Laporkan Masalah

Evaluasi dan Identifikasi Program Kota Tangerang Sehat dan Kawasan Industri Sehat

ELISABETH SIMATUPANG, Dr. Rini Rachmawati, S.Si, M.T

2017 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Kota Sehat didefinisikan dengan kota yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk di huni oleh penduduknya dan dicapai melalui terselenggaranya penerapan tatanan dan kegiatan yang terintegrasi dan disepakati oleh masyarakat dan pemerintah (Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, 2005). Kota Tangerang telah berkontribusi dalam pelaksanaan Kota Sehat sejak tahun 2010 dan telah mendapatkan penghargaan Swasti Saba pada tahun 2011 (Padapa), 2013 (Wiwerda), dan 2015 (Wistara). Namun, Kota Tangerang juga memiliki peran sebagai Kota dengan sektor industri sebagai sektor basis ekonominya dengan 275 jumlah industri besar dan 284 industri menengah. Jumlah industri yang tinggi tersebut tentu memberikan dampak terhadap lingkungan. Tujuan penelitian ini pertama untuk mengevaluasi keberhasilan program Kota Tangerang Sehat tahun 2015 dan tujuan kedua mengidentifikasi kawasan industri sehat Kota Tangerang Sehat dengan menggunakan sampel area di Kecamatan Jatiuwung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran yaitu menggunakan data kualitatif untuk mendukung data kuantitatif dan sebaliknya dengan analisis deskriptif. Variabel dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Peraturan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan No. 34 Tahun 2005. Variabel penelitian tujuan pertama antara lain, demografi dan sosial, lingkungan dan kesehatan, dan kepemerintahan. Sedangkan variabel penelitian tujuan kedua antara lain, lingkungan fisik industri, kesehatan dan keselamatan kerja, dan sosial ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini mengkombinasikan data kualitatif (observasi dan wawancara pendalam secara purposive) dengan data kuantitatif (Pengolahan data statistik dan kuesioner dengan proporsional random sampling). Penentuan keberhasilan pencapaian Kota Sehat maupun kawasan industri sehat dilakukan dengan melakukan pembobotan dari hasil penilaian berdasarkan pedoman penilaian Kota Sehat. Penentuan lokasi tujuan kedua dengan menggunakan sampel area dengan pertimbangan banyaknya industri besar dan sedang yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan. Hasil Penelitian: 1) Kebijakan Pemerintah Kota Tangerang sangat mempengaruhi keberhasilan Program Kota Tangerang Sehat. Kebijakan dibidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, membuat Kota Tangerang mampu membangun pondasi sebagai Kota Sehat. Belum terbentuknya RDTRK Kota Tangerang menjadi hambatan dalam pelaksanaan Kota Sehat di Kota Tangerang, meskipun pembentukan Forum Kota Sehat telat 100% terbentuk dan masyarakat telah dilibatkan baik dalam kepengurusan forum sampai pada pelaksanaan kegiatan. 2) Kawasan industri sehat selenggarakan dengan bantuan Disperindakop, Disker, dan BLH Kota Tangerang, namun secara aplikasi khususnya di Kecamatan Jatiuwung masih belum berjalan baik, masih tingginya tingkat kecelakaan kerja, kondisi lingkungan kumuh, dan masih kurangnya keberadaan petugas keamanan yang membuat masih banyaknya kejadian yang mengancam keamanan dan ketertiban dipermukiman di sekitar industri Jatiuwung. Kesimpulan: 1) Kota Tangerang belum 100% berhasil menciptakan Kota Sehat secara umum. Kota Tangerang masih dalam golongan tertunda dengan total pencapaian 75%. 2) Kota Tangerang gagal menciptakan kawasan industri sehat khususnya di Kecamatan Jatiuwung dengan pencapaian hanya sebesar 45%.

Healthy City is defined by the city clean, comfortable, safe, and healthy for inhabited by its inhabitants and Achieved through the implementation of the order and the application of integrated activities and agreed upon by the community and the government (Minister of Health and Minister of the Interior, 2005). Tangerang City has Contributed to the implementation of the Healthy City since 2010 and has been awarded Swasti Saba in 2011 (Padapa), 2013 (Wiwerda), and 2015 (Wistara). However, Tangerang City Also has a role as the city with the industrial sector as a sector of its economic base by 275 the number of large industries and 284 medium-sized industries. The high number of industries that would have an impact on the environment. The first aim of this study to Evaluate the success of Tangerang Healthy City program in 2015 and the second objective to identify healthy industrial area of Tangerang Healthy using a sample area in sub-district Jatiuwung. The method used in this research is mix method, that used qualitative data to support the quantitative data and vice versa with descriptive analysis. Variables and indicators used in this study were taken from the Regulation with the Minister of the Interior and the Minister of Health No. 34, 2005. Variables for the first objective are demographic and social, environmental and health, and governance. Variables for the second objective are the physical environment of the industry, health and safety, and socio-economic, cultural and public health. This research combines qualitative data (observations and interviews pendalam purposively) with quantitative data (processing statistical data and questionnaires with proportional random sampling). Determining of the successful achievement of Healthy Cities and Healthy industrial area was conducted by the weighting of the assessment results based on a scoring guide Healthy Cities. Determining the location of a second objective by using a sample area with consideration of the number of large and medium industries which are considered to have a major influence on the environment. The results of this research: 1) Policy Tangerang City Government greatly influence the success of Healthy Cities Program Tangerang. Policies in the field of education, health, and the environment, making the city of Tangerang able to build a foundation as a Healthy City. Tangerang City has not been established RDTRK become a bottleneck in the implementation of the Healthy City in Tangerang, despite the formation of Healthy City Forum late 100% formed and the community has been involved in both the management of the forum to the implementation of activities. 2) The industrial area of healthy held with the help Disperindakop, Disker, and BLH Kota Tangerang, but in application, especially in Sub-district Jatiuwung still not running well, the still high level of workplace accidents, the condition seedy neighborhood, and still lack the presence of security officers who make still many events that threaten the security and order dipermukiman around Jatiuwung industry. Conclusions: 1) Kota Tangerang not 100% managed to create a Healthy City in general. Kota Tangerang still pending in the group with total achievement of 75%. 2) Tangerang City failed to create a healthy industrial areas, especially in Sub-district Jatiuwung with achieving only 45%.

Kata Kunci : Kota Sehat, Kota Tangerang Sehat, Kawasan Industri Sehat

  1. S1-2017-330844-abstract.pdf  
  2. S1-2017-330844-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-330844-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-330844-title.pdf