizen Power yang artinya masyarakat memiliki kekuasaan dan berada pada tangga Pelimpahan Kekuasaan (Delegated Control). Pada tingkat ini, masyarakat diberi limpahan kekuasaan untuk membuat keputusan pada rencana atau program-progam pembangunan yang bermanfaat bagi mereka, dan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Masyarakat memiliki kendali untuk membangun sungai berdasarkan desain yang telah mereka susun bersama. Masyarakat membangun secara bergotong-royong sesuai dengan kebutuhan mereka, karena yang mengetahui kebutuhan mereka adalah masyarakat sendiri. Kendala yang dihadapi masyarakat selama proses pembangunan Sungai Buntung ini adalah tidak adanya kemauan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan yang diadakan karena anggapan-anggapan negatif yang masyarakat ciptakan sendiri. Selanjutnya adalah kurangnya kemampuan masyarakat Karangwaru dalam merencanakan kegiatan pembangunan, membuat desain program, kemampuan untuk melaksanakan program dan mengelola lingkungannya. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dan wawasan masyarakat terkait program tersebut. Selain itu masyarakat kurang memahami peran serta mereka dalam pembangunan, hal ini menyebabkan kesadaran mereka terhadap pembangunan kurang optimal. Selain itu, ketersediaan waktu masyarakat untuk berpartisipasi masih sangat kurang, karena waktu pelaksanaan kegiatan pembangunan Sungai Buntung ini berbenturan dengan jam kerja masyarakat, sehingga hal ini juga menjadi kendala atau hambatan yang ada dalam masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. Dari hasil tersebut didapat rekomendasi: Diperlukan adanya penguatan kelembagaan. Menguatkan peran serta masyarakat. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat melalui penyuluhan dan pembinaan. Masyarakat, diharapkan mengikuti segala bentuk kegiatan yang diberikan. Meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan.

This research aims to determine forms and levels of community participation in every single stage, from planning, execution, and evaluation, and to identify obstacles to the program of community based neighborhood development in Kelurahan Karangwaru. It employed a qualitative method using a descriptive approach. The data collection techniques consisted of interviews and documentation. The research findings suggest that in general, forms of participation of the community in the program of community based neighborhood development in Kelurahan Karangwaru (in connection with development in Buntung River) were comprised of ideas, energy, and materials. Participation of the community in the said developmental activities falls into the third-level category of Arnstein's theory, i.e. Citizen Power, which means that the community has power and is on the ladder of Authority Delegation (Delegated Control). At this level, the community is authorized power to decide developmental plans or programs that are beneficial to them, and to solve the existing problems. The community encountered problems to carry out development of the river in accordance with the design that they have made jointly. The community worked together undertaking the developmental activities in accordance with their needs because it is them who know best what they need. The obstacle faced by the community during the development of Buntung River was unwillingness of the community to participate in the activities held because of the negative assumptions which they had created on their own. Moreover, the community of Karangwaru lacked skills and abilities to plan the developmental activities, design the program, execute the program, and manage their environment. These were resulted from the community's lack of knowledge and insights related to the said program. Besides, the community did not understand well their role in the developmental activities and thus their awareness of the development is less optimal. In addition, the availability of time of the community which makes it possible for them to participate remains highly insufficient because the schedule for the development of Buntung River clashed with the community's work hours, which makes it another obstacle or barrier to participation of the community in the developmental activities. Based on those findings, the following recommendations are proposed: It is necessary to carry out institutional strengthening, community participation needs to be strengthened, knowledge and abilities of the community need to be improved through counseling and education, the community is expected to participate in any forms of activities held, and the sense of belonging towards developmental products needs to be enhanced. Keywords: Community Participation, Development, Community Based Neighborhood Development

Kata Kunci : Partisipasi Masyarakat, Pembangunan, Penataan Lingkungan Permukiman

  1. S1-2017-328783-abstract.pdf  
  2. S1-2017-328783-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-328783-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-328783-title.pdf