Laporkan Masalah

Implementasi Kebijakan Diplomasi Energi Cina di Timur Tengah pada Masa Pemerintahan Hu Jintao

MIA RIZKIANA, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, M.A.(IR)

2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Cina tengah mengalami fase pembangunan ekonomi yang begitu cepat dan dinamis yang didorong oleh pesatnya laju industrialisasi. Permintaan energi dalam jumlah besar telah membuka jalan bagi Cina untuk mengimpor minyak dari negara kaya sumber daya alam. Sebagai salah satu konsumer energi global terbesar, Beijing harus bertindak secara cermat untuk mewujudkan tanggung jawabnya, mengingat kepentingan domestik dan luar negeri yang saling berkaitan erat satu sama lain. Di masa pemerintahan Hu Jintao, Cina kemudian mengimplementasi strategi kebijakan diplomasi energi (nengyuan waijiao) yang tidak hanya ditujukan untuk mengamankan pasokan energi dan upaya ekspansi akses sumber daya alam, namun sekaligus mendorong pembenahan terhadap birokratisasi sektor energi domestik serta memperluas pasar bagi komoditas ekspor Cina. Dalam hal ini, negara-negara Arab memegang peranan yang begitu penting berkenaan dengan sumber minyaknya yang melimpah. Kerja sama Cina dengan negara-negara Arab tampak, antara lain, melalui pembentukan China-Arab States Cooperation Forum (CASCF) yang menunjang "kerja sama strategis" antaranggotanya. Dalam penelitian ini, akan di bahas beberapa faktor penting yang patut menjadi konsiderasi implementasi diplomasi energi, di antaranya: 1) manajemen kebijakan pemerintah sebagai upaya ekspansi akses dan diversifikasi energi; 2) pembagian fungsi aktor yang terlibat; 3) pemberian bantuan ekonomi sebagai instrumen kebijakan luar negeri; dan 4) terdapatnya langkah pengembangan efisiensi energi, termasuk penggunaan energi alternatif.

China is now facing a fast and dynamic economic development that is supported by its massive industrialization. The increasing demand for energy has led China to import oil from resource-rich countries. At the same time, being one of the largest global energy consumer, Beijing must perform the best move to show its responsibility as domestic and foreign interests are interlinked. In the Hu Jintao's era, China implemented energy diplomacy (nengyuan waijiao) that aims not only to secure its interest on energy supplies and expanding access to abundant resources, but also to create a better improvement for its domestic bureaucratization in the energy sector and broaden the markets for China's commodities. In this scheme, Arab states are important counterparts due to their oil-rich nature. This has been demonstrated, among others, by the establishment of China-Arab States Cooperation Forum (CASCF) that promoted "strategic partnership" among its members. This research argues that China's energy diplomacy need to take some factors into considerations. They are (1) the policy management on expanding access and energy diversification; (2) the division of actor functions; (3) the provision of economic assistance; and (4) the effort to build and develop energy efficiency, including the use of alternative energy.

Kata Kunci : Cina, diplomasi, energi, Timur Tengah.

  1. S1-2017-345255-abstract.pdf  
  2. S1-2017-345255-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-345255-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-345255-title.pdf