KETANGGUHAN MASYARAKAT DI HUNIAN TETAP DESA KEPUHARJO PASCA ERUPSI MERAPI 2010
KARINA BUNGA HATI, Prof. Dr. Muh. Aris Marfai, S.Si., M.Sc.; Dr. Dyah Rahmawati H., M.T., M.Sc.
2017 | Tesis | S2 GeografiErupsi Merapi 2010 merupakan letusan terbesar yang terjadi dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Gunung Merapi merupakan gunung api paling aktif di Indonesia. Bahaya primer meliputi tumpahan material piroklastik dan wedhus gembel yang berupa batu, pasir, abu vulkanik, serta gas panas yang bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sedangkan bahaya sekunder berupa aliran banjir lahar. Erupsi Merapi 2010 mengarah ke Sungai Gendol sehingga dampak yang ditimbulkan lebih banyak terjadi di sepanjang aliran yang dilalui. Salah satu wilayah yang terkena dampak paling besar adalah Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Kepuharjo terdiri dari 8 dusun, sebanyak 6 dusun mengalami kerusakan rumah 100% pada saat erupsi Merapi 2010, hal ini menjadi catatan bagi pemerintah untuk melakukan relokasi secara masif sekaligus sebagai salah satu upaya dalam menjauhkan masyarakat dari bahaya. Relokasi berarti pemindahan manusia beserta aktivitas serta sarana prasarana dengan tetap mempertimbangkan penghidupan berkelanjutan. Relokasi ini juga memastikan bahwa masyarakat dapat menghadapi dan pulih kembali pada keadaan semula atau bahkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Ketangguhan dapat dilihat dari modal sosial, modal ekonomi, modal manusia, modal fisik, dan modal alam. Relokasi yang dilakukan di Desa Kepuharjo melibatkan 670 KK dari 935 KK. Lokasi Hunian Tetap yang terdapat di Desa Kepuharjo adalah Hunian Tetap Pagerjurang yang dihuni 301 KK, Hunian Tetap Batur yang dihuni 204 KK, Hunian Tetap Bulaksusukan yang dihuni 19 KK (termasuk relokasi mandiri). Pendekatan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood) yang digambarkan melalui pentagram livelihood menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di Hunian Tetap Desa Kepuharjo memiliki ketangguhan yang baik. Ketangguhan dan penghidupan yang lebih baik dari modal fisik yaitu masyarakat menjadi tahu tentang bagaimana membangun sebuah rumah dan lingkungan permukiman yang aman dan jauh dari bahaya. Ketangguhan dan penghidupan yang lebih baik dari modal ekonomi yaitu masyarakat sudah dibekali dengan ketrampilan untuk mengolah dan memanfaatkan potensi sehingga dapat menjadi nilai jual, termasuk memanfaatkan keindahan alam sebagai tujuan wisata. Ketangguhan dan penghidupan yang lebih baik dari modal sosial yaitu masyarakat secara fisik menjadi lebih dekat, hubungan yang terikat akan jauh lebih tinggi dengan adanya kegiatan sosial yang dijalankan bersama, kehidupan khas perdesaan masih sangat kental dengan kegiatan budaya dan adat serta bagaimana masyarakat berinteraksi dengan alam sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Relokasi yang dilakukan memberikan pemahaman kepada masyarakat lereng Gunung Merapi untuk dapat menjaga kelestarian DAS sebagai suatu ekosistem. Kepatuhan untuk menjaga kelangsungan DAS diharapkan mulai tertanam sejak saat ini, yaitu dengan tidak mendirikan bangunan sebagai permukiman di kawasan hulu DAS. Kata kunci : bencana, relokasi, ketangguhan
Merapi eruption in 2010 is the largest eruption that occurred within the last 100 years. Mount Merapi is the most active volcano in Indonesia. The primary hazard includes pyroclastic material spills and wedhus gembel in the form of stone, sand, volcanic ash and hot gases moving at very high speed. Secondary hazards such as flood flow of lava. The eruption led to the river Gendol so that the impact are more prevalent along the stream that passed. One of the areas most affected is Kepuharjo Village, Sleman District, Yogyakarta Special Region. Kepuharjo Village consists of eight hamlets, as much as 6 hamlet of damaged houses 100% at the time of the eruption, this is a notification for the government to undertake massive relocation to keep the public from hazard. Relocation means the removal of human activities and infrastructure along by considering sustainable livelihoods. This relocation also ensure that the public can deal with and recover in a state before or even better than the previous conditions. Resilience can be seen from the social capital, economic capital, human capital, physical capital, and natural capital. Relocation in the Kepuharjo Village involved 670 families of 935 families. The shelters which is contained at Kepuharjo village are Pagerjurang Shelter inhabited 301 households, Batur Shelter inhabited by 204 families, Bulaksusukan Shelter inhabited by 19 families (including independent relocation). Livelihoods approaches (sustainable livelihood) described through pentagram livelihood showed that people who were on Shelter in the Kepuharjo Village has exceedingly resilience. Resilience and prosperity life of the citizens could ease them to know how to build a house, safe neighborhoods convenient and take over the hazardous risks. The community's economic capital that is already skill equipped to process and utilize the potential that could become the encouragement points, including utilizing the natural resources as a tourist destination. The social capital of the people is definitely closer, the relationship bounding is higher in the presence of social activities that are shared, the characteristic of rural life is still sticks to the cultural activities and customs and how people interact with nature as the gratitude to God. Therefore, the relocation gives understanding to the slopes of Mount Merapi community could to preserve the watershed as an ecosystem and obey to preserve the embedded watershed as the initial satisfactory from this moment, that is not to construct a settlement in upstream watershed region which is not designed as residential areas. Keywords: disaster, relocation, resilience
Kata Kunci : bencana, relokasi, ketangguhan