TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK TERKAIT DENGAN RETINOPATI DIABETIKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN ATAU TANPA KOMPLIKASI RETINOPATI DIABETIKA DI PEDESAAN YOGYAKARTA
RIZKI OKTASARI, dr. Muhammmad Bayu Sasongko, Sp.M, M.Epi, Ph.D.
2017 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang : Prevalensi diabetes melitus di dunia diperkirakan meningkat 214% pada tahun 2030. Di Indonesia, prevalensi tertinggi diabetes melitus yang terdiagnosis dokter dimiliki Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebesar 2,6%. Salah satu komplikasi mikrovaskuler diabetes melitus adalah retinopati diabetika. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi direkomendasikan dilakukan saat terdiagnosis, dilanjutkan setiap 2 tahun apabila hasil negatif dan setiap tahun apabila hasil positif retinopati. Tatalaksana intensif diabetes melitus dapat memperlambat onset dan progresivitas dari komplikasi retinopati diabetika. Studi yang dilakukan di perkotaan Indonesia pada pasien diabetes melitus menunjukkan bahwa 84,7% dari partisipan tidak melakukan pemeriksaan rutin dalam setahun terakhir. Hal ini sangat disayangkan mengingat praktik kesehatan dalam suatu komunitas mengikuti pengetahuan dan pola bersikap yang sedang berlangsung. Tujuan Penelitian : Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik terkait dengan retinopati diabetika pada pasien diabetes melitus di pedesaan Yogyakarta. Metode Penelitian : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan potong-lintang. Data yang dikumpulkan berasal dari beberapa puskesmas di pedesaan Yogyakarta yang terdaftar dalam Jogja Eye Diabetic Study in Community. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi diwawancara via telepon menggunakan kuesioner yang tervalidasi. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling sampai memenuhi kuota 100 pasien. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan dipresentasikan dengan tabel univariat dan tabulasi silang. Aspek pengetahuan dan praktik dinilai dan diklasifikasikan menjadi sangat baik, baik, kurang, atau buruk. Aspek sikap diklasifikasikan menjadi positif atau negatif. Hasil : Persebaran persentase pengetahuan terkait dengan retinopati diabetika yaitu sebesar 12% sangat baik, 30% baik, 38% cukup, dan 20% kurang. Sebesar 21% menunjukkan sikap positif dan 79% negatif. Praktik terkait dengan retinopati diabetika yaitu sebesar 12% sangat baik, 26% baik, 20% cukup, dan 42% kurang. Kesimpulan : Tingkat pengetahuan terkait dengan retinopati diabetika di pedesaan Yogyakarta sebagian besar tergolong cukup. Namun hal ini tidak diimbangi dengan sikap yang sebagian besar masih negatif dan praktik yang sebagian besar masih tergolong kurang.
Background : The global prevalence of diabetes mellitus is expected to increase by 214% in 2030. In Indonesia, the highest prevalence of case diagnosed by doctors is in Yogyakarta, approximately 2,6% of all patients with diabetes mellitus. Diabetic retinopathy is one of the microvascular complication of diabetes mellitus. Dilated fundus examination is recommended at the time of diagnosis, continued every two years if the result is negative and each year if positively diagnosed with diabetic retinopathy. Intensive management of diabetes mellitus was proven to slow down the progression of diabetic retinopathy. A study of patients with diabetes mellitus in urban area of Indonesia had shown that 84,7% of the participants did not undergone routine eye examination within the preceding year. Unfortunately, it is known that health practices on a community follows alongside knowledge and attitude. Objective : To describe the level of knowledge, attitude, and practice regarding diabetic retinopathy among diabetic patients in rural area of Yogyakarta Methods : This was a quantitative research with cross-sectional design. Data collection was done from several community health centers in rural area of Yogyakarta which are registered in Jogja Eye Diabetic Study in Community. Subjects who were fitted into inclusion had been interviewed using a validated questionnaire. Sample calculation was done with consecutive sampling method until it reached 100 patients. Descriptive analysis was being done with Microsoft Excel as the software and the results were presented in univariate table and cross tabulation. Knowledge and practice aspects were assessed and classified as excellent, good, poor, or very poor. Attitude aspect was classified as positive or negative. Results : The percentage of knowledge related with diabetic retinopathy showed 12% excellent, 30% good, 38% poor, and 20% very poor. About 21% showed positive attitude and 79% negative towards retinopathy diabetic. The practice related with diabetic retinopathy showed 12% excellent, 26% good, 20% poor, and 42% very poor. Conclusion : Knowledge rate regarding diabetic retinopathy in rural area of Yogyakarta was mostly in poor category. However, this was not balanced by attitude which showed mostly negative result and the practice is still very poor.
Kata Kunci : retinopati diabetika, diabetes melitus, PSP, pedesaan, Yogyakarta