TINGKAT KERAWANAN LONGSOR DAN ALTERNATIF PENANGANANNYA DI SUB DAS DEMANGAN, DAS BERINGIN, KOTA SEMARANG
IFFA TSURAYYA, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S.
2017 | Skripsi | S1 KEHUTANANLaju pertumbuhan dan pembangunan Kota Semarang yang kian pesat mengakibatkan banyaknya perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Hal ini juga terjadi di wilayah Sub DAS Demangan, DAS Beringin, Kota Semarang. Pembangunan wilayah yang kian pesat dan didukung dengan perubahan kondisi topografi dapat mempengaruhi aspek hidrologi dan kerentanan terhadap bencana (salah satunya tanah longsor) di wilayah tersebut. Sebanyak 51 titik rawan longsor tersebar di Kota Semarang, termasuk di wilayah Sub DAS Demangan. Belum adanya penelitian dan pendataan mengenai kondisi wilayah Sub DAS Demangan, khususnya informasi mengenai tingkat kerawanan longsor, menjadikan perlunya dilakukan penelitian mengenai pendugaan tingkat kerawanan longsor di Sub DAS Demangan. Pemberian alternatif yang sesuai untuk mengatasi bahaya longsor juga diperlukan untuk mencegah terjadinya longsoran. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2016. Data 8 parameter diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan dan pengolahan data sekunder, yang terdiri dari parameter alami (curah hujan, kelerengan, keadaan geologi, keberadaan sesar, kedalaman tanah) dan parameter manajemen (penggunaan lahan, infrastruktur, kepadatan pemukiman). Analisis data tingkat kerawanan longsor dilakukan dengan mengacu pada formula kerawanan tanah longsor oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor tahun 2010. Sedangkan penyusunan alternatif penanganan longsor akan dibagi kedalam beberapa klaster dengan menggunakan software IBM SPSS Statistic 20. Wilayah Sub DAS Demangan terbagi kedalam 2 tingkat kerawanan longsor, dengan 73% wilayah memiliki tingkat kerawanan longsor sedang, dan 27% wilayah memiliki tingkat kerawanan longsor agak rendah. Alternatif penanganan longsor yang disarankan berupa kombinasi penggunaan metode vegetatif dan mekanis. Pembuatan dan perbaikan saluran drainase disarankan untuk seluruh kluster, sedangkan peningkatan sistem irigasi/SPAT disarankan untu kluster 1. Pengkayaan tanaman untuk hutan produksi disarankan untuk kluster 1, 2, 3 dan reboisasi untuk kluster 2 dan 4. Penyediaan RTH dan zona sabuk hijau (green belt) disarankan untuk kluster 1, 2, 3. Pengoperasian Kelurahan Siaga Bencana (KSB) perlu dilakukan di kluster 3 sebagai salah satu respon pencegahan terhadap tanah longsor
The increasing rate of growth and development in Semarang caused many changes of agricultural land into non-agricultural land. The phenomenon also occurs in Demangan Sub Watershed, Beringin Watershed, Semarang. The rapid development of the region supported by changes in topography can affect the hydrological and susceptibility aspect of disaster (one of them is landslide) in that area. There have been 51 susceptible locations to landslides scattered in Semarang, including Sub DAS Demangan. The absence of research and data collection on Sub DAS Demangan, especially the information about the level of landslide susceptibility, makes this research important. The availability of alternative landslide treatment is indispensable to anticipate the future landslide. This study was conducted during September until October 2016. The data, referring 8 parameters, were obtained from field observations and secondary data processing, which consist of natural parameters (rainfall, topography, geological conditions, the presence of faults, soil depth) and management parameters (landuse, infrastructure, population density). The analysis of landslide susceptibility refers to landslide susceptibility formula proposed by Bogor Forest Research and Development in 2010. Concerning the classification of alternative landslide treatment, the area was divided into several clusters by using IBM SPSS Statistic 20. Demangan Sub Watershed has 2 levels landslide susceptibility, that are 73% of area had a moderate susceptible, and 27% of area had a slightly susceptible. The suggested alternative landslide treatment using combination of vegetative and mechanical methods. Manufacturing of drainage channels is advisable for the entire cluster while improving the irrigation system is recommended for cluster 1. The additional of plants for the production forests recommended for cluster 1, 2, 3 and reforestation for cluster 2 and 4. RTH and green belt zone availability are recommended for cluster 1, 2, 3. The implementation of disaster preparedness village is necessary for cluster 3 as one of the landslide preventive efforts
Kata Kunci : Longsor, Sub DAS Demangan, Alternatif Penanganan;Landslide, Demangan Sub Watershed, Alternative Treatment