Laporkan Masalah

PENGARUH PENDIDIKAN LITERASI MEDIA TERHADAP DIMENSI KOGNITIF KREATIVITAS Studi Pra Eksperimental: Pendidikan Literasi Media pada Majalah PELITA SMA Pangudi Luhur Yogyakarta 2015

ALDY ARMENDARIS, DR. PHIL. ANA NADYA ABRAR, M.E.S.

2016 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi

Literasi media menjadi jawaban atas kekuatan media yang berpengaruh dalam membentuk sikap, kepribadian dan kreativitas remaja. Konsep ini lebih menekankan pada proses komunikasi personal mulai dari penerimaan pesan, pengolahan informasi, hingga produksi pesan. Alasannya karena pesan yang disampaikan oleh media memiliki banyak lapisan pemaknaan, sehingga kemampuan individu dalam memperoleh, menyimpan, dan mengolah informasi dalam cara yang mangarahkan output perilaku menjadi penentu dalam menghasilkan pengaruh pesan media. Dimensi kognitif merupakan tempat terjadinya seluruh proses pengolahan informasi. Pada dimensi ini kecerdasan crystalline berfungsi untuk mengingat semua yang terdapat/ditampilkan pada konten media dan kecerdasan fluid berfungsi untuk menjadi kreatif dalam hal pengolahan informasi, termasuk melihat pola-pola kompleksitas realita yang terdapat pada pesan media. Pemanfaatan dimensi kognitif untuk pengolahan informasi dan sikap kritis ini menuntut kemampuan dalam melihat dan berpikir akan kemungkinan dibalik layar atau disebut dengan kreativitas atau kemampuan berpikir divergent. Kreativitas yang berhubungan dengan kognitif dengan proses berpikir memiliki ciri-ciri yang tercermin dalam keterampilan berpikir asli (originality), kemampuan berpikir rinci (elaboratioin), kemampuuan berpikir luwes (flexibility), dan kemampuan berpikir lancar (fluency). Langkah konkret literasi media dalam bentuk gerakan atau pendidikan sangat efektif untuk memberikan perangkat pengetahuan kepada remaja untuk memiliki kontrol atas media. Sejauh ini gerakan literasi media di Indonesia menggunakan dua tipe target sasaran literasi, yaitu sasaran langsung yang diberikan pada tujuan akhir seperti misalnya remaja dan sasaran tak langsung yang diberikan kepada agen perubahan yang aktif melakukan gerakan literasi lanjutan. Redaksi majalah PELITA merupakan sasaran tepat untuk dibekali kemampuan menjadi produsen kreatif untuk lebih kritis dalam menyuarakan suara remaja dengan menerbitkan majalah yang merefleksikan realita sesuai dengan kebutuhan remaja. Sehingga majalah PELITA mampu secara aktif menjadi agen keberlanjutan program literasi media yang dapat menciptakan remaja yang literate dan kreatif, juga mampu menjadi media yang sehat.

Media literacy is the answer toward the influential power of the media in shaping teenagers' attitudes, personality and creativity. This concept emphasises more on personal communication process from receiving messages, processing information, and producing messages. The reason is because the message conveyed by the media has many layers of meaning. Therefore, the individual's ability to acquire, to store and to process information in such a way that behavioral output leads in determining the generating influence of media messages. Cognitive dimension is the place to process the whole information. In this dimension, crystalline intelligence serves the individual to remember any information displayed on media content and fluid intelligence serves the individual to be creative in terms of information processing, including spot patterns complexity of reality contained in media messages. Cognitive dimension utilization of information processing and critical attitude demands the ability to see and to think about the possibility of "behind the scenes" or so-called creative or divergent thinking skills. Creativity is associated with cognitive within the thinking process that are reflected in the original thinking skills, detailed or elaboration thinking skills, flexibility think skills, and fluency thinking skills. The concrete action of media literacy in form of movement or education is very effective to give the knowledge to teenagers to have control over the media. So far, the media literacy movement in Indonesia uses two types of target literacy. They are a direct target given at the final destination, such as teenagers, and an indirect target given to agents of change who are active in the on going literacy movement. PELITA magazine editorial is the right target to be supplied with the ability to become creative producer that is more critical in voicing "teen voice" by publishing a magazine that reflects the reality in accordance with their needs. Therefore, the PELITA magazine is able to actively become a sustainable agent of media literacy programs in creating teenagers to be literate and creative. Moreover, it can also be a "healthy" media.

Kata Kunci : Literasi Media, Kreativitas, Kognitif, Remaja, Media Literacy, Creativity, Cognitive, Teenagers.