Laporkan Masalah

Komunikasi Krisis Perusahaan Minyak Nasional (Studi Kasus: Strategi Komunikasi Krisis Public Relations PT Pertamina (PERSERO) RU II dalam Kasus Fenomena Bintik Kuning di Kelurahan Tanjung Palas - Kota Dumai Tahun 2012)

GINA DWI PRAMESWARI, Drs. I Gusti Ngurah Putra, M.A.; Rahayu, S.I.P., M.Si., M.A.; Lidwina Mutia Sadasri, S.I.P., M.A.

2017 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASI

Krisis yang menimpa PT Pertamina RU II Dumai di tahun 2012 berupa fenomena bintik kuning menjadi persoalan yang diangkat dalam penelitian kali ini. Tim Public Relations PT Pertamina RU II Dumai memilih menggunakan strategi komunikasi krisis berupa nonexistence strategies dan distance strategies untuk menyelesaikan krisis tersebut. Kemarahan warga menuntut adanya relokasi akibat semburan minyak berwarna kuning yang diduga berasal dari kilang Pertamina. Namun tidak ada bukti atau fakta yang dapat membenarkannya. Menggunakan metode studi kasus dengan teknik pengambilan data berupa wawancara secara mendalam serta dokumentasi menunjukkan hasil di lapangan bahwa dari lima strategi komunikasi krisis yang terdapat pada kerangka teori, hanya dua strategi yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan krisis fenomena bintik kuning. Penerapan nonexistence strategies dilakukan melalui upaya penolakan (denial) dan klarifikasi (clarification). Sedangkan pada distance strategies menggunakan upaya penyangkalan dengan berdalih (excuse) serta justifikasi (justification). Ketiga strategi komunikasi krisis lainnya, yaitu ingratiation, mortification, serta suffering strategies tidak dapat diterapkan karena dinilai tidak sesuai. Ingratiation strategies membutuhkan adanya hubungan harmonis antara perusahaan dengan publiknya, namun ini tidak terjadi pada PT Pertamina RU II Dumai dengan warga Tanjung Palas. Mortification strategies dilakukan dengan mewujudkan kompensasi yang dituntut oleh pihak korban sebagai bentuk tanggung jawab dan permohonan maaf. Namun pihak PT Pertamina RU II Dumai tidak mampu mewujudkan tuntutan warga Tanjung Palas akan relokasi. Suffering strategies diterapkan pada perusahaan yang turut menjadi korban atau mengalami kerugian akut akibat krisis yang terjadi. Sedangkan pada krisis fenomena bintik kuning hanya warga Tanjung Palas yang mengalami dampak kerugian tersebut. Dengan dua strategi yang berhasil diterapkan mampu menyelesaikan krisis fenomena bintik kuning, sekaligus juga membubarkan Tim 9 yang menjadi sumber provokator bagi warga Tanjung Palas. Sehingga terlihat kemampuan strategi komunikasi krisis dalam menyelesaikan krisis Fenomena Bintik Kuning yang terjadi pada PT Pertamina RU II Dumai di tahun 2012. Sebagai tambahan, perlu adanya sebuah perencanaan strategi komunikasi krisis agar krisis dapat dengan segera ditanggulangi untuk mengurangi resiko dari dampak krisis yang lebih parah.

PT Pertamina RU II Dumai has Fenomena Bintik Kuning of crisis in 2012 be the questions raised in the present study. Public Relations team of PT Pertamina RU II Dumai choose to use crisis communication strategies, such as nonexistence strategies and distance strategies to resolve the crisis. Residents of Tanjung Palas as a victim, sue to their relocation because bursts of yellow oil which allegedly came from the oil refineries. But there is no evidence or facts that may justify it. Using the case study method with data collection techniques such as in-depth interview and documentation - showing results on the ground that the five crisis communication strategies contained in the theoretical framework, only two strategies that can be applied to resolve the crisis of "fenomena bintik kuning". Implementation from nonexistence strategies done through the efforts of denial and clarification. While the distance strategies using denial efforts to quibble (excuse) and justification. The others crisis communication strategies, namely ingratiation, mortification, and suffering strategies can not be applied because it is not considered appropriate. Ingratiation strategies requires a harmonious relationship between the company and the public, but this does not happen to PT Pertamina RU II Dumai with residents of Tanjung Palas. Mortification strategies do with realizing the compensation demanded by the victim as a form of responsibility and apology. But PT Pertamina RU II Dumai not be able to realize the demands of the residents of Tanjung Palas will be relocating. Suffering strategies to the company that they will become victims or suffered acute losses due to the crisis. While the crisis of "fenomena bintik kuning" only residents of Tanjung Palas has affected from the damage. With two strategies were successfully able to resolve the crisis of fenomena bintik kuning, as well as disperses team which is the source for the residents of Tanjung Palas provocateur. So, it looks capabilities in a crisis communication strategies to resolve the crisis of fenomena bintik kuning that occurs on PT Pertamina RU II Dumai in 2012. In addition, the need for a crisis communication strategies planning so that the crisis can be addressed to reduce the risk of the impact of the crisis more severe.

Kata Kunci : PT Pertamina RU II Dumai, krisis "fenomena bintik kuning", dan strategi komunikasi krisis.