Laporkan Masalah

Dinamika Spasial Tutupan Lahan pada Kawasan Hutan Rakyat dan Pemukiman Rawan Bencana Vulkanik serta Dampaknya terhadap Kondisi Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat

SETIAJI, Dr. Ir. Ronggo Sadono; Prof. Dr. Hartono, DEA, DESS; Prof. Dr. Moech. Maksum Machfoed

2017 | Disertasi | S3 Ilmu Kehutanan

Proses erupsi vulkanik gunung Merapi yang terjadi secara multitemporal telah mengubah potensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Gagasan pemanfaatan hutan rakyat sangat penting untuk diperhitungkan dalam mengembalikan fungsi ekosistem, memiliki nilai sosial, dan ekonomi terhadap masyarakat dengan tersedianya data yang akurat baik data numerik maupun spasial mengenai kondisi yang mempengaruhi lahan hutan rakyat dan pemukiman. Penelitian bertujuan mengkaji informasi sebaran kerusakan lahan hutan rakyat yang berpotensi terkena bencana vulkanik, menyusun informasi pola sebaran sumberdaya lahan hutan rakyat berdasar penggunaan lahan dengan skenario sebelum dan setelah bencana vulkanik 2010, melakukan analisis spasial lahan hutan rakyat sebagai dasar untuk pengelolaan lingkungan, mengembangkan sistem informasi sumberdaya lahan hutan rakyat, dan membuat informasi hunian. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman pada rentang waktu 1 juli 2012 sampai 30 juni 2013. Interpretasi citra, deteksi perubahan penggunaan lahan menggunakan citra Orbview tahun 2001, Orbview tahun 2006, dan GeoEye tahun 2011, data potensi desa 2006 dan 2011 digunakan untuk mengkaji perkembangan wilayah, selanjutnya metode penelitian dilakukan dengan analisis pusat-pusat perubahan lahan, analisis skalogram, analisis korelasi, analisis kuantitatif sederhana, metode tumpangsusun, metode regresi logistik, metode purposing sampling, metode Likert, dan metode system development life cycle. Kerusakan sumberdaya lahan akibat erupsi Gunung Merapi terjadi di sebagian besar wilayah pedesaan di Kecamatan Cangkringan, di mana perubahan lahan adalah hutan rakyat (28,8 persen), pertanian pangan lahan kering (4,65 persen), hutan (23,6 persen), pemukiman (4,15 persen), dan semak belukar atau tanah terbuka (12 persen) serta struktur jenis penggunaan lahan mengalami perubahan urutan. Ketidaksesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman relatif kecil karena belum ditetapkannya Rencana Detil Tata Ruang Kecamatan Cangkringan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Pola sebaran sumberdaya serta perubahan tutupan lahan hutan rakyat menjadi tutupan lahan jenis lainnya dipengaruhi oleh faktor fisik tingkat kelerengan dengan nilai signifikasi 0,0993 kurang dari 0,01 dan arah luncur lahar. Perubahan tutupan lahan hutan rakyat menjadi pertanian pangan lahan kering, pemukiman, atau semak belukar atau tanah terbuka sebagian besar masuk ke dalam kriteria peluang perubahan sedang (24 kurang sama dengan x kurang sama dengan 112,03) diikuti peluang perubahan tinggi (x lebih besar 112,03), dan rendah (x kurang dari 24). Telah dikembangkan prototipe sistem informasi sumberdaya lahan hutan rakyat dan informasi pemukiman berdasar faktor fisik, ekonomi, sosial ekonomi, dan strategi di wilayah Gunung Merapi. Pola perkembangan pemukiman pada periode tahun 2001 sampai 2006 dan 2006 sampai 2011 terbanyak terdapat pada tingkat elevasi (400 sampai 800 mdpl), kemiringan lereng (kurang dari 15 persen), dan aksesibilitas jauh (kurang dari 750 meter). Berdasarkan analisis regresi logistik, faktor fisik yang paling mempengaruhi perkembangan pemukiman yaitu tingkat elevasi (800 sampai 1200 mdpl), kemiringan lereng (15 sampai 30 persen), dan aksesibilitas (kurang dari 750m).

The multitemporal volcanic eruption of Mt.Merapiin Cangkringan Sub-District, Sleman Regency has changed the potentials of natural resources and environment. The idea of utilizing private forest is important to consider in recovering ecosystem function, having social and economic values for the community By providing accurate data good numerical data and spatial on conditions affecting a forest land the people and settlement. This study aimed to review information of the spread of private forest land damage which was prone to volcanic disaster; compile information of forest resources distribution pattern based on land used with before and after 2010 volcanic disaster scenario; perform spatial analysis of private forest land as a basis for environmental management; develop private forest land resources management information system; and make residential management information. The research was done in kecamatan cangkringan, sleman district range of time 1 july 2012 to 30 june 2013. Image interpretation, detection of land use change used images of Orbview from 2001, Orbview from 2006, and GeoEye from 2011, data potential of the village 2006 and 2011 used to assess the development of areas. The research methods were analysis of land change centers, analysis of skalogram, analysis of correlation, simple quantitative analysis, overlaying method, logistic regression method, purposive sampling method, Likert method, and system development life cycle method. Land resources damage due to the eruption of Mt. Merapi happened in most rural areas in Cangkringan Sub-District, where the land changes were private forest (28,8 percent), dry land farming (4,65 percent), forest (23,6 percent), settlement (4,15 percent), and bushes or open land (12 percent), and the order of the structure of land use type changed. The discrepancy between land use and the Spatial Plan of Sleman Regency was relatively small because Detailed Spatial Plan of Cangkringan Sub-District had not been implemented by the government of Sleman Regency. The patterns of resources distribution and change of private forest land cover into other types of land cover were influenced by physical factors of slope with significance value of 0,0993 less than 0,01 and direction of lahar flow. Changes of private forest land cover into dry land farming, settlement or bushes/open land were mostly in the criteria of medium change opportunity (24 approximately equal to112,03), followed by high change opportunity (x greather than 112,03), and low (x less than 24). Has been developed prototype information system resources forest land the people and information settlement based factors physical, economic social economic and strategies in the Mt.Merapi. The settlement development patterns in 2001 to 2006 and 2006 to 2011 were mostly at elevation level (400 to 800 mdpl), slope (less than 15 percent), and distant accessibility (greater than 750 meter). Based on logistic regression analysis, the most significant physical factors that influenced settlement development were elevation level (800 to 1200 mdpl), slope (15 to 30 percent), and accessibility (greater than 750 meter).

Kata Kunci : perubahan tutupan lahan, vulkanik, hutan rakyat, pemukiman / land cover change, volcanic, private forest, settlement

  1. S3-2017-324669-abstract.pdf  
  2. S3-2017-324669-bibliography.pdf  
  3. S3-2017-324669-title.pdf